Aku Cukup Menulis Puisi, Masihkah Kau Bersedih - 38
pada akhirnya, kita akan sendiri setelah minerba disahkan dan piring-piring di meja makan yang selalu siap dihidang

tidak kunjung menghidang ayam taliwang

orang-orang akan kembali lupa menyebut di salah satu sudut menu aroma jeruk nipis, tumis bumbu halus dan terasi dulu pernah disebut negarakertagama

sebagai yang kelima

maka di bagian itu, hanya tersisa lubang

yang dalam dan panjang tempat dante mendaki neraka sebelum diusir tuhan

untuk bersalaman dengan wabah hitam

kau, tak akan menungguku di poto tano dengan lidah yang menjulur lapar dan liur yang menggelepar dan ikan-ikan yang gemetar karena tercemar kerinduan kita akan berharap, di kehidupan selanjutnya lebih baik menjadi seekor ayam

yang matinya tentu

sebab menunggu waktu tak pasti dari maut

adalah khianat angin

pada selembar daun yang lemah

sebelum kita menyadari betapa rapuh tulang rusuk

digerogoti kesepian