IBU KOTA LAMA - 4
Sejak zaman kekaisaran Heian, gunung yang paling terkemuka di Kyoto adalah Hieizan, dan festival paling terkemuka adalah Festival Kamo.

Festival Aoi yang diselenggarakan pada tanggal lima belas Mei telah hampir berlalu.

Sejak 1956, proses kurir kekaisaran dalam festival Aoi telah digabungkan dengan prosesi perawan kuil. Para peserta akan menjalani ritual lama, ritual pensucian diri di sungai Kamo, sebelum mereka mengurung diri dalam Aula Pemurnian. Para wanita istana mengenakan jubah elok, menjalani prosesi dari atas tandu, dengan diikuti dayang-dayang dan para putri, juga biduan yang menyanyikan lagu-lagu, menghidupkan kembali kebiasaan kuno. Perawanperawan kuil duduk di atas gerobak sapi tradisional.

Salah seorang teman sekolah Chieko terpilih untuk menjadi perawan kuil. Bersama temantemannya, Chieko telah pergi ke tepi sungai Kamo demi melihat teman mereka yang turut serta dalam prosesi itu. Dengan mengenakan pakaian elok nan serasi, para perawan kuil kelihatan senang, lebih karena mereka masih usia kuliah daripada karena pakaian yang dikenakan.

Di Kyoto, tampaknya hampir setiap hari ada festival, baik yang besar maupun kecil. Dengan melihat kalender festival, orang bisa melihat betapa selalu ada sesuatu yang terjadi di bulan Mei. Maka akan tidak mungkin untuk bisa menghadiri semua undangan minum teh, pesiar kekaisaran, dan upacara minum teh.

Bulan Mei ini, Chieko bahkan tidak menghadiri Festival Aoi. Pertama karena waktu itu hujan lebat, kemudian juga karena biasanya ada seorang yang mengantarnya menonton semua festival sejak ia masih seorang gadis kecil.

Di samping suka melihat bunga, Chieko juga suka pergi melihat hijaunya daun-daun muda. Tentu saja ia juga menyukai kuncup-kuncup baru pohon momiji di Takaoji dan Wakaoji.

Tengah ia menyajikan teh yang dikirim oleh seseorang dari Uji, Chieko berkata, Ibu, saya lupa belum menghadiri pertemuan teh baru tahun ini.

Tapi orang-orang kan masih memetiki daun teh sekarang, bukankah begitu tanya ibunya.

Mungkin.

Mereka juga sedikit terlambat untuk melihat keindahan kuncup yang terbuka perlahan, seperti bunga, pada pohon-pohon kusu no ki yang mereka lewati saat berjalan-jalan di kebun raya.

Chieko menerima telepon dari temannya, Masako.

Chieko, maukah kau pergi ke Takao untuk melihat daun-daun baru pohon momiji tanya temannya itu. Di sana tak banyak orang, tak seperti waktu daun-daun rontok di musim gugur.

Apakah belum terlambat jika ke sana sekarang

Di sana lebih dingin daripada di kota. Jadi kukira daun-daun baru itu masih kelihatan menyenangkan.

Hmmm, Chieko memotong pembicaraan dengan singkat. Katanya, setelah melihat sakura di Kuil Heian, akan lebih menyenangkan jika kemudian kita melihat Sakura yang di gunung-gunung, tapi aku sama sekali lupa. Aku kagum dengan pohon tua itu... Masa bunga sakura telah berlalu, tapi aku akan sangat suka jika melihat pepohonan sugi di Kitayama. Kitayama kan dekat Takao, ya kan Kalau aku melihat pohon-pohon sugi yang tumbuh tegak dan menyenangkan di Kitayama, jiwaku terasa segar kembali. Apakah kita bisa pergi sampai ke Kitayama Aku lebih suka melihat pohonan sugi daripada momiji.

Karena datang dari jauh, Chieko dan Masako memutuskan untuk melihat daunan momiji muda di Biara Jingoji di Takao, di Biara Saimyoji di Makino, dan di Biara Kozanji di Togano sebelum mereka pergi. Biara Jingoji dan biara Kozanji keduanya terletak di puncak lereng yang curam.

Dengan mengenakan sepatu bertumit rendah dan pakaian barat yang cocok dipakai di awal musim panas, Masako dapat mendaki dengan mudah. Tapi ia melihat ke belakang dan kagum betapa Chieko mendaki dengan memakai kimono. Chieko berkata tanpa kesulitan. Mengapa kau melihatku seperti itu

Alangkah cantiknya.

Ya, begitu cantik. Dengan tetap berdiri, Chieko menatap ke bawah, ke arah sungai Kiyoaki. Kupikir kehijauannya akan lebih hidup lagi. Tapi, di sini dingin, ya kan

Aku... Masako mencoba menahan senyum. Chieko, aku bicara tentang kamu. Chieko diam saja.

Mengapa gadis cantik harus terlahir

Oh, hentikan itu.

Kimonomu yang sederhana itu membuatmu makin kelihatan menarik di sini, di tengah kehijauan pepohonan. Dengan mengenakan kimono berwarna cerah akan membuat penampilan tampak mencolok, tapi... Chieko mengenakan kimono warna ungu yang agak suram, dan obi yang ia kenakan itu adalah karya ayahnya, terbuat dari kain cita yang dipotongnya dengan penuh kerelaan. Gadis itu telah mendengar Masako mengucapkan hal yang sama beberapa kali sebelumnya.

