Aku Cukup Menulis Puisi, Masihkah Kau Bersedih - 34
sudah tak terdengar lamunanmu tentang kapal-kapal yang gagal bersandar di dermaga

karena lumba-lumba yang biasa berkumpul karena sarden dan tuna

mendadak terdampar di dekatmu

tak ada botol berisi surat yang bercerita tentang sebuah kesekaratan rindu yang mendadak maut

menjadi hal paling dekat

dan masa lalu seperti siluet puncak rinjani yang angkuh menjulang, dingin

kau pandang dari bibir pulau

padahal teramat jauh dan tinggi bila benar harus menyeberang

dan mendaki

hanya demi sebuah pesan

betapa benar lelah dalam sendiri