Aku Cukup Menulis Puisi, Masihkah Kau Bersedih - 39
kau telah memakan belut itu, yang selalu sigap berkelit dari tuhan

hujan panjang bulan desember menyesatkannya ke sawah-sawah, ke rawa-rawa ke meja makan kita yang tua pemandangan di depan mata hanyalah kabut dalam setiap suapan, kita pun gagal menyebut karena aroma cabai yang merambat ke kepala kau menjadi curiga, setiap helai rambut adalah rangka belut itu yang luruh di gigi, yang takluk ditekuk kelincahan lidah kata-kata yang tak perlu tulang, kau yang tak siap bertualang, melihat kesendirian merentangkan tangan di sepanjang pematang

kau telah memakan belut itu dan meminum udara dingin khas jalan hasanuddin, saat hujan yang langka itu turun tanpa kemaluan

saat aku terpaksa mengucap salam perpisahan