Chieko mendaki undak-undakan batu. Ketika Masako berbicara padanya tadi, Chieko sedang membayangkan guratan-guratan merah kesumba pada sebuah lukisan yang pernah dilihatnya. Apakah guratan warna itu ada dalam lukisan wajah Shigemori ataukah yang lain Lukisan-lukisan wajah Taira no Shigemori dan Minamoto no Yorimasa di Kuil Jingoji menjadi terkenal di seluruh dunia berkat Andre Malraux.

Di Kuil Kozanji Chieko pernah menikmati pemandangan deretan gunung dari beranda

Sekisuiin. Ia pun mengagumi lukisan pendiri sekte kuil itu, sosok pendeta Myoe tengah duduk bermeditasi di bawah pohon, yang menempel di salah satu dindingnya. Sebuah salinan gulungan perkamen Chojugiga tergelar mencapai sisi luar ceruk ruang. Dua orang gadis menyajikan teh di beranda.

Masako belum pernah pergi kecuali sejauh di kuil Kozanji. Kebanyakan pelancong mengakhiri perjalanannya di sana.

Chieko teringat pada suatu masa ketika sang ayah mengajaknya berjalan-jalan mengelilingi barisan gunung untuk menikmati pemandangan bunga sakura yang tengah mekar. Keduanya mengumpulkan bilah-bilah rumput ekor kuda yang panjang dan tebal untuk dibawa pulang. Karena ia sudah sampai di Takao, Chieko memutuskan untuk meneruskan perjalanan menuju perkampungan sugi Kitayama, sekalipun ia harus ke sana sendirian. Sebenarnya, kampung itu termasuk wilayah perkotaan dan lebih tepat jika disebut Nakagawa Kitayama District Kelurahan Kita. Tapi karena di sana hanya ada dua ratus atau tiga ratus rumah, maka sebutan kampung te-rasa lebih cocok.

Aku biasa pergi ke mana-mana jalan kaki, jadi tak masalah jika sekarang harus jalan kaki, seru

Chieko, lagi pula, jalannya cukup bagus.

Mereka berjalan sepanjang Sungai Kiyotaki, di mana gunung-gunung yang curam menancapkan kaki pada tepiannya. Akhirnya, mereka bisa melihat rerumpunan pohon sugi yang indah. Batang-batang pohon sugi itu seolah mengungkapkan dalamnya perhatian yang pernah diberikan pada mereka. Inilah satu-satunya perkampungan yang memproduksi kayu gelondongan Kitayama yang termasyur itu.

Beberapa wanita yang tengah menyabit rumput tampak berjalan menuruni bukit, menerobos rerumpunan pohon sugi untuk beristirahat sejenak, menyambut datangnya tanda waktu pukul tiga sore.

Masako berdiri terpaku, menatap salah satu di antara gadis-gadis yang melintas di bawahnya. Chieko, lihatlah! Gadis itu sungguh tampak menyerupaimu. Ia mirip denganmu, bukan begitu Gadis itu telah menggulung lengan kimononya yang berwarna biru laut. Ia mengenakan celana panjang yang longgar dan sebuah rok kerja; tangannya mengenakan sarung tangan model lama dan sebuah handuk kecil menghias kepala, seperti wanita pekerja pada umumnya. Apron itu melilit tubuhnya sampai ke punggung, dan pada bagian bawah lengan kimononya terdapat kancing yang bisa dibuka. Sekilas pandang tampaklah sehelai obi yang kelihatan terletak di antara lengan dan celana panjangnya. Wanitawanita yang lain pun berpakaian serupa. Mereka menyerupai perempuan daerah Ohara meskipun begitu, tak seperti pedagang keliling wanita dari Ohara, pakaian mereka bukanlah pakaian yang biasa dikenakan ketika mereka menjual sesuatu ke kota, melainkan betul-betul pakaian para pekerja gunung.

Ia sungguh mirip denganmu. Tidakkah kau menganggap ini sebagai sesuatu yang aneh Masako menatap gadis yang tadi dari dekat.

Apa Chieko melihat sepintas lalu. Kau selalu terburu-buru menyimpulkan.

Bukan masalah seberapa gegabahnya diriku. Kau tak melihat bahwa gadis secantik dia adalah...

Ia cantik, tapi...

Ia tampak seperti dirimu sendiri yang sedang tersesat.

Mengapa kau begitu bergairah seperti itu

Masako mulai tertawa, merasa geli dengan ungkapannya sendiri, tapi setelah mendengar perkataan Chieko, ia jadi terdiam beberapa saat.

Aku tahu kalau kemiripan itu bukan sesuatu yang tak mungkin, tapi itu mengerikan, kata Masako.

Gadis tadi dan beberapa yang lain melintas di hadapan, tak begitu memerhatikan pada Chieko dan Masako.

Handuk yang melilit kepala gadis itu tak mampu menyembunyikan beberapa helai rambut di atas kening, tapi sedikit menyembunyikan wajahnya. Gadis itu tak melihat ke arah Chieko dan Masako, dan mereka pun tak bisa mengenali roman mukanya secara lebih jelas. Chieko pernah mengunjungi perkampungan di gunung itu beberapa kali dan melihat beberapa lelaki tengah mengelupas kulit kayu dari batang batang pohon sugi gelondongan, lalu beberapa wanita akan memunguti sisa-sisa yang masih tertinggal, menggosok kayu gelondongan dengan pasir dicampur air hangat. Ia merasa mengenali wajah semua gadis tadi, karena mereka bekerja di tepi jalan, di tengah alam bebas. Di antara mereka mungkin ada beberapa gadis kecil, tapi Chieko, tentu saja, tak meneliti wajah mereka satu per satu.

