Dosa kami meremangi terang cahaya-Mu.
Tumpahkan rahmat pada cangkir kami lagi,
Berbait ampun Kaulimpahkan lewat rahmat-Mu.
Meskipun jika di ujung tombak maaf-Mu
Kautancapkan tulah menikam lambung kami,
Darah lambung kami pekat membasahi tanah-Mu.
Semoga luka membuat bunga doa kami bersemi.
Karena waktu adalah rahmat-Mu yang luhur,
Kami untai doa seperti saat getar matahari
Meniupkan napas harapan di jantung Januari.
Semoga di depan pintu-Mu kami tersungkur,
Untuk menelusup ke rahim pulang dan menangis
Atau sekadar mati seperti daun ditebas kemarau.
Kami nyanyikan tobat dari tengah belenggu parau.
Di depan pintu-Mu, tiada henti kami mengemis.
(Naimata, Desember 2009)