MEMORIA - 32
Kumaknai kabut yang mengembun di matamu

Seperti mekar doa dalam bahasa cinta

Dan angin menggoyangkan tangkainya

Agar aromanya mekar di sekujur tubuhmu.

Sebaris cerita belum cukup menjelaskannya

Betapa rindu terlalu panjang untuk dikekalkan

Tapi kabut itu terus mengembunkan tanya

Berapa banyak lagi bait doa harus dimekarkan

Jika cinta hanya bisa dipahami penantian,

Maka doa ini mekar bersama sunyi yang rindu.

Kau pun berdiam di antara dahaga dan kebisuan

Meski harapan selalu datang menawarkan madu.

Tapi sebelum kabut itu mengembun di matamu,

Cintaku menjelma kesungguhan yang tak pernah semu!

(Naimata, Oktober 2009)