Masako menjadi lebih kalem saat ia lihat rombongan wanita itu berjalan menjauh.

Betapa aneh, ujarnya. Lalu ditelengkannya kepalanya, menatap Chieko seolah ia belum pernah menatap wajah gadis itu.

Ia betul-betul mirip denganmu.

Apanya yang mirip tanya Chieko.

Ya..., seluruh penampilannya. Sulit untuk menjelaskan betapa ia menyerupai kamu. Hidungnya... atau matanya... tentu saja, kau akan menganggap gadis dari kota dan gadis pegunungan itu berbeda jauh. Maafkan aku.

Tak apalah.

Chieko, bisakah kita mengikuti gadis itu berjalan pulang sehingga kita bisa melihat sesuatu yang lain tanya Masako, masih enggan untuk mengubah bahan pembicaraan.

Bahkan seorang gadis petualang seperti Masako mungkin tak sepenuhnya bersungguh-sungguh ketika ia mengusulkan untuk mengikuti gadis itu.

Chieko berjalan lebih pelan, seperti akan berhenti, saat ia menatap ke atas, ke arah batang-batang sugi gelondongan yang telah dipoles, tersandar pada rumah rumah dengan diameter yang seragam.

Batang-batang kayu itu seperti barang kerajinan saja, kata Chieko. Kudengar mereka menggunakan kayu-kayu itu untuk konstruksi ruangan upacara minum teh, bahkan sampai daerah Tokyo dan Kyushu.

Batang-batang kayu itu tersandar pada bagian atap rumah dan juga di sepanjang lantai kedua. Namun pakaian dalam dijemur di muka barisan kayu itu di lantai kedua. Masako melihat ke arah rumah, terkagum-kagum. Bukan main, orang orang di sini hidup di tengah barisan kayu sugi, katanya.

Kau terlalu cepat menyimpulkan, Masako, lalu Chieko tertawa. Lihat di sana. Bukankah di samping lumbung yang disandari kayu-kayu di sana itu adalah rumah yang menyenangkan

Oh, aku melihat jemuran di sana tadi, jadi aku mengira kalau itu adalah rumah.

Karena kau buru-buru menyimpulkan itu maka dalam pandanganmu gadis itu tampak mirip denganku.

Kalau itu berbeda. Masako berubah serius. Apakah kau sungguh merasa terganggu ketika kukatakan bahwa ia mirip denganmu

Tidak, sama sekali tidak. Saat Chieko berbicara, tiba-tiba bayangan sepasang mata gadis yang dilihatnya tadi membersit di benaknya. Kepedihan yang penuh dan dalam terbenam dalam pandangan sepasang mata gadis yang sehat dan suka bekerja keras itu.

Para wanita di kampung ini bekerja demikian kerasnya, kata Chieko, tampak seperti menghindar dari bahan pembicaraan yang sejak tadi dipercakapkan Masako.

Bukanlah sesuatu yang aneh jika kaum wanita bekerja kasar sebagaimana kaum pria. Para petani juga seperti itu, bukan begitu Pedagang buah dan sayur pun juga begitu, Masako menanggapi dengan santai. Seorang gadis yang halus dan sopan sepertimu tentu saja terkesan dengan hal yang semacam itu.

Aku bekerja. Kau pasti berbicara tentang dirimu sendiri.

Ya sudah. Aku memang tak bekerja, kata Masako dengan terus terang.

Kalau bicara tentang buruh ya mudah saja, tapi aku tertarik juga untuk menunjukkan padamu betapa wanita-wanita kampung ini benar-benar bekerja. Chieko kembali menatap ke atas, ke arah gununggunung yang diliputi pepohonan sugi. Mereka telah memulai pemangkasan dahan.

Apa maksudmu Pemangkasan dahan

Mereka memangkas dahan-dahan yang tidak diperlukan lagi dengan kapak kayu untuk menghasilkan pohon yang bagus untuk diambil kayu batangnya. Kadang mereka memakai tangga, tapi sering pula hanya berlompatan dari satu pohon ke pohon lainnya seperti kera.

Uh, membahayakan!

Kudengar beberapa lelaki memanjat pohon sejak pagi dan tak turun sampai waktu makan siang.

Masako pun memandang ke arah gunung-gunung itu. Batang-batang pohon yang lurus tampak berdiri dengan rapi, begitu eloknya. Rimbunan daun yang melekat pada ranting-ranting tampak menyerupai barang kerajinan yang indah.

Gunung-gunung itu sebenarnya tak begitu tinggi. Bahkan tiap batang pohon bisa dilihat dengan jelas dari puncak ketinggian gunung. Karena kayukayu sugi telah biasa digunakan dalam konstruksi bangunan ruang upacara minum teh, maka wajar jika serumpun pohon sugi itu sendiri mampu membawakan keelokan suasana upacara minum teh.

