THE HALF BLOOD PRINCESS - 33
Menurut Gavner tak ada salahnya untukku mengunjungi makam Ayahku, walaupun hari sudah malam, dan rasanya cukup mencekam ketika aku memasuki kompleks pekuburan, ini bukan masalah ketakutan akan hantu atau semacamnya, buatku ini masalah jiwa-jiwa yang terkubur di bawah sana, Gavner sebenarnya ingin menemaniku, tapi ketika melihat dari kejauhan ada sosok Dante berada di sana Gavner memilih untuk menunggu di mobil saja.

Dante berpura-pura tak menyadari kedatanganku, sampai aku menyapanya dan dia tak bisa berpura-pura lagi.

Aku nggak tau, ternyata kuburanku dan kuburan Papa berdampingan yah aku yakin Dante masih mengingatnya, hari dimana dia mengajakku mengubur sebuah boneka Barbie yang dia lambangkan sebagai diriku yang lama, kuburan si Barbie berada di samping kuburan orang yang menyumbang sebagian dari dirinya dalam darahku.

Dante menatapku, datar, tanpa kata-kata, tanpa ekspresi, mungkin hal ini jauh lebih berat untuk diterimanya, aku juga berat menghadapi kenyataan ini, tapi tak ada yang bisa kami lakukan kecuali hanya bisa menerimanya, suka atau tidak suka.

Ghieini salah siapa aku tak pernah menyangka suara pelan bergetar datang dari bibir yang biasanya penuh canda ceria.

Bukan siapa-siapa

Dia membenamkan kepalanya di lututnya, kelihatan sekali dia sangat frustasi dengan keadaan ini.

Apa yang harus kita lakukan Ghie katanya lagi, sangat lirih.

Nggak ada, kecuali menerima kenyataan

Ghie dia mentapku, matanya memerah, seperti menahan tangis dan marah disaat bersamaan. Gue nyoba Ghie, nyoba untuk maafin diaDante menyentuh nisan dingin, seolaholah itu adalah kepala ayah kami. Tapi gue nggak bisa Dante terisak, air matanya tumpah, setelah sekuat tenaga dia mencoba untuk menahannya. Rasanya berdosa ketika kamu membenci orang yang seharusnya kamu sayangi, yang kamu cintai, seseorang yang harusnya kamu hormati, tapi ketika kamu semakin tak memiliki alasan untuk berbuat yang seharusnya, apa yang bisa kamu lakukandia memeluk kedua lututnya seolah itu bisa menguatkannya, ingin kupeluk dia, tapi aku tak tau bagaimana caranya untuk memeluknya sebagai seorang saudara.Lima tahun, ketika aku mulai mengerti, ketika aku memiliki naluri untuk melindungi tapi aku tak cukup kuat mengganti sakit disekujur tubuh mamaku, yang kulakukan hanyalah memeluknya dan menghapus air matanya, aku masih ingat dengan jelas, ketika Papa kehilangan akal sehatnya, ketika mulutnya mengeluarkan makian kasar, Lola dan aku hanya akan berpelukan erat di sudut kamar, dan mama juga menangis menahan sakit dan perih di hati juga diberbagai tempat disekujur tubuhnya yang bisa disakiti Papa, kami pikir meninggalkannya akan membuatnya berubah, tanpa kami ternyata dia semakin parah, kamu tak pernah tau bagaimana rasanya ketika kamu memiliki tapi tanpa sebuah fungsi, lebih baik jika kamu tak pernah memilikinya Ghie. Dante benar-benar meratapi kesedihan masa lalunya.

Terlalu banyak jiwa yang disakitinyaaku menatap langt, mencoba menahan air mataku yang akan tumpah, mungkin aku memang harus menumpahkannya, aku menyerah pada akhirnya.

Ada rasa trauma disini Ghie dia menyentuh bagian dimana jantungnya berada kenangan buruk itu selalu menghantui malam-malamku, ada ketakutan seorang anak kecil, ada dendam seorang remaja, ada perih dan penyesalan untuk masa lalu yang tak bisa tersentuh, yang hanya bisa menciptakan kesedihan mendalam untuk hari ini.

Seenggaknya kamu pernah memilikinya, bagaimanapun juga beliau Papa kita, tanpanya kita takkan pernah ada. Hanya itu yang bisa kukatakan.

Bila begini keadaannnya.Ghie, aku bahkan tak minta dilahirkan! Dante berkata dalam nada marah, rasanya seperti bukan dirinya.

Danteliat apa yang kamu dapatkan sekarang, keluarga yang bahagia, kamu memilikinya Aku mencoba mengingatkan keberuntungan yang dimilikinya, aku menghapus air mataku dan tersenyum untuk meyakinkannya, ia menggeleng-gelengkan kepalanya.Dante kamu tau, mungkin ini yang terbaik, mungkin kita hanya perlu mengubah sedikit rasa ini, Dante sayangi aku sebagai adikmu, pleaseaku bahkan nggak punya siapa-siapa lagi tanpa kuduga aku menumpahkan lagi air mataku, kurasakan perih itu lagi mengingat aku bahkan tak pernah tau bagaimana rasanya memiliki cinta dari kedua orang tua, dan sekarang aku memiliki seorang saudara, bukankah aku hanya meminta sedikit saja, tolong berikanlah sedikit cinta dari keluarga sedarah.

Dan kali ini Dante memelukku, pelukannya terasa berbeda, tak lagi membuatku bergetar atau jantungku berdegup kencang, rasanya hangat dan terasa akrab, seperti selimut hangat dari masa kecilku.

Kita coba untuk memaafkannya yapintaku

Semoga aku bisaudah terlalu malam Ghie.. waktunya pulang

Setelah itu, aku menyentuh nisan dingin itu, berharap dia yang di dalam sana merasakan sentuhan dari putri yang tak pernah dikenalnya, kucoba membayangkan itu kulitnya, tapi aku hanya merasakan benda mati yang beku, kutinggalkan seikat bunga Lily putih di sana, lalu melangkah bergandengan dengan orang yang dulunya kekasihku, tapi secara cepat berubah arti dan posisi menjadi seorang saudara yang kini memiliki ikatan darah, setelah sampai di pintu mobil, dia mengusap rambutku dan berbicara pada Gavner.

Tolong jaga ade gueentah mengapa kalimat itu membuat air mataku menetes lagi.