Pantai kehilangan menyangsikan arah
Telah kita asah jejarum paling musykil
Kita letakkan kompas paling permata
Tatap mata yang menjadikan kita gerah
Dengan jiwa gembira rindu lekas dicungkil
Tak pernah kita tebak arah kedatangan
Bahkan dengan angin yang mengibar layar
Padahal pantai selalu menandai kepulangan
Sebelum mantra-mantra cinta lekas berkabar
Gundah paling rindu telah kita timang
Di dermagamukah pekayuanku getas
Cinta yang kita dekap senantiasa gamang
Lalu nyanyi apakah yang perlahan meretas
(Naimata, Desember 2009)