YANG TERUCAP YANG TERTULIS - 32
Alhamdulillah, ternyata beliau ada di rumah. Tidak mudah untuk bertemu beliau tanpa janjian terlebih dahulu. Maklum beliau banyak agenda di luar, selain mengasuh 60 anak yatim dan tidak mampu di pesantrennya. Saya banyak mendapat nasihat setiap kali bertemu Kyai Mukhlis, demikian saya biasa memanggil beliau.

Satu hal yang saya sukai dari Kyai Mukhlis adalah sosoknya yang ramah. Kalau berbicara, intonasi suaranya rendah. Nyaman sekali didengar di telinga. Perkembangan pesantrennya maju. Saat ini, sedang dibangun 4 kelas dengan 2 lantai untuk madrasah.

Semua bahan bangunan tidak ada yang membeli. Batu bata, pasir, semen, dan besi cor datang dengan sendiri. Ada saja yang mengirim. Dalam hati saya membatin, beginilah kalau jadi orang yang berilmu. Allah akan mengangkat derajatnya dan membuat mudah segala urusannya.

Saya diterima di ruang tamu rumahnya yang selalu adem, walau tanpa AC. Pada saat berbincang, saya tanyakan satu hal tentang keutamaan orang berilmu.

Kyai, apa benar keutamaan orang berilmu dibanding dengan ahli ibad ah namun kurang ilmu itu laksana bulan dengan bintang tanya saya.

Beliau menjawab, Benar, Pak. Bahkan tidurnya orang berilmu itu lebih utama dari pada sholatnya orang awam.

Kyai Mukhlis lantas bercerita.

Suatu hari, ketika hendak memasuki masjid, Rasulullah SAW melihat iblis sedang berada di pintu masjid. Iblis itu tampak gusar dan ragu antara masuk masjid dan tidak.

Rasulullah SAW pun bertanya, Wahai, Iblis. Apa yang sedang kaulakukan di sini tanya Rasulullah SAW.

Aku hendak masuk masjid dan merusak shalatnya orang itu. Tetapi aku merasa takut terhadap orang yang sedang tidur di situ, kata Iblis sambil menunjuk orang yang sedang tertidur di masjid.

Rasulullah SAW bertanya lagi, Mengapa engkau takut terhadap orang yang sedang tidur dan tidak mengganggu orang yang sedang shalat itu

Iblis tak dapat menyembunyikan rahasia di hadapan Rasulullah SAW.

Ia pun dengan gamblang menguraikan alasannya.

Ya Rasulullah, orang yang sedang shalat tersebut adalah orang yang bodoh. Ia tidak tahu syarat rukunnya shalat dan tidak bisa shalat dengan khusyuk. Sedangkan orang yang sedang tidur itu adalah orang yang pintar maka jika aku mengganggu shalatnya orang bodoh itu, aku khawatir, dia akan membangunkan orang yang sedang tidur itu dan kemudian minta diajari dan dibetulkan shalatnya, jelas Iblis ketakutan.

Satu kisah yang pas mengenai saya sebagai orang yang bodoh. Tepat pukul 09.45 saya berpamitan dan saya menantikan nasihat-nasihat Kyai Mukhlis selanjutnya.

18 Maret 2014