kutemukan pagi yang menyinari hariku.
Tapi reremang matamu tetap menikamku
seperti gempur gerimis menghunjam pagi.
Jika bukan sembilu,
maka pastilah matamu itu api
yang menyebar ke segala penjuru
mata angin untuk menemukan aku.
Panas. Itulah yang menuntunku kepadamu.
Terima kasih telah mencintaiku.
(Naimata, Desember 2009)