Aku Cukup Menulis Puisi, Masihkah Kau Bersedih - 32
Aku sebenarnya tak pernah rela, membiarkan tubuhmu dipeluk musim kemarau. Debu-debu beterbangan bermimpi menjadi burung, mengepakkan sayap, menanti

cahaya lindap. Seringkali aku gagal mendekap bayangan yang bosan berjalan di belakang. Kupandangi dia, tak ada balasan: Hidup seperti bertepuk sebelah tangan.

Aini, aku tak ingin terbakar

keputusasaan mengingat hujan terakhir yang kulihat mungkin tangismu. (2011)

Intermezzo, I

ketika aku kembali, kata-kata telah punah kita mulai lagi berisyarat dengan jari dan air mata jika suatu hari, ada yang lebih baik dari bahasa bisu bangunkanlah aku dari tidur panjang bernama hidup