Hari ini hari keempat saya di Osaka. Begitu habis Sholat Subuh langsung googling, di mana ada masjid terdekat di kota ini.
Langsung saja saya ketik Masjid Osaka, dan keluar alamat, 4-12-16 Owada Yodogawa-ku Osaka.
Saya copas alamat tersebut kepada teman saya yang asli Osaka, Teruyuki Marubayashi, untuk dibantu diantar ke masjid yang saya maksud. Dia bilang tidak jauh, hanya sekitar 20 menit dengan mobil. Untuk mengetahui jam berapa Sholat Jumat dimulai, saya coba menghubungi nomor telepon yang tertera di website, namun semuanya tidak nyambung.
Ternyata info yang tertulis tidak update.
Akhirnya, saya minta untuk diantar pukul 11.20 dengan asumsi, Sholat Jumat dimulai pukul 12.00, sesuai jadwal Sholat Dhuhur hari ini.
Akhirnya, ketemu juga masjid yang dimaksud. Bangunan dua lantai yang lumayan luas. Lantai bawah dipakai untuk toko dan lantai atas untuk masjid. Begitu masuk, saya sapa orang di dalam. Dari wajahnya, dia orang Indonesia. Ternyata benar. Dia asli orang Lombok, NTB. Namanya, Pak Abdullah. Nama yang tadi pagi sudah saya coba kontak handphone-nya, tapi tidak berhasil.
Dari Pak Abdullah saya mendapat info, kalau Jumatan mulai pukul 13.40. Sebelumnya, ada ceramah yang dimulai pukul 13.00 oleh imam masjid. Hah Kenapa begitu siangnya Padahal, waktu Sholat Dhuhur pukul 12.00.
Pak Abdullah menjawab, karena kebanyakan Muslim di Osaka bekerja di perusahaan-perusahaan dan pukul 13.00 baru bisa keluar ke masjid.
Oh, oke. Masuk akal dan bijak juga, batin saya.
113
Benar juga. Pada pukul 13.00, masjid masih sepi. Saya menengok kanan-kiri, baru ada beberapa orang yang hadir. Seorang pria yang saya tebak berasal dari Pakistan bertindak sebagai penceramah dan imam Sholat Jumat nanti. Dia berbicara dengan Bahasa Urdu. Daripada bengong dan pura-pura paham, saya main-main Blackberry, menjawab email-email yang masuk dari kantor.
Mendekati pukul 13.30, semakin banyak yang datang dan masjid tersebut sudah full. Lumayan banyak juga. Saya taksir kira-kira ada sekitar 80 orang. Hal yang membedakan dengan Sholat Jumat di Indonesia adalah durasinya. Di sini, khotbah Jumat hanya sekitar 7 menit. Setelah itu langsung sholat. Jadi, totalnya hanya butuh sekitar 15 menit. Berbeda dengan di Tanah Air, khotbahnya bisa sekitar 20 menit dan sholatnya 10 menit.
Saya sempatkan untuk mengambil beberapa gambar di masjid tersebut. Lega dan puas rasanya masih bisa pergi Sholat Jumat di negeri orang yang muslimnya minoritas. Untuk sekadar sholat harus berjuang keras dengan rela menempuh perjalanan yang lumayan jauh. Berbeda dengan
114
Tanah Air. Masjid sangat mudah untuk ditemukan. Sungguh aneh kalau bermalas-malasan beribadah, sementara banyak kemudahan yang ada.
Segera saya bergegas ke mobil teman saya yang setia menunggui saya selama saya Sholat Jumat. Jam di tangan sudah menunjukkan pukul 14.00. Saatnya makan siang.
Saya tengok di Twitter sedang banyak kicauan soal kapan puasa akan dimulai; Sabtu atau Ahad. Ada satu nama paling banyak dicari orang saat-saat seperti ini. Siapa dia Dia bernama hilal.
Marhaban, ya Ramadhan.
30 Juni 2014