YANG TERUCAP YANG TERTULIS - 33
Dalam seminggu belakangan ini saya baru terkena penyakit malas. Malas menulis dan malas membaca. Padahal, saya masih punya beberapa buku bagus yang belum sempat saya baca. Saya juga punya banyak materi yang bisa ditulis. Saya sudah mencoba untuk mencari penyebabnya, dan akhirnya tidak ketemu juga.

Apa karena saya tergoda dengan banyak menonton TV Jawabnya, tidak. Hanya tayangan sepakbola Liga Champion dan Liga Inggris saja yang mampu menggoda saya.

Jangan-jangan, lesu karena tim kesayangan saya, Chelsea, kalah. Tidak juga. Chelsea sekarang malah masuk Perempat Final Liga Champion. Pada Liga Inggris, Chelsea baru saja menggulung Arsenal 6 gol tanpa balas.

Hari Kamis lalu, Alhamdulillah saya memulai sesuatu hal yang baru. Sesuatu yang juga sudah menjadi impian anak saya, Wening, untuk

Ibadah Itu Gampang

punya kegiatan itu, yakni Rumah Tahfid Quran. Sebenarnya rencana ini sudah cukup lama, namun baru sekarang bisa mewujudkannya.

Saya melihat ada peluang bagus untuk digarap, yakni anak-anak yang sudah menyelesaikan Taman Pendidikan Al-Quran. Artinya, mereka sudah bisa membaca Al-Quran dengan lancar, namun setelah itu, tidak punya kegiatan.

Saya punya keinginan untuk mewadahi mereka dengan menyediakan tempat, guru, dan sarana prasarananya. Saya pengin mereka bisa melanjutkan ke jenjang lebih tinggi lagi, yakni bisa menghapal Al-Quran.

Sayang sekali kalau hanya berhenti pada sebatas bisa membaca AlQuran, walaupun itu juga sudah bagus.

95

Tidak disangka, berbekal selembar undangan, anak-anak langsung datang. Jumlahnya tidak sedikit, yakni 15 anak. Semuanya perempuan. Kebanyakan, mereka masih kelas 5 dan 6 SD. Hari kedua bertambah lagi menjadi 24 anak. Dan terus bertambah menjadi 34 anak. Semua itu belum termasuk anak laki-laki yang segera menyusul.

Ya Allah, ternyata sambutan anak-anak dan orangtuanya, luar biasa.

Saya bertekad menjadikan Rumah Tahfid Quran, proyek yang berhasil. Berhasil artinya tidak putus di tengah jalan, baik itu santri maupun ustadnya. Syaratnya, tim yang saya punya harus solid, terutama ustad pembimbing dan pendanaannya.

Untuk ustad saya serahkan kepda Ustad Karim yang memang ahlinya. Dia harus bisa membentuk tim pengasuh yang mampu memberikan bimbingan terbaik kepada anak-anak yang belajar. Saya akan berkonsentrasi pada pendanaan. Hal nomor dua ini juga tidak kalah penting. Saya harus memastikan bahwa para ustad terjamin kesejahteraannya. Santri harus kerasan dan terpelihara apa yang menjadi kebutuhannya.