Aku Cukup Menulis Puisi, Masihkah Kau Bersedih - 36
i

aku akan rela bila harus tenggelam dalam cuka. kuah hitam

pekat dan kental lebih asam dari kehidupan

satu pipi kanan yang dihadiahi tamparan, ingin sekali dapat

membalas. tapi kau malah memberi pipi kiri. itu perbandingan

2:1 dalam adonan. biar lebih gurih, mengapung bila

matang

luka yang lahir karena cipratan minyak panas tidak lagi lepuh dan perih

mengingatmu saat-saat itu, yang bersemangat berburu bulan tahun kabisatsuara burung pungguk yang genit melihat perawan, itu pastilah lelaki tan bun ann

yang tak sabaran, melihat delapan guci emas hanya berisi banyak kecemasan

bahkan gundukan tanah yang tumbuh akibat terkuburnya cinta sepasang kekasih adalah alasan yang cukup untuk menumbuhkan pohon lain

yang berumur ribuan abad, yang daunnya rindang, berbuah lebat

pada itu, di atas sebuah rakit, aku akan rela bila harus tenggelam dalam sungai sakit yang sama

bahkan cuka

ii

seekor kilin tak akan berani mendekat rumahmu yang dicat merah, berbau amis darah

aku tidak tahu apa yang diangkut kue keranjang

barangkali butir pasir di pesisir sungai yang terkuras membuat musi semakin dangkal

lalu penyeberanganmu di dalam gelombang hanya bisa kuikuti dari sisi talud rumah limas tanpa pernah tahu mana ujung mana pangkal

maka ingin kunamakan aliran itu sebagai kita yang bertemu hanya demi mengenali cara berpisah iii

ketika kukunjungi jejakmu satu per satu tahun-tahun ganjil berbalik mengunjungiku malam

demi malam

mimpi panjang tentang api dan pecahan kaca berserakan, melukai telapak kaki

irisan sawi yang mengambang di sungai musi tidak kunjung terkenal sebagai kimchi

aku tak mengerti, bila nanti seseorang menggelar sajadah

di jendela atau di depan pintu rumah

berbondong-bondong orang datang tapi tak ada satu pun yang mengetuk pintu dan bertanya:

apakah pohon beringin di pulau kemaro itu benar-benar akan tumbuh selamanya