Menunggu matahari meniupkan lagi angin pagi
Setelah pekat menggemuruh di dada malam.
Antara keremangan itu kau berdiam;
Setangkai puisi yang tumbuh bersama doa
Di antara rinduku yang kian meranggas.
Musim masih saja gemetar dalam nyanyi waktu,
Berkisar tentang gundah dan penantian.
Maka kutanam lagi setangkai puisi.
Tapi di antara bait kenangan dan harapan,
Air matamu menjelma kata penghubung
Yang tak mampu lagi kuhapus.
(Naimata, Oktober 2009)