Kucoba kuatkan diriku dengan berkata pada hatiku, mencoba menasehatinya membuatnya mengerti.
Inti dari hidup ini adalah berani menerima kenyataan, hey Ghie terimalah takdirmu, berhentilah menjadi pengecut, buka matamu, hadapi semuanya! Terimalah! Dante dan kamu memang terlihat sempurna bila bersama, itu kenapapenyebabnya karena adanya ikatan darah yang membuat kalian nyaris serupa! Kenapa kamu tak menyadarinya Ghie! terlintas pikiran gilaku lagi, ingin sekali kusayat-sayat tubuhku saat ini, tapi entah mengapa pelukan hangan Gavner menenangkanku.
Lihat sisi terangnya gadis bodoh! teriak otakku!Apa lagi yang kamu cari Dengan begini maka takkan bisa bagimu untuk menghianati Gavner, dengan begini kamu hanya akan mengorbankan hatimu tanpa perlu mengorbankan hati orang lain!Air mataku semakin merebak Kamu tau siapa dirimu anak manja si penanggung derita! Harusnya kamu hanya perlu terbiasa, anggaplah ini cuma sesuatu yang hars coba kamu pahami, hidup kadang tidak ramah, mencoba bertahan sekarang atau memilih melukai diri lagi Sebuah godaan melintas diotakku, haruskah aku melepaskan pelukan hangat ini dan berlari kegelapan kamarku, mengasihani diriku lebih dalam lagi di lantai dingin dengan merasakan pedihnya sayatan tajam menyentuh kulitku, aku ingin lagi melihat indahnya darah, ingin lagi merasakan nikmatnya kesakitan. Tapi kali ini ketenangan pelukanlah yang kuinginkan, aku tertidur dalam dekapan hangat penuh cinta itu.
***
Hey Ghie Gavner menyapaku dengan senyum manisnya, semalam dia tidur di sofa dan membiarkan aku menguasai tempat tidurnya. feel better
Aku mengangguk, entah untuk menyakini diriku bahwa aku belum mati dengan bergerak atau itulah jawabanku untuk pertanyaan Gavner.
Kalo udah siap untuk berbagi, kamu boleh datangi aku untuk menceritakan semuanya dia melihat jam tangannya. Well, terlalu telat untuk ke sekolah, bolos sehari kayaknya masih bisa ditoleransi dan Gavner berlalu, keluar untuk merasakan matahari. Sayang sekali hari ini, aku telat untuk menyapa sang matahari. Dia bicara lagi dari balkon luar dengan suara yang dikeraskan, setengah berteriak, agar aku bisa mendengarnya, aku memang mendengarnya, tapi tak kutanggapi, rasanya dia mencoba untuk membuatku bersikap layaknya manusia.
Nanny, masih menikmati liburannya kurasa, dia belum kembali, Eve sekarang berada di sekolah, aku butuh teman untuk berbicara, dan seharusnya aku tak mengatakan ini pada Gavner, mengetahui bahwa Dante adalah saudaraku dan tak ingin mengakui realita dengan bersedih sedemikian hebatnya, hanya akan membuat Gavner merasa bahwa sebenarnya aku masih mencintai Dante, tapi aku tak punya pilihan lain, mungkin aku memang harus menceritakan padanya. Aku perlu waktu, mungkin aku perlu berbaring dulu dan menunggu. ***
Hal terberat adalah menucapkan selamat tinggal padahal kamu sedang jatuh cinta. Kalimat Gavner menyentakku, membuatku bangkit dari pembaringanku, Kamu masih sayang kan sama Dante dan nggak pengen ngelepasin dia Harusnya kamu menikmati pesta semalam, aku membiarkanmu pergi menemuinya untuk membuatmubahagia, aku tak tau bahwa yang kulakukan justru memnuatmu sedih, kamu berjuang untuk mencoba mencintai aku, tapi di sisi lain kamu juga berjuang untuk mencoba merelakan perasaan sayangmu pada Dante, maafkan keegoisanku, maafkan kesalahanku, aku merasa bersalah untuk semua air mata yang telah kamu tumpahkan.
Gavner berbicara dengan nada yang membuatku sedih, ini bukan kesalahannya, dia bahkan tak mau memandang wajahku, dia menatap keluar jendela, dari belakang kupeluk dirinya dan lagi-lagi aku menangis, Gavner mengelus tanganku yang memeluknya.
Boleh cerita..
Apapun Ghie
Mecintai Dante adalah kesalahan terbesarku, ini bukan karena aku berat untuk mencintainya, ini bukan masalah kayak gituaku nyaris tak bisa menyelesaikan kalimatku karena tenggorokanku terasa tercekat dan airmata membanjir lagi. Ini rasa bersalah yang tak termaafkan salah satu alasan kepergian mama.Aku terisak lagi, lebih dalam dan terasa lebih perih, Gavner berbalik dan memelukku, lalu mencium puncak kepalaku berkali-kali, dia menepuk-nepuk bahuku.
Semuanya hanya terlihat menyakitkan ketika kamu mengalaminya, dan akan terasa lebih mudah setelah waktu mengikisnya, time always kills the pain.
Nggak bisa menghapus sesal ini, nggak mungkin menghapus dosa ini kataku dalam nada tinggi karena emosiku memaksaku untuk berontak, kali ini Gavner tersentak, dia mencengkram bahuku erat, dia menatap mataku, aku hanya mampu melihat wajahnya dalam buram lewat sela airmata, tak ingin Gavner mengira-ngira maka kukatakan segalanya. Dante itu saudaraku, ayah kami adalah pria yang sama rasanya berat ketika kata itu akan kukeluarkan tapi terasa lega sekarang, aku membenamkan diri lagi dalam pelukannya.
Ghieketidaktahuan itulah yang membuatnya menjadi keliru, seandainya kamu tau takkan mungkin untuk kamu membuat kesalahan ini, segalanyabegitu berat, tapi lihat sisi positifnya, kehilangan dia sebagai hmmm orang yang kamu sayang sebagai mantan pacar, dan kamu dapatkan dia sebagai seorang saudara, Tuhan begitu baik, kadang kita kehilangan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu, berhentilah merasa bersalah, hmmmtersenyumlah untuk aku. Dan Gavner mencubit kedua pipiku dengan lembut hingga membentuk senyuman. Berbahagialah untuk yang kamu dapatkan, dan hentikan kesedihan untuk kehilangan, aku menyayangimu. Dan sekali lagi Gavner memberikanku sebuah kecupan manis di kening. Gavner benar, ada hal-hal yang harus hilang untuk menggantikan hal yang akan didapatkan, aku akan berbahagia untuk yang kudapatkan, dan hentikan kehilangan untuk kesedihan, kata-katanya bahkan terdengar sangat menyejukkan tak pernah kurasa sedamai ini, bila aku mendapatan rasa ini lebih awal, maka takkan pernah bagi kulitku merasakan perih menyakitkan sayatan-sayatan yang hanya menyenangkan otak gilaku, aku berjanji, sekarang aku hanya akan berakal sehat, aku ingin berubah segala penderitaan hanya akan menjadi penderitaan yang takkan ada habisnya bila aku membiarkan diriku berkubang di dalamnya, sudah saatnya untuk keluar dari lubang perih yang kuciptakan sendiri.