Gunung-gunung yang berada di setiap sisi sepanjang Sungai Kiyotaki memang curam, dan lereng-lerengnya menjulur, menuruni ngarai sempit. Satu alasan mengapa kayu sugi yang terkenal bagus itu ditanam atau dibiakkan di sini adalah karena banyaknya curah hujan dan sedikitnya cahaya mentari yang menyinari. Daerah ini pun terlindung dari angin kencang. Jika angin kencang menerpa pepohonan, lingkaran-lingkaran tahunnya yang lentur mencegah pohon-pohon itu untuk membelit.

Rumah-rumah di kampung itu berdiri berjajar di sepanjang tepian sungai di kaki gunung.

Chieko dan Masako berjalan hingga cukup jauh, ke seberang kampung, kemudian kembali lagi.

Keduanya melihat sebuah rumah tempat orangorang memoles kayu. Para wanita mengangkat kayu-kayu gelondongan dari permukaan air tempat kayu-kayu tersebut direndam, kemudian memolesnya dengan pasir bodai secara hati-hati. Pasir itu, warnanya kuning kemerahan menyerupai tanah liat, dibawa dari bawah Air Terjun Bodai.

Apa yang akan terjadi seandainya pasir itu mulai surut tanya Masako.

Air akan membawa mereka kembali saat musim hujan, lalu pasir itu akhirnya berkumpul di dasar air terjun, jawab seorang wanita yang lebih tua di antara mereka.

Masako merasakan percakapan yang menyenangkan.

Saat Chieko menerangkan, wanita-wanita itu tengah bekerja dengan tangan-tangan mereka yang cekatan. Kayu gelondongan yang dipoles mempunyai diameter kira-kira lima atau enam inci; mungkin digunakan sebagai pilar.

Para wanita itu membasuh kayu yang telah dipoles dalam air lalu mengeringkannya. Setelah itu mereka akan melapisi kayu-kayu itu dengan kertas atau jerami untuk dikirimkan dengan kapal.

Pohon sugi ditanam tersebar menuruni lereng-lereng gunung sampai tepian sungai Kiyotaki. Barisan pohon sugi yang tumbuh berdiri di gununggunung dan yang tersandar berbaris pada atap-atap rumah mengingatkan Masako pada pintu-pintu kisi Bengara yang terdapat pada rumah-rumah di Kyoto zaman dulu.

Tempat pemberhentian bus milik Jawatan Nasional Jepang di jalan Bodai terletak di pintu gerbang masuk kampung, yang bisa dicapai dengan menempuh jalan menurun dari lokasi air mancur. Dari sanalah dua gadis itu naik bus untuk pulang. Setelah terdiam beberapa saat, Masako tiba-tiba berseru, Aku pikir sangat baik jika seorang gadis tumbuh dengan lurus, dan bersungguh-sungguh seperti layaknya pohonan sugi itu. Chieko tetap diam.

Tapi kita tidak menerima kasih sayang yang penuh sebagaimana pohon-pohon itu.

Chieko hampir saja tak mampu menahan tawa. Masako, apakah kau sedang mencari seseorang

Ya, begitulah. Kami sering duduk bersama di atas hamparan rumput di tepi Sungai Kamo. Akhirakhir ini, di sana ada lebih banyak pengunjung memadati dataran sungai di Kiyamachi. Jadi sekarang mereka menyalakan lampu di malam hari. Tapi kami selalu duduk di bagian belakang, jadi tak ada seorang pun yang mengenali kami.

Kalau nanti malam

Nanti malam kami janji akan bertemu pukul

07.30, meski masih belum begitu gelap.

Chieko merasa iri melihat betapa bebasnya kehidupan Masako.

Chieko dan kedua orang tuanya duduk mengelilingi meja saat makan malam di bagian belakang ruang tamu menghadap taman sebelah dalam.

Hari ini keluarga Shimamura mengirimi kita beberap buah sushi Hyomasa dari daun bambu. Maafkan aku, karena semua yang dimasak malam ini adalah sup untuk dimakan dengannya, kata Ny.Shige pada suaminya.

Sushi daun bambu dicampur ikan laut adalah menu kesukaan Tn.Takichiro.

Ini memang sudah agak terlambat untuk menyajikannya, kata Ny.Shige kembali. Lalu ia bicara tentang anak gadisnya itu. Chieko tadi pergi untuk melihat pohon-pohon sugi di Kitayama lagi bersama Masako.

Sushi itu disajikan dalam sebuah piring porselin Inari. Dalam setiap bungkus daun bambu berbentuk segitiga itu, satu ekor ikan laut kecil disisipkan pada pucuk nasi. Sedangkan sopnya mengandung banyak tofu kering dan beberapa buah jamur.

Bisnis Tn.Takichiro masih memelihara suasana toko di Kyoto masa lampau, ditunjukkan dengan adanya pintu kisi-kisi Bengara. Tapi sekarang karena bisnisnya sudah berbentuk badan hukum, kebanyakan pekerja dan pelayannya telah mulai menglaju, berangkat-bekerja-pulang, seperti layaknya pegawai tetap suatu perusahaan. Karena hanya ada dua atau tiga pelayan toko pria dari daerah Omi yang tinggal di toko itu, menghuni satu ruangan berjendela kisikisi di bagian muka lantai dua, maka di bagian belakang rumah itu terasa sepi saat makan malam tiba.

