Di kapal itu ia menjadi pemecah batu bara. Dengan cepat sekujur tubuhnya legam selegam arang. Dengan begitu ia aman ketika kapal itu akhirnya merapat di Malaka. Gambar wajahnya telah tersebar sebagai buron, perampok, dan pemerkosa. Tapi selama ia tak menyentuh air, ia akan tetap aman. Dengan tubuh sehitam setan ia turun dari kapal dan mengangkut batu bara tambahan untuk pelayaran berikutnya.
Saat mengangkut bahan bakar itulah, dengan tubuh seamis ikan, ia melihat seorang perempuan dengan kulit putih seputih salju. Menyembunyikan baris giginya di balik kipas dan berkata langsung kepadanya, Kuberi kamu lima keping emas, untuk menitipkan barang ini di kapalmu, tanpa pengetahuan siapa pun.
Ia ingin berkata, tapi ini bukan kapalku, tapi napas perempuan itu beraroma sedap malam. Jemari perempuan yang lembut itu membenamkan lima keping emas di telapak tangannya.
Apa yang mesti kulakukan dengan benda ini tanya si anak, masih menggenggam jari-jari lembut perempuan itu.
Ketika lautan tenang tak bergelombang, kau akan tahu.
Ketika kapal itu bergerak menjauhi dermaga, perempuan itu tersenyum dan baris giginya bersinar seperti baris mutiara.
Lama setelah kapal itu berlayar ia mendapati laut di sekitarnya jauh lebih tenang. Para awak kapal berbisik-bisik ketakutan dan tiap kali ia bertanya, tak seorang pun mau memberi jawaban. Ia pun beranjak ke geladak. Permukaan laut yang diam justru terlihat jauh lebih mengkhawatirkan. Ia mencoba bertanya sekali lagi, dan salah satu awak kapal itu dengan linglung membisikkan satu nama. Nama yang terdengar asing di telinga si anak.
Ia pun teringat kalau ia belum tahu mengapa perempuan itu menitipkan sebuah benda misterius ini kepadanya. Mengapa tak seorang pun boleh tahu Ia membuka tutup kotak itu dan mendapati lima bahan peledak tersusun rapi. Yang dibutuhkan hanyalah seseorang untuk membakar sumbunya. Ia pun mengerti pesan perempuan itu. Ia harus membakarnya dan meledakkan kapal ini beserta seluruh isinya. Tapi untuk apa Ia tak akan berbuat konyol meledakkan kapal ini meski napas perempuan itu beraroma seribu bunga sekalipun.
Ia bisa terus berlayar bersama orang-orang di kapal ini, tiba di Gujarat dan di sana ia bisa menjalani hidup yang sama sekali baru. Dan yang terpenting, ia memiliki lima keping emas di sakunya. Ia melempar kotak misterius itu ke lautan.
Malang baginya, ia hanyalah anak ingusan yang belum mengenal seluk-beluk samudra. Kapal itu tengah berlayar di suatu wilayah yang tak seorang pun berani membuang benda apa pun. Bahkan meludah sekalipun. Burung-burung yang sedang bermigrasi dan melintasi perairan ini akan menahan kencing saat mereka terbang karena mereka tahu, sehelai saja bulu mereka yang jatuh menyentuh laut, sesuatu yang buruk akan terjadi. Perempuan yang menitipkan kotak itu tahu. Untuk itulah mengapa ia menitipkan kotak hitamnya pada bocah ingusan ini.
Begitu kotak hitam itu menyentuh permukaan air, sesuatu yang sangat buruk itu pun terjadi.
Monster laut
Bukan! Kapal itu terempas.
Terempas Akan sama saja dengan petualangan Sinbad.
Yang ini jauh lebih mengerikan. Kapal ini terempas di sebuah pulau yang sama sekali lain, ujar Syahrazad lirih. Ia melirik ke taman, melihat ayam istana yang meringkuk di bawah pohon delima itu mulai bangkit.
Brengsek! Aku tahu kau mencoba mengulur waktumu. Aku tahu setelah ini yang terjadi tak seburuk yang kamu maksud.
Tidak ada yang lebih buruk daripada terempas di pulau yang satu ini.
Raja hendak membuka mulutnya dan mengatakan sesuatu, tetapi ayam istana itu mulai mengepakkan sayap. Hinggap di dahan delima yang merunduk turun di atas kolam dan berkokok.
Syahrazad mengembus napas lega. Ia selamat sehari lagi.
Sebaiknya besok, ceritamu jauh lebih mengerikan seperti yang kaujanjikan.
Syahrazad menelan ludah. Turun dari kasur dan meninggalkan kamar yang beraroma kesturi itu. Sebaiknya tukang cerita sialan itu tak menghilang kali ini.