segelas minuman
malam mengabut di matamu
seperti biasa kau duduk di muka rumah
menatap cahaya tenggelam
ke mata silammu yang lusuh
dan sebab airmata telah lunas oleh kegagalan.
di seberang jalan, bising kendaraan pecah
mengabur pada sekeping bulan yang rontok cahayanya
serupa jarum jahit menyulam rasa sakit.
kau seduh kembali,
jam sudah tak terbilang
hilang segala lepas pandang
yang terbuang biar hangus terpanggang.
suara tanpa kata-kata
luntur warna putih semata
tinggal dengkur mimpi panjang
tak surut juga malam membilang
angin tiba-tiba terhenti
di matamu
tak kau sebut nama-nama siapa bertamu
kau habiskan minuman
dan pergi meninggalkan sesuatu yang kau sebut masa lalu
dari siapa saja yang pernah mengetuk pintu.