Menyangkut asalusul kapitalisme, apa yang ingin dila kukan Weber adalah membalikkan argumenargumen Karl Marx. Marx ingin menjelaskan perkembangan kapitalisme (dan seja rah) dari sudut pandang materialis. Bagi Marx, kapitalisme ter uta ma adalah suatu sistem ekonomi, dan kelahirannya me ru pa kan hasil dari transformasi dalam bentuk dan hubungan produksi. Meskipun paragraf terakhir dari buku Weber The Prot estant ethic and the Spirit of Capitalism merupakan suatu je nis apologi (ia tidak ingin dipahami sebagai orang yang se pe nuhnya membalikkan posisi Marx), implikasi dari argu menar gumen Weber sepenuhnya membalikkan perspektif materialis Marx.
Etika Protestanlah, yakni suatu rasionalitas khusus dari sekelompok orang di Eropa dan amerika, yang melahirkan suatu sistem usaha bebas dalam bentuknya yang modern (ka pitalisme). untuk memahami hal ini, kita harus melihat bahwa bagi Weber kapitalisme lebih dari sekadar suatu sistem usaha bebas di mana semangat untuk memperoleh keuntungan merupakan kekuatan pendorongnya. Dalam peradabanperadaban kuno pertukaran bebas barang dan jasa telah terjadi. Memang, dalam sebagian besar sejarah tertulis manusia, usaha untuk memp eroleh keuntungan demi keuntungan itu sendiri dapat dilihat. apa yang baru di Eropa setelah revolusi Protestan adalah suatu sistem usaha bebas yang dijalankan melalui mekanismemek a nisme rasional (pembukuan dengan entri ganda, organisasi yang impersonal, dan sebagainya) dan melalui suatu bentuk tin dakan manusia yang bersumber dari semangat ilahiah (asket is me). Kapitalisme menjadi suatu sistem, suatu bentuk modern dari interaksi ekonomi, hanya jika ia dijalankan dengan me ka nis memekanisme rasional dan asketisme ini. Dan etika Pro tes tan lah yang melahirkan mekanisme rasional dan asket isme tersebut. hinduisme, Buddhisme, Konfusianisme, Katolisisme, Islam
isme: agamaagama ini telah ada ratusan atau ribuan tahun sebelum lahirnya Protestanisme. Namun, hanya yang terakhir ini yang mampu menemukan cara baru dalam beribadah kepada tuhannya. tidak seperti para penganut agama lain yang meng anggap bahwa mencari keuntungan merupakan sesuatu yang rendah, tak terhormat, dan tak layak dilakukan oleh orangorang yang bermartabat, umat Protestan percaya bahwa men capai keberhasilan dalam urusanurusan duniawi (yakni menjalankan usaha ekonomi) merupakan cermin dari terw u judnya kehendak tuhan. Dengan demikian, menabung, bekerja keras, hemat, dan menahan diri untuk tidak hanyut dalam sungai kesenangan dianggap sebagai bentukbentuk ibadah keagamaa n.
Sekularisasi semangat ilahiah ini, bagi Weber, mempunyai dampak yang revolusioner. Ia membalikkan tradisi keyakinan manusia yang telah berusia ribuan tahun bahwa perdagangan, usaha ekonomi tidak layak ditekuni secara serius. Ia memberi
MAx WEBER DAN KAPITALISME 311
suatu pembenaran ilahiah bagi urusanurusan duniawi, yakni mencari uang dan bekerja keras untuk mendapatkan uang. Dengan demikian, ia membangkitkan energi umat Protestan untuk membuat mekanismemekanisme rasional untuk men ca pai tujuantujuan usaha ekonomi yang dibenarkan tersebut. Melalui usaha untuk mencapai tujuantujuan ekonomi inilah kapitalisme sebagai suatu sistem produksi baru muncul.
