YANG TERUCAP YANG TERTULIS - 37
Pagi tadi, saya mendatangi undangan di sekolah anak saya, Fathimah. Acara yang tertulis di undangan adalah Spiritual Building

Training. Acara ini diadakan sebagai persiapan anak kelas 5 yang akan tes kenaikan kelas dan kelas 6 yang sebentar lagi ujian.

Tepat pukul 08.30 acara dimulai. Kesan pertama yang saya tangkap kurang bagus. Bahkan saya menyayangkan lembaga training yang dipunyai sebuah penerbit buku ternama di Solo tersebut. Mengapa Karena, metode trainingnya sama persis dengan ESQ yang pernah saya ikuti 10 tahun lalu. Alur slide satu ke slide lainnya, sama. Hanya diganti dengan yang mirip-mirip aslinya. Kenapa tidak mencari ide sendiri yang original

Akhirnya, saya berusaha menjadi tamu undangan yang baik. Mencoba menikmati acara yang tersaji. Inti dari materi yang disampaikan adalah kunci sukses bagi anak-anak. Sukses tidak mungkin didapat dengan bermalas-malasan. Harus rajin dan pantang menyerah. Untuk menuju

Ibadah Itu Gampang

ke sana sedari dini harus dibiasakan untuk meninggalkan kebiasaan yang tidak baik.

Apa saja itu Setidaknya ada 3 jenis yang selama ini menjadi sumber kemalasan, yakni handphone, Playstation, dan televisi. Kalau tidak diatur dengan baik, ketiganya akan berakibat fatal bagi anak-anak.

Materi berlanjut dengan kunci sukses di masa mendatang. Kunci sukses pertama harus selalu ingat kepada Allah. Caranya Tidak boleh meninggalkan sholat. Kapan dan di mana saja, sholat bisa dilaksanakan. Kecualinya hanya satu, yakni ketika berhalangan bagi anak putri yang sudah mendapat haid.

107

Kunci sukses kedua adalah berbakti kepada kedua orangtua. Karena orangtualah yang mendidik dan membiayai semua kebutuhan anakanaknya. Trainer menampilkan video dari Malaysia yang mengisahkan dua anak bersaudara. Seorang buta sedangkan seorang lagi bisu. Kisah yang sangat menyentuh. Kedua bersaudara tersebut hendak pulang kampung karena sekolah liburan Hari Raya Idul Fitri.

Kurang beruntung karena semua tiket kereta dan bus telah habis, akhirnya demi pulang kampung, mereka menumpang truk. Saya tidak menduga, akhir dari cerita itu, mereka menuju sebuah makam. Ternyata, kedua orangtuanya telah meninggal dan mereka menziarahi keduanya ketika Hari Raya.

Trainer mengingatkan, Kalian sangat beruntung jika saat ini masih mempunyai orangtua, sehingga bisa berbakti. Segeralah berusaha untuk membahagiakannya. Sebelum semuanya terlambat.

Mengapa banyak anak yang suka bermalasan, bahkan tidak menurut kepada kedua orangtuanya Karena mereka terlalu percaya diri bahwa masih punya waktu, dan beranggapan, umur orangtuanya masih panjang.

108

Trainer lantas menjelaskan bahwa soal umur, hanya Allah yang tahu. Bisa jadi, suatu hari nanti, ketika anak-anak pulang sekolah, bapak dan ibu tidak di rumah. Hanya ada para tetangga. Tidak lama kemudian muncul mobil ambulans.

Sabar, ya, Nak. Bapak dan ibu kalian telah tiada, karena kecelakaan tadi pagi, kata salah satu tetangga.

Apakah kalian ingin seperti itu Terlambat dan menyesal selamalamanya tanya trainer.

Tidak terasa, mata saya jadi basah menyimak kisah tersebut. Demikian juga dengan anak-anak. Semua malah menangis keras. Kata-kata pengantar dari trainer berhasil membius mereka.

Dalam hitungan 3 kali, anak-anak diminta menemui orangtua masingmasing. Saya tidak menyangka anak saya menangis dengan histeris. Dia lari dan memeluk saya dengan erat. Kata maaf terucap dari bibirnya. Lama sekali dia menangis dalam pelukan saya. Saya pun terbawa, sehingga turut menangis.

Ya Allah, anakku yang terhitung paling bandel itu kini punya tekad untuk berubah. Dia akan tunjukkan bahwa suatu saat dia akan bisa membuat bangga kedua orangtuanya.

Dan subhanallah. Sore tadi, dengan sukarela dia telah memberikan handphone-nya yang selama ini jadi penyebab ia ogah-ogahan belajar.

Handphone yang selama ini banyak menyita waktu belajarnya.

Saya tidak menyangka akan mendapat hadiah yang luar biasa di hari yang penuh berkah ini. Terimakasih, Ya Allah. Hamba mohon Engkau jaga anak-anak hamba. Berilah kesempatan dan kemudahan bagi anakanakku untuk mewujudkan cita-citanya, ingin menjadi kebanggaan bagi orangtuanya. Amin.

10 Mei 2014