Kau suka pergi ke kampung sugi Kitayama, bukan begitu kata ibunya. Kenapa

Pohon-pohon sugi di sana tumbuh begitu lurus dan tampak indah. Saya berharap jiwa kita bisa tumbuh seperti itu.

Tidakkah kau juga seperti mereka tanya ibunya.

Tidak, saya bengkok dan membelit...

Itu benar, seru ayahnya. Tak masalah beta-papun halus lembutnya penampilan seseorang, jauh di dasar hatinya ia masih perlu banyak merenung... tapi tidakkah yang baik adalah yang seper-ti itu Seorang anak yang tumbuh seperti pohon sugi Kitayama akan tampak manis, tapi gadis yang seperti itu tidak bisa bertahan lama. Dan di mana ada anak seperti itu, kelak suatu saat nanti ia akan menemui penderitan. Kukira, selama pohon itu tumbuh meninggi, tak menjadi masalah jika ia membengkok atau membelit. Lihat saja pohon momiji tua di halaman rumah kita yang sempit itu.

Apa maksud Ayah dengan mengatakan hal seperti itu kepada anak baik-baik seperti Chieko ini sang ibu jadi merasa gusar.

Aku tahu. Aku tahu. Tapi Chieko akan jujur dan...

Chieko memalingkan pandang ke arah taman itu, terdiam sejenak.

Saya tak mempunyai kekuatan sebagaimana yang dimiliki oleh pohon momiji. Suara Chieko diliputi kesedihan. Saya lebih mirip bunga-bunga violet yang tumbuh di cekungan pohon itu... Oh, baru tahu saya sekarang. Bunga-bunga itu telah menghilang.

Begitulah; tapi mereka pasti akan tumbuh kembali musim semi mendatang, kata ibunya.

Tatapan Chieko jatuh pada sebuah lampu Kristiani di dasar pohon momiji. Ia tak bisa melihat ukiran yang begitu halusnya, namun telah termakan cuaca di tengah cahaya suram itu; tapi ingin juga ia bersembahyang.

Ibu, sebenarnya di manakah saya dilahirkan Ny.Shige menatap suaminya.

Di bawah pohon sakura yang tengah mekar, saat cahaya sore jatuh di Gion, kata sang ayah dengan nada datar.

Mendengar perkataan ayahnya bahwa ia terlahir di bawah pohon sakura di Gion, gadis itu jadi teringat cerita anak-anak, Kisah Seorang Penebang Bambu atau Taketori Monogatari, di mana di situ diceritakan bahwa putri Kaguyahime ditemukan di antara ruas-ruas batang pohon bambu.

Itulah sebabnya mengapa sang ayah berkata dengan suara datar.

Jika benar bahwa ia terlahir di bawah rimbunan bunga, mungkin seseorang akan datang dari balik rembulan untuk menemuinya, sebagaimana diceritakan dalam kisah Kaguyahime. Chieko menyadari nilai gurauan dari keterangan ayahnya itu, tapi ia tak bisa mengungkapkannya.

Apakah ia seorang gadis temuan atau gadis yang dicuri, mungkin ayah dan ibunya tak tahu di mana ia dilahirkan atau siapa orang tua kandung gadis itu yang sebenarnya.

Chieko menyesali kesalahannya, tapi tampaknya lebih baik ia tak minta maaf. Apa yang secara tidak terduga telah mendorong gadis itu untuk menyelidik Ia tak begitu paham, tapi lamat-lamat ia ingat ketika Masako memberitahu bahwa ia tampak mirip dengan seorang gadis yang tinggal di Kitayama.

Chieko tak tahu ke mana harus memalingkan pandang. Ia menatap pucuk-pucuk pohon Momiji yang besar. Langit malam tampak semburat keputihan. Apakah itu berasal dari cahaya lampu di pusat keramaian kota Apakah rembulan telah menebar cahayanya

Cahaya langit telah berubah, seperti warna musim panas, kata ibunya ketika sama-sama menatap ke atas pula. Chieko, kau dilahirkan di rumah ini. Ibu tidak melahirkanmu, tapi di sinilah kau dilahirkan.

Chieko mengangguk. Seperti yang ia katakan pada Shinichi di kuil Kiyomizu, benar bahwa ia tidak dicuri oleh ayah dan ibunya itu dari bawah pohon sakura di Maruyama ketika malam tiba. Ia adalah bayi yang ditinggalkan sendiri di pintu masuk gerbang menuju toko. Tn.Takichiro telah membawanya pulang ke rumah.

Kejadian itu telah berlangsung dua puluh tahun lampau. Tn.Takichiro, yang masa itu berusia tiga puluhan, adalah seorang pria kota yang suka bersenangsenang. Pertama-tama, Ny.Shige tidak mempercayai cerita suaminya itu.

Kau kira dirimu seorang yang cerdas. Itu adalah bayi geisha yang kau bawa pulang.

Jangan bicara sembarangan. Wajah Tn. Takichiro menjadi merah karenanya. Lihatlah pakaiannya! Apakah ini bayi seorang geisha Apakah betul begitu ia bertanya, mengangsurkan bayi itu ke hadapan istrinya.

Ny.Shige meraih bayi itu, menempelkan wajahnya pada pipi bayi yang terasa dingin itu.

Lalu apa yang akan kita lakukan

Mari kita bicarakan di belakang. Aku sedang pusing.

Bayi ini baru saja lahir.

