Seperti mekar doa dalam bahasa cinta
Dan angin menggoyangkan tangkainya
Agar aromanya mekar di sekujur tubuhmu.
Sebaris cerita belum cukup menjelaskannya
Betapa rindu terlalu panjang untuk dikekalkan
Tapi kabut itu terus mengembunkan tanya
Berapa banyak lagi bait doa harus dimekarkan
Jika cinta hanya bisa dipahami penantian,
Maka doa ini mekar bersama sunyi yang rindu.
Kau pun berdiam di antara dahaga dan kebisuan
Meski harapan selalu datang menawarkan madu.
Tapi sebelum kabut itu mengembun di matamu,
Cintaku menjelma kesungguhan yang tak pernah semu!
(Naimata, Oktober 2009)