Dalam rumusannya yang paling sederhana, inilah inti dari gagasan Weber. Dengan memahami kapitalisme dalam cara ini, Weber mampu menjelaskan mengapa, misalnya, Cina gagal berpindah dari sistem ekonomi feodal ke sistem ekonomi modern (kapitalisme), meski ia mempunyai tradisi perdagangan (antarbenua) yang begitu panjang (yakni, perdagangan sutra). Gagasan ini, secara sederhana dan jelas, juga memberi Weber perspektif baru tentang pentingnya agama, etika, serta suatu bentuk rasionalitas dalam proses perubahan ekonomi dan dalam pembentukan dunia modern.
Dengan memahami asalusul kapitalisme dengan cara itu, Weber dapat dengan mudah menelusuri apa yang dianggap persoalan utama kapitalisme. Kapitalisme, setelah kemun culannya, tumbuh seperti suatu mesin otomatis. Ia menjadi imp ersonal, dan mampu berjalan sendiriia tidak lagi mem butuhkan ibunya (yakni semangat keagamaan). Bagi Weber, per masalahannya adalah bahwa tanpa ibunya, kapitalisme sematamata menjadi suatu sistem ekonomi, dan tidak lagi mempunyai dasar etis atau spiritual atau moral.
Ketika pemisahan kapitalisme dan rasionalitas khusus itu terjadi, maka kapitalisme menjadi suatu sangkar besi. tidak seperti umat Protestan awal yang bekerja keras demi untuk memenuhi kehendak tuhan, orangorang dalam tahap kap italisme selanjutnya harus bekerja keras hanya demi hidup, demi menjalankan produksi ekonomi. Orangorang tidak lagi menjadi religiusmereka menjadi utilitarian dan teknis. Kalangan Purit an mau bekerja karena panggilan; kita terpaksa melakukan hal itu. Dalam keadaan seperti ini, hidup dalam kapitalisme menjadi tidak lagi memiliki makna. Sistem itu menjadi berjalan sendiri, dengan suatu kekuatan yang tak dapat ditahan. tidak seperti Marx, yang menganggap persoalan utama
kapitalisme adalah adanya penindasan oleh satu kelas atas kelas yang lainnya, Weber melihat persoalan kapitalisme terutama adalah persoalan moral. Kapitalisme mempunyai asalusulnya dalam wilayah moral; demikian juga persoalan utamanya. tentu saja, dengan melihat pengetahuan yang sekarang kita miliki tentang kapitalisme modern, mudah untuk menunjukkan bahwa gagasan Weber tersebut tidak lagi meyakinkan. Kita dapat memperlihatkan bahwa pertumbuhan kapitalisme yang tercepat dalam sejarah sekarang ini terjadi justru di negerinegeri Konfusian (yang oleh Weber dianggap mustahil). Kita juga dapat menunjukkan bahwa perkembangan kapitalisme di negerinegeri ini kurang ada kaitannya dengan suatu bentuk etika keagamaan (Konfusianisme), dan lebih berkaitan dengan strategi pembangunan yang dijalankan oleh pemerintah mereka, atau dengan kreativitas kelas pebisnis mereka, atau dengan berbagai kesempatan yang dihamparkan oleh struktur geopolitik pascaPerang Dunia II. Dan ketika kita telah menyangkal gagasan Weber tentang asalusul kapitalisme, menjadi lebih mudah untuk mengkritik penjelasannya tentang persoalan utama kapitalisme.
Namun pembahasan ini akan membawa kita terlalu jauh mas uk ke dalam suatu persoalan yang menarik, yang memer lu kan usaha yang lebih banyak ketimbang yang tersaji dalam esai ini. Di sini cukup dikatakan bahwa usaha Weber untuk menjelaskan kapitalisme tetap merupakan suatu karya klasik, suatu karya besar yang membantu kita lebih memahami kek uatan ekonomi yang dampaknya dalam kehidupan manusia tidak tertandingi oleh kekuatan lain apapun yang kita ke ta hui.