di sinilah kami membangun rumah dari daun
dari harapan-harapan yang tumbuh di hutan
dari kecemasan-kecemasan
dan dari ketakutan-ketakutan.
kami ceritakan
kisah anak-anak yang lahir dari pohon
penjaga malam di lereng bukit hutan
sebelum matahari menghapus ingatan.
kami pasang mata di daun-daun luruh
di tahun-tahun hati kami yang tak lagi utuh.
gemuruh yang terdengar jauh
dan kapal-kapal melempar sauh.
kau dengar, angin menghempas diri pada gelombang
nafas layar kami yang mengembang.
di laut, di laut,
hidup kami diburu maut.
maka, sebelum takut jadi mata intai serdadu
sebelum sempat kematian menyergap kalbu
kami bertolak ke hulu.
woi, inilah kami
dibesarkan meriam dan peluru
antara tebing pohonan dan laut biru.
inilah kami
ditanami cemas dan tangisan
dan tubuh kami lebat oleh penderitaan.
maka kami sembunyi
di balik airmata
dan rasa takut yang membahana.
woi, inilah tanah kami yang dirampas
ketika laut ribut perompak dan kapal akan hempas.
kami tujuh rupa
bertawar nyawa.
beri kami lepas di laut
agar hanyut segala takut
dan cadas jantung yang berdebam
ketika ketakutan beribu datang menikam.
najin akhong kuselom sapa niku
najin akhong kuselom sapa niku
najin akhong kuselom sapa niku
mati niku
mati niku
mati niku penyanik khusuh.
(walaupun hitam kelam kuselami siapa kamu
mati kamu
mati kamu
mati kamu pembuat rusuh).