bergantian. Salah satu membaca, sementara lainnya menyimak.
Biasanya, ketika di Cirebon, saya sempatkan diri memberi kultum atau motivasi untuk semuanya. Pagi tadi, saya mencuplik kisah Uwais AlQarni, seorang pemuda miskin dari Yaman yang karena kehebatan amalnya mampu menggetarkan langit dan membuat kagum para malaikat. Dia juga disebut Rasulullah di depan Umar bin Khathab dan Ali bin Abi Thalib agar mereka mencari dan meminta didoakannya. Karena, apa yang menjadi doa Uwais, pasti dikabulkan Allah. Gerangan apa yang membuat Uwais Al-Qarni begitu terkenal di langit dan disayang Allah
Pekerjaan Uwais Al-Qarni adalah menggembala kambing. Suatu hari, dia berpamitan pada ibunya yang sudah tua dan lumpuh untuk pergi ke pasar. Rupanya, dia membeli seekor anak lembu. Anehnya, anak lembu tersebut digendongnya dari pasar sampai ke rumahnya.
Lebih aneh lagi, setiap sore, Uwais Al-Qarni melakukan hal sama dari rumah sampai ke atas bukit. Sesampainya di atas bukit, dibawanya kembali ke rumahnya.
Demikian dia lakukan terus menerus hingga 8 bulan lamanya. Uwais sudah menjelma menjadi seorang pemuda yang sangat kuat badannya.
Suatu hari, dia menemui ibunya dan berkata, Ibu, ayo aku antarkan Ibu pergi haji ke Makkah.
Ibunya menjawab, Bagaimana kita akan pergi ke Makkah, Nak Kita tidak punya unta untuk membawa perbekalan selama perjalanan, selama tinggal di Makkah, dan pulangnya.
Apa jawab Uwais Dia menjawab, Ibu akan aku gendong di depan, dan semua bekal akan aku gendong di belakang.
Subhanallah. Sebegitu hebatnya Uwais dalam berjuang demi bisa berhaji bersama ibu yang sangat dicintainya.
Tidak aneh kalau semua malaikat di langit kagum kepadanya. Tidak aneh juga, kalau setiap langkah kaki Uwais dari Yaman ke Makkah yang berjarak tidak kurang dari 600 kilometer itu mampu menggetarkan langit.
Dan pantas pula jika semua yang diminta Uwais Al-Qarni pasti dikabulkan Allah. Uwais cermin seorang anak yang sangat berbakti kepada orangtuanya. Dia rela melakukan hal yang oleh orang lain tidak masuk akal.
Saya mengajak semuanya untuk berjuang sungguh-sungguh, meniru apa yang telah dicontohkan Uwais. Sudah pasti tidak mungkin bisa menyamai apa yang telah dilakukannya. Namun setidaknya, bisa meniru dengan cara lain.
90
Sungguh merupakan karunia yang amat besar jika saat ini kita punya bapak dan ibu. Berarti masih diberi kesempatan yang luas untuk berbakti kepada keduanya. Buatlah beliau selalu ridha. Dengan ridha orangtua kepada kita maka ridha Allah pun sudah pasti kita dapat.
Contoh lain yang bisa ditiru adalah usaha Uwais untuk pergi haji. Sekitar 600 kilometer dari Yaman ke Makkah bukanlah jarak yang dekat. Melebihi jarak dari Solo ke Jakarta. Jangan bayangkan jalanan sudah rata dan bagus seperti sekarang. Jazirah Arab dipenuhi dengan padang pasir yang amat panas jika di siang hari dan begitu dingin menusuk tulang di malam hari.
Bagaimana dengan usaha kita, agar bisa pergi haji ke Tanah Suci dengan berbagai kemudahan di zaman sekarang ini
05 Maret 2014