Tn.Takichiro dan istrinya tak bisa mengadopsi bayi, karena orang tua kandung bayi itu tidak diketahui, tetapi mereka bisa mendaftarkan bayi itu sebagai anak mereka sendiri secara sah. Keduanya menamai gadis itu: Chieko.

Kata orang bijak, seorang ibu yang mengadopsi bayi hanya akan mengurus anak kandungnya sendiri, tapi Ny.Shige tidaklah demikian karena ia tak mempunyai anak kandung. Beberapa tahun telah berlalu sejak Tn.Takichiro dan istrinya itu tak lagi mengkhawatirkan keberadaan orang tua kandung anaknya. Keduanya tak tahu apakah orang tua kandung Chieko masih hidup ataukah telah meninggal.

Membersihkan sisa makan malam bukanlah sesuatu yang menyusahkan. Hanya membuang daundaun bambu dan membereskan mangkuk-mangkuk. Chieko mengerjakannnya sendiri.

Lalu Chieko menyelinap ke dalam kamarnya di bagian belakang lantai dua, merenungkan buku-buku lukisan karya Klee dan Chagall yang dibawa pulang oleh ayahnya setelah tinggal di sebuah biara di Saga. Ia pun tertidur, tapi segera terbangun dengan menjerit-jerit.

Chieko, Chieko, ibunya memanggil dari ruang sebelah. Sebelum Chieko dapat menjawab, pintu geser telah terbuka.

Kau bermimpi buruk, bukankah begitu Sang ibu tergopoh-gopoh masuk kamar. Itu karena kau bermimpi kan

Ia duduk di dekat anak gadisnya itu, lalu menyalakan lampu dekat bantal. Chieko terduduk di futonnya.

Betapa mengerikan. Lihatlah titik-titik keringat itu. Lalu diambilnya handuk tipis dari sangkutan pada cermin. Chieko membiarkan ibunya menyeka kening dan lehernya. Sang ibu membayangkan betapa indah dada Chieko yang putih itu.

Nah, sekarang di bawah lenganmu, serunya sambil mengangsurkan handuk.

Terima kasih Ibu.

Apakah mimpimu itu menyeramkan

Ya. Saya bermimpi jatuh dari ketinggian dan segala yang di sekeliling saya hijau semata. Tanpa dasar.

Mimpi seperti itu biasa dialami oleh semua orang, kata sang ibu, ...melayang jatuh tanpa akhir. Eh, jangan sampai kau kedinginan. Ini gantilah gaun malammu.

Chieko mengangguk, tapi masih belum bisa memulihkan ketenangan. Ia terhuyung-huyung saat mencoba untuk berdiri.

Sudah. Ibu akan mengambilkannya untukmu.

Chieko duduk dan berganti pakaian dengan sederhana, lalu mulai melipat baju yang baru saja dikenakannya tadi. Kau tak perlu melakukan itu. Lain kali ibu akan membasuhnya, katanya, lalu mengambil gaun itu dan melemparkannya pada rak pakaian di sudut. Lalu ia pun duduk lagi dekat bantal anaknya itu.

Mimpi buruk yang seperti itu membuatku berpikir kalau kau terserang demam, ia menangkupkan telapak tangan pada kening. Di luar dugaan, ia terasa dingin. Mungkin kau kelelahan setelah pergi ke Kitayama. Betapa wajahmu tampak menyedihkan... Apakah ibu harus tidur di sini menemanimu Ia bangkit untuk mengambil selimut.

Terima kasih. Tolong, Ibu tak usah khawatir. Ibu tidur lagi saja. Saya tak apa-apa.

Kau yakin begitu Ia merangkak ke bawah tepian seprai anaknya. Chieko mencondongkan tubuh ke arahnya.

Ini kelihatan aneh, Chieko. Kau sudah begitu besar sekarang. Kau tak bisa lagi tidur sambil dipegangi ibumu.

Ny.Shige pun segera terlelap dalam kedamaian. Chieko melekapkan tangan pada pundak sang ibu agar terasa hangat. Lalu ia matikan lampu; meski begitu ia tak kunjung bisa tidur.

Mimpi Chieko begitu panjang. Yang ia katakan pada ibunya hanyalah bagian akhir saja. Bagian pertama seperti terjadi di alam antara tidur dan terjaga ketimbang nyata alam mimpi. Ia mengenangkan harihari menyenangkan yang dilewatkannya bersama Masako. Sekarang Chieko lebih sering memikirkan gadis yang disebut Masako mirip dengannya. Segala sesuatu yang berwarna hijau di sekitarnya, ketika ia terjatuh pada bagian akhir mimpi, mungkin berasal dari kenangannya akan kehijauan alam Kitayama.

Upacara memotong bambu yang diadakan di kuil Kurama adalah salah satu acara yang sangat dinanti oleh Tn.Takichiro. Ia menikmati suasananya yang maskulin. Upacara itu sudah tidak asing lagi bagi Tn.Takichiro. Ia telah menghadirinya sejak masih sangat muda, tapi kali ini ia berpikir untuk mengajak serta Chieko. Ia pun berpikir bahwa tinggal inilah kesempatan untuk mengunjungi Kurama, karena biaya upacara yang mahal mungkin sekali akan membuat Festival Api dibatalkan tahun ini, juga di kuil yang sama.

