Mencari rahasia di kediaman waktu.
Berkali-kali telah kami telusuri Januari,
Di saat itu pula doa-doa kami bersatu.
Gemercik pagi mengalirkan matahari,
Maka cawan-cawan kami isi lagi,
Entah untuk ditumpahkan atau dibagi,
Tapi tetap kami biarkan doa-doa berlari.
Lebih dulu telah kami terima kebaikan-Mu.
Doa dan syukur hanyalah rasa terima kasih,
Sebab tak bisa kami sembunyikan lagi
Berderap gemuruh rasa di dada kami.
Karena di tanah kami,
Di tanah yang lembab
Oleh canda tawa dan air mata kami,
Selalu Kautancapkan runcing rahmat-Mu,
Rahmat untuk menemani senang dan sedih,
Bahkan jauh sebelum Kauberikan suara
Kepada matahari pagi di awal Januari.
(Naimata, Desember 2009)