MELANKOLIA BISU - 36
Pernah sekali bila aku bangun pagi, Abah duduk di depan rumah, dia conteng pelangi.

Katanya nak buat peneduh hujan.

Dia buka meja dan bancuh kopi.

Kami duduk mengadap Matahari yang sedang naik. Awan makin laju.

Setiap kesakitan yang tak terasa tertimbul kemudian datang antara kami,

Abah kemudian sakit jantung dan mati.

Aku cuma pandang urat-urat di matanya yang kejang, matanya tertutup rapat, aku pandang diri aku, kemudian menghilang, aku tak ada, tak pernah ada, kemudian aku koyakkan, selerakkan Anubis palsu buatan orang.

Aku terus conteng dan berang, sebab aku nak bagitau dunia, bila Abah mati sakit jantung, urat matanya tegang, aku rindu dia, dan bagaimana dia mengacau kopi dan suakan pada aku.