Tn.Takichiro khawatir jika hujan turun. Upacara itu diadakan pada tanggal 20 Juni, di tengah musim hujan. Tanggal 19 hujan turun cukup lebat, bahkan untuk ukuran musim yang basah ini. Jika besok tetap hujan seperti ini, ya kita tidak akan pergi, kata Tn.Takichiro sambil menatap langit.

Ayah, tak mengapa kalau hujan turun.

Iya, tapi... kata ayahnya. Tapi, tentu saja kalau cuacanya buruk, mmpp...

Tanggal 20 Juni langit basah dan penuh titiktitik hujan.

Tutuplah jendela... dan pintu-pintu almari pakaian. Kalau tidak, pakaian akan menjadi lembab, kata Tn.Takichiro pada seorang karyawannya.

Apakah ayah membatalkan acara pergi ke kuil Kurama tanya Chieko.

Mereka toh masih akan mengadakannya ta-

hun depan. Kita batalkan saja ya! Lagi pula, kalau kabut turun menyelimuti kuil Kurama... Mereka yang menjalani uapacara kebanyakan adalah warga kampung sekitar, bukannya pendeta; meskipun begitu mereka dianggap sebagai rahib. Pada tanggal 19, untuk persiapan upacara, mereka telah mencambukkan masing-masing empat batang bambu jantan dan betina pada kayu-kayu gelondongan yang tegak berdiri di sebelah kiri dan kanan aula utama.

Akar bambu betina sengaja tidak dipangkas, sedangkan yang jantan dipangkas namun daun-daunnya sengaja dibiarkan melekat. Sejak masa kuno, sisi kiri aula disebut dengan Singgasana Tamba dan yang sebelah kanan disebut dengan Singgasana Omi.

Setiap tahun upacara itu diikuti oleh keluarga yang berbeda, sesuai jadwal giliran. Para anggota keluarga mengenakan pakaian tradisional: kimono dari bahan sutra kasar, yang diwariskan dari generasi ke generasi; sandal ksatria yang terbuat dari jerami; dua buah pedang; sebuah selendang dan jubah pendeta; daun nandina yang melilit pinggang; dan pisau pemotong bambu bersarung kain brokat. Dengan dipimpin oleh para tetua ritual, mereka menghadapi gerbang pendakian.

Ritual ini diadakan tepat pukul satu siang.

Upacara potong bambu dimulai setelah salah seorang pendeta dengan pakaian tradisional meniup terompet rumah keong.

Tampak dua anak festival menghadap pendeta dan melapor dengan ucapan serentak, Upacara Potong Bambu. Sambutan yang sangat baik.

Lalu anak-anak festival itu maju ke arah dua kursi di sebelah kanan dan kiri.

Bambu Omi. Alangkah indahnya.

Bambu Tamba. Alangkah indahnya. Mereka memuji bambu-bambu itu.

Sesuai tata cara, bambu jantan yang masih diikatkan pada kayu-kayu gelondongan adalah yang pertama kali dipotong, lalu diatur letaknya di tanah. Bambu betina yang lebih lembut masih di tempatnya semula.

Anak-anak festival melapor pada kepala pendeta, Ritual pemotongan bambu telah selesai dilaksanakan.

Para pendeta memasuki sangtuari bagian dalam dan melantunkan sutra-sutra. Kuntum-kuntum bunga kiku bersebaran, sebagai pengganti bungabunga padma.

Kepala pendeta itu berjalan menuruni altar dan merentangkan sebuah kipas dari batang pohon hinoki, mengibas-ngibaskannya tiga kali. Kemudian ia berseru, dan dua orang datang dari sisi kiri dan kanan, memotong bambu yang masih tersisa menjadi tiga bagian.

Tn.Takichiro sebenarnya berharap agar anaknya bisa menonton upacara potong bambu itu, tapi ketika hatinya gundah karena hujan yang terus-menerus turun, tiba-tiba datanglah Hideo dengan membawa sebuah bungkusan kain.

Akhirnya saya berhasil mnyelesaikan obi anak gadis Tuan, katanya.

Obi Heran juga Tn.Takichiro. Obi anak gadisku

Hideo segera berlutut, lalu membungkuk ke arah lantai dengan sopan.

Yang berpola bunga tulip tanya Tn.Takichiro sambil lalu.

Bukan. Ini berdasarkan pola yang Anda lukis di sebuah biara di Saga. sahut Hideo dengan serius. Maafkan saya jika telah berlaku kasar pada Tuan. Saya memang seorang pemuda yang ceroboh.

Diam-diam Tn.Takichiro merasa mendapat kejutan. Begitu Waktu itu kau cukup berani juga. Kau mencela hasil karyaku. Aku harus berterima kasih karena kau telah membuka kedua mataku.

Saya menenun obi itu. Ini saya bawa sekarang. Benarkah Tn.Takichiro terkesiap bukan main. Aku telah meremas-remas desain buatanku itu, menggumpalkan, lalu melemparkannya ke dalam sungai dekat rumahmu.

Anda membuangnya seru Hideo tenang, berani. Saya mengamati desain itu cukup lama ketika Tuan menunjukkannya pada saya. Saya terus mengingat-ingatnya.

