disember, lemas dada tanah seberang berebut-rebut
menggelinchir kedalam mataku yang chemas.
ya, tak siapa dengar engkau dan anakbinimu:
siangmalam ditampar ombak puaka, lantas
dilarikan ribut laknat. saudara, tiapkali gema jeritmu
menerawang angkasa seberang, kusambut
ia dengan airmata kian menderas
lesu perahu tertambat dipantai ungu, kutau,
lesu lagi jiwamu terikat dirantai ilu.
langkahmu yang lambat dan gontai kini kulihat sudah.
ya, tak siapa hirau engkau dan nasibmu:
pagipetang dilontar kepunchak derita, lantas
terkapar dipasir puchat. pelaut, tiapkali tempik
lolongmu menerajang udara seberang
kusambut ia dengan dada kian tenat
laut tak biru lagi di seberang takir,
ikan2 sudah jemu bermain dipesisirnya dan engkau
tenggelam didalam hibarayumu. suaramu yang
resahsayu kini direnggut rebut. ya, tak siapa peduli
suara itu: terus menerus diperkosa angin jahat.
saudara dan para pelaut, seluruh airmata,
sedansedu dan resahgelisahmu kini kuukur ia tiap inchinya
1969