aku akan rela bila harus tenggelam dalam cuka. kuah hitam
pekat dan kental lebih asam dari kehidupan
satu pipi kanan yang dihadiahi tamparan, ingin sekali dapat
membalas. tapi kau malah memberi pipi kiri. itu perbandingan
2:1 dalam adonan. biar lebih gurih, mengapung bila
matang
luka yang lahir karena cipratan minyak panas tidak lagi lepuh dan perih
mengingatmu saat-saat itu, yang bersemangat berburu bulan tahun kabisatsuara burung pungguk yang genit melihat perawan, itu pastilah lelaki tan bun ann
yang tak sabaran, melihat delapan guci emas hanya berisi banyak kecemasan
bahkan gundukan tanah yang tumbuh akibat terkuburnya cinta sepasang kekasih adalah alasan yang cukup untuk menumbuhkan pohon lain
yang berumur ribuan abad, yang daunnya rindang, berbuah lebat
pada itu, di atas sebuah rakit, aku akan rela bila harus tenggelam dalam sungai sakit yang sama
bahkan cuka
ii
seekor kilin tak akan berani mendekat rumahmu yang dicat merah, berbau amis darah
aku tidak tahu apa yang diangkut kue keranjang
barangkali butir pasir di pesisir sungai yang terkuras membuat musi semakin dangkal
lalu penyeberanganmu di dalam gelombang hanya bisa kuikuti dari sisi talud rumah limas tanpa pernah tahu mana ujung mana pangkal
maka ingin kunamakan aliran itu sebagai kita yang bertemu hanya demi mengenali cara berpisah iii
ketika kukunjungi jejakmu satu per satu tahun-tahun ganjil berbalik mengunjungiku malam
demi malam
mimpi panjang tentang api dan pecahan kaca berserakan, melukai telapak kaki
irisan sawi yang mengambang di sungai musi tidak kunjung terkenal sebagai kimchi
aku tak mengerti, bila nanti seseorang menggelar sajadah
di jendela atau di depan pintu rumah
berbondong-bondong orang datang tapi tak ada satu pun yang mengetuk pintu dan bertanya:
apakah pohon beringin di pulau kemaro itu benar-benar akan tumbuh selamanya