Kukira itu memang pekerjaanmu. Balas Tn. Takichiro sambil mengerutkan keningnya. Tapi Hideo, mengapa kau menenun desain yang telah kubuang itu Mengapa kau menenunnya Satu perasaan menyesaki dada, namun bukanlah kesedihan ataupun kegusaran. Bukankah kau sendiri, Hideo, yang mengatakan bahwa ini menunjukkan kehendak yang penuh pertentangan... bahwa desain itu penuh kemarahan dan tampak mengerikan Hideo terdiam.

Ya. Kau telah berkata jujur. Dan itulah mengapa aku melemparkannya ke arus sungai ketika meninggalkan tokomu.

Tuan Sada, maafkan saya. Hideo kembali membungkukkan punggungnya dalam-dalam, memohon maaf. Tenunan yang saya hasilkan dari desain yang Anda buat amatlah buruk. Saya begitu kelelahan dan mendongkol.

Aku pun juga begitu. Suasana di biara tentu saja terasa tenang, tapi karena hanya ada seorang biarawati tua selain seorang wanita yang datang untuk bekerja, aku merasa kesepian... sangat kesepian. Lagipula, sedang ada masalah dalam bisnisku, jadi apa yang kau katakan waktu itu terus menerus kupikirkan. Seorang pedagang grosir seperti aku ini tak perlu banyak-banyak melukis desain. Desain-desain itu pun hanyalah kerja seorang pengikut mode.

Saya juga memikirkan banyak hal. Dan sejak saya bertemu dengan anak gadis Anda di kebun raya, saya bahkan lebih banyak merenung, kata Hideo. Apakah Anda menyukai obi ini Jika Tuan tak menyukainya, sebaiknya saya robek saja.

Tolong tunjukkan obi itu padaku, seru Tn. Takichiro. Chieko, Chieko, ia memanggil anak gadisnya yang duduk di dekat seorang juru tulis di meja kounter. Gadis itu pun berjalan ke arah mereka.

Alis Hideo yang tebal dan mulutnya yang terkatup rapat sekali membuat wajahnya tampak meyakinkan, meskipun jemarinya agak gemetar saat membuka simpul bungkusan itu.

Hideo duduk menghadap Chieko, seolah ia merasa kesulitan jika bicara dengan ayah gadis itu.

Chieko, kumohon, lihatlah obi ini. Ini desain-

nya buatan ayahmu. Lalu ia pun menyerahkan obi itu dalam keadaan masih terlipat.

Chieko membuka lipatan di ujungnya perlahan. Oh, Ayah, kukira Ayah mendapat inspirasi dari buku lukisan Klee. Apakah Ayah melukisnya di Saga serunya sambil membawa obi itu ke pangkuan. Ini luar biasa.

Wajah Tn.Takichiro merengut dan ia tak berkata sepatah kata pun, tapi lamat-lamat ia kagum juga pada Hideo, bahwa ia mampu mengingat detail lukisan desain itu dengan sangat baik.

Ayah, suara gadis itu terdengar kekanakkanakan karena kegembiraannya. Ini obi yang sangat bagus! Ia meraba-raba kain tenunan. Kau menenunnya dengan sangat baik, serunya pada Hideo.

Terima kasih. Pemuda itu menunduk. Bolehkah aku buka untuk melihatnya Tentu saja, jawab Hideo.

Chieko bangkit, membentangkan obi itu di hadapan Hideo dan ayahnya. Ia berdiri mengamati, dan kedua tangannya memegang pundak ayahnya.

Bagaimana menurutmu Ayah dan Tn.

Takichiro diam saja. Lalu Chieko membesarkan hatinya, bukankah ini bagus

Kau benar-benar menyukainya tanya sang ayah.

Ya. Terima kasih Ayah.

Lihat dulu dengan lebih teliti, seru ayahnya kembali.

Polanya begitu inovatif. Jadi, ini tergantung pada kimononya. Tapi bagaimanapun ini adalah obi yang bagus.

Benarkah Yah, kalau kau memang menyukainya, kau harus berterima kasih pada Hideo.

Hideo, terima kasih. Chieko berlutut di belakang ayahnya dan membungkukkan kepalanya di hadapan Hideo.

Chieko, apakah obi ini mempunyai harmoni Keselarasan hati tanya ayahnya.

Harmoni pertanyaan itu mengejutkannya. Ia kembali melihat obi itu. Harmoni akan terbentuk, tergantung dari kimono yang menyertainya dan orang yang mengenakannya. Tapi zaman sekarang pakaian yang dibuat dengan sengaja merusak keselarasan sedang menjadi tren.

Sang ayah mengangguk. Sebenarnya, Chieko, ketika ayah menunjukkan desain obi ini pada Hideo, ia mengatakan bahwa ini tidak mempunyai keselarasan. Lalu ayah lemparkan saja ke sungai dekat tokonya.

Chieko terdiam.

Meskipun begitu, desain yang kubuang itu begitu miripnya dengan tenunan Hideo ini. Meski warna benangnya sedikit berbeda dengan yang ada dalam lukisan desainku.

Tuan Sada, mohon maafkan saya, seru Hideo, kembali membungkuk ke lantai. Chieko, aku tahu ini adalah permintaan yang egois. Tapi maukah kau mencoba memakainya sekarang

Dengan kimono ini Chieko berdiri dan membelitkan obi itu di pinggangnya.

Wajah gadis itu pun segera bercahaya berkat kegembiraan. Ketegangan Tn.Takichiro berkurang.

Chieko, ini benar-benar desain buatan ayahmu. Dan mata pemuda itu pun berkilat-kilat.