Aku Cukup Menulis Puisi, Masihkah Kau Bersedih - 37
i

aku tak lagi bahagia sejak kau kabarkan setiap daun pada ranting itu akan jatuh bunga-bunga bungur yang bermekaran pada musimnya juga akan luruh bagaimana hatiku dapat tertawa, mulutku mengucapkan selamat, sementara semua orang mengabarkan akhirat mengapa ada kehidupan lain setelah satu kehidupan yang tidak pernah selesai kau utarakan dalam sajak dan esai apa kita tak berhak untuk istirah, lenyap

seperti daun-daun kering di halaman itu

kebahagiaan yang kucari telah diam-diam tercuri, aku manusia tanpa ciri iman yang lama kehilangan jawaban atas hidup

ii

siapapun boleh menangis, di ruang ini kita semua punya air mata dan segepok cerita tentang perang, hilangnya kemanusiaan anak-anak membawa senjata, menjual diri memperkosa, mengebiri cita-cita sajak-sajakmu atau sajak-sajakku yang dilemparkan jauh ke udara begitu mudahnya lenyap, tak berbekas kandungan sulfat yang tinggi di langit terkonsentrasinya freon di kutub utara siapa menyangka ozon akan berlubang

kita tak akan lagi membicarakan obat batuk atau kantuk karena darah menggantikan dahak, dan kita terpaksa terjaga dan berjaga dari setiap kematian yang bisa setiap saat mengenalkan dirinya

siapapun boleh menangis, di ruang ini kita semua punya air mata bahkan Tuhan

iii

kau pasti punya masa lalu pacar pertama yang menerima surat-surat, debar purba ketika cium mendarat di bibirmu kita yang sama tak pernah kembali untuk mengucapkan salam kenal atau sudah lama tak bertemu karena bosan, atau penasaran dengan kemungkinan lain yang kita tinggalkan kau tak akan bertanya pertemuan demi pertemuan yang rahasia karena rahasialah yang membuat kita begitu lelaki entah mana yang lebih jauh langit atau masa lalu itu tangan kita yang terkepal karena gagal meraih yang tak terjangkau kau atau aku....

iv

siapa pun akan menyesal telah kehilangan akal, tubuh terhuyung di jalanan beraspal. bukan sebutir peluru yang menembus jantung tapi luka bersarang di mana-mana duka tidak lagi menjadi bahan pokok yang diperbincangkan di televisi atau pun majalah; beginilah dunia sejak kau tinggalkan orang-orang yang lelah berteriak menunggu dan menunggu sebuah hal baik datang menyambangi rumah setiap malam, kalau bukan kota-kota yang diberangus, mahasiswa yang mati terbunuh gas air mata dan pemimpin yang tak memiliki kewelasan, kecuali keculasan untuk memenangi sebuah pemilihan padahal kita tak pernah memilih untuk hidup esok hari atau mati kemarin begitu pun dalam puisi-puisi yang tidak pernah kita pahami sebagai bentuk keabadian

v aku akan mengizinkanmu bertamu ke dalam mimpiku bila ada oleh-oleh

yang kau bawa dari negeri jauh

di sanalah tempat, kita kembali muda membicarakan segala hukum

dan kenyataan yang tiada pernah terduga

termasuk bila kita menjadi kekasih