ketidaktertarikannya padaku selama ini, tapi paling tidak dia ada di dekatku walaupun tak pernah menatap mataku. Kenapa setiap apa yang kutau mengenai Papaku selalu saja membuatku membencinyaaku ingin punya satu alasan untuk bisa mencintainya Akupun menangis lagi.
Gavner memelukku dan mengusap rambutku, sesekali dia mengecup puncak kepalaku dengan sayang, sebelumnya aku tak pernah memahami bahwa seandainya aku pernah memiliki keajaiban yang bisa diberikan oleh sebuah pelukan hangat yang mendamaikan seperti ini, maka takkan pernah bagiku untuk merasakan keinginan melakukan hal segila melukai diri sendiri.
Kamu tau Ghie setiap orang memiliki luka,dan ada sejenis luka yang tak tersembuhkan, bukan karena luka itu begitu menyakitkan, tapi karena seseorang itu memang tak ingin menyembuhkan lukanya, dia menikmati lukanya, sedihnya, kesakitannya, ingin terus merasakannya, hanya agar kenangannya tak pernah hilang.
Kadang aku merasa aku agak sakit jiwa bisikku lirih.
Memangnya di dunia ini siapa yang benar-benar waras Nggak ada Ghie! Setiap orang punya sisi gila, kewarasan hanya soal bagaimana kamu bertindak seharusnya sesuai dengan aturan, tapi aku tau bahwa kadang-kadang kita juga perlu sedikit mengacaukan hidup kita, kadang kita harus keluar dari zona nyaman untuk mencari sebuah resiko, hidup tanpa resiko bukanlah hidup, dan hidup tanpa ujian yang menyakitkan tak layak disebut hidup, seberapapun ujian hidupmu terasa menyakitkan, seharusnya itu membuatmu semakin tangguh, bukan malah melemahkanmu.
Rasanya aku tak pernah bahagia
Apa arti sebuah kebahagiaan Kebahagiaan bukan tentang kesempurnaan, kebahagiaan bukan tentang seberapa banyak yang kamu punya, kebahagiaan adalah rasa syukur tentang apa yang kamu miliki bukannya malah menangisi yang tidak kamu miliki, kebahagiaan adalah ketika merasakan hangatnya matahari menyentuh kulitmu, kebahagiaan adalah ketika kamu bisa menikmati indahnya bintang-bintang, kebahagiaan adalah masih adanya kepercayaan tentang kehidupan.
Kata-kata Gavner membuka mataku, seorang yang tak pernah kuduga bisa menyadarkan aku, aku menatap wajahnya, kulihat lagi sorot matanya yang sarat akan kesedihan, sorot mata yang sama seperti yang kumiliki.
Ghie, jika kita bicara tentang kesedihan dan penderitaan, aku dan kamu nyaris memiliki kesedihan dan penderitaan yang lebih daripada dirasakan orang lain aku menatap matanya yang mulai berkaca-kaca. Tapi yang kutau, kita bisa saja menderita seorang diri, dan diperlukan setidaknya dua orang untuk bisa berbahagia, kita saling memiliki sekarang, jika kita memang tidak memiliki kebahagiaan selama ini, sepertinya kita harus mulai dari sekarang,bila bahagia itu belum juga mau datang, marilah kita berpura-pura untuk bahagia.
Aku mengangguk.
***
Menjelang malam, aku dan Gavner memutuskan untuk mencari Dante ke sekolah, dan benar saja dia sedang menyiksa dirinya di lapangan basket, hanya sendiri di tengah lapangan sepi, latihan begitu keras, dia terlalu memaksakan diri, dia membuat dirinya begitu kelelahan, tapi aku tau, apa yang dilakukannya pada bola orange itu adalah untuk membuatnya tenang, menghempaskan bola itu dengan kasar, melemparinya, dan berkali-kali dia gagal memasukkan bola yang biasanya dengan begitu mudah bisa dimasukkannya ke dalam ring, dari bangku penonton aku dan Gavner hanya menatapnya, sepertinya Dante belum menyadari kehadiran kami, setelah setengah jam berlalu dan tampaknya dia begitu kelelahan, dia menghempaskan bola malang itu dengan sangat keras, lalu berteriak dan membaringkan diri di lapangan, dia terlihat sangat frustasi. Gavner memintaku pergi untuk menemuinya, dan aku melakukannya.
Dante terlentang, dan lengannya menutup matanya, dia tertidur atau dia hanya keletihan, entahlah, aku telah berada di dekatnya, kulihat ke arah bangku penonton dan melihat ke tempat seharusnya Gavner berda, dia telah pergi, mungkin dia hanya ingin aku berbicara berdua saja dengan Dante.
Heysapaku pelan, Dante menganggkat lengannya dari wajahnya, mengerjapkan matanya beberapa kali dan memasang ekspresi yang membingungkan, aku tak bisa menjelaskan mimic muka yang ditunjukkan Dante, aku merindukan wajah khas Dante yang sangat kukenal, wajah bandel dengan cengiran jail dan mata penuh keceriaan.
Hey dia bangkit dan duduk bersila, akupun melakukan hal yang sama duduk bersila disampingnya, aku hanya ingin bicara, tapi ragu-ragu, tak tau harus memulainya dari mana.
Latihan yang berat ya
Bakal ada kompetisi bulan depan
Jangan terlalu paksa diri ya
Ghieokay, thanks
Lama kami berdiam diri, dan tak ada yang ingin memulai untuk bicara lagi, tapi Gavner telah mengingatkanku, bahwa sebuah keharusan untuk memperbaiki keadaan ini, bila Dante tak bisa memulainya, mungkin akulah yang harus berusaha.
Boleh manggil kamu dengan sebutankakak, sekarang aku menangis ketika aku mengucapkan permintaan yang terasa berat itu, seandainya bisa menolak takdir, tapi itu takkan mungkin. Kulihat Dantepun menangis, tapi dia menggenggam tanganku.
Seandainya bisa nolak Ghie hanya itu yang bisa dikatakannya, lalu dia mengusap kepalaku dan berlalu.