"Danu..." Suara tegas Damara menghentikan langkah Danu. "Ke mana kamu semalam" tanya Damara sambil menatap tajam ke arah Danu, membuat Danu tertunduk diam. "Kamu tahu bagaimana khawatirnya Kakak semalam Sama sekali nggak ada kabar! Handphone malah kamu tinggal di rumah."
"Maaf, Kak... semalam Danu di rumah sakit," jawab Danu pelan sambil mengangkat wajahnya.
"Di rumah sakit Kenapa Ada yang ngeroyok kamu"
Damara mendekat, lalu mencermati wajah Danu dan mencari bekas luka yang mungkin ada di wajah atau bagian tubuh adiknya.
"Bukan Danu, Kak..." kata Danu menarik wajahnya dari Damara, risi dengan kekhawatiran kakaknya yang berlebihan.
"Terus siapa Ngapain Sampai-sampai nggak sempat kasih kabar!"
"Danu nemenin Anka, Kak. Orangtuanya kecelakaan."
"Orangtua Anka Lalu gimana keadaannya" Nada suara Damara melunak.
Danu mendesah, mengusap wajahnya lesu. "Ayah Anka meninggal, Kak... ibunya masih koma."
Damara terdiam, ada gurat keterkejutan disusul empati dan keprihatinan di wajahnya.
"Kak, niatnya Danu mau balik lagi ke rumah Anka. Kasihan Anka nggak ada yang temenin. Danu mau bantu pemakaman ayah Anka, nggak apa-apa kan, Kak"
"Ya sudah, sekarang kamu ganti baju. Kita pergi sama-sama ke rumah Anka."
"Kakak mau ikut ke rumah Anka! Kakak nggak sibuk hari ini" tanya Danu bertubi-tubi, takjub dengan kesediaan kakaknya.
Damara menepuk bahu Danu sambil tersenyum kecil. "Anka itu sahabat kamu. Penting untuk Kakak nemenin kamu, di saat kamu harus menguatkan Anka."
Senyum Danu tersungging di wajah kakunya. Lega karena Damara juga bersedia menemani dan membantu semua urusan pemakaman ayah Anka, karena sebenarnya Danu pun sulit mengatasi kesedihannya sendiri saat harus melihat air mata yang tak henti mengalir di wajah Anka.
***
Kehilangan orang yang dicintai benar-benar mimpi buruk. Mimpi yang membuat siapa pun menjerit ketakutan saat terbangun. Begitu juga Anka, gadis itu pun ingin menjerit kuat-kuat agar ia terjaga. Berharap semua hal mengerikan di hadapannya menghilang dan kembali pada kenyataan bahwa ayah dan ibunya masih ada di dekatnya.
Tapi Anka tidak sedang bermimpi. Melihat tubuh ayahnya dibalut kain kafan, menyaksikan jenazah ayahnya ditimbun tanah, dan menatap batu nisan bertuliskan nama ayahnya adalah kenyataan. Anka bisa merasakan semuanya. Sakitnya menghadapi kenyataan dan sakitnya kehilangan. Andai bisa, Anka ingin meminta Tuhan mematirasakan semua organ tubuh yang berkaitan dengan perasaan, agar kesedihan ini tak terasa.
Banyak yang datang untuk menunjukkan rasa duka mereka atas kepergian ayah Anka. Para tetangga, pengurus panti asuhan tempat ayah dan ibu Anka dulu tinggal, rekan kerja dan para petinggi biro travel tempat ayah Anka bekerja, guru dan teman sekolah Anka, termasuk Rikodatang dengan kaki yang sepertinya masih kaku-tidak terlewat Danu, orang yang dari awal menjadi saksi hal mengerikan yang dialami Anka.
Semua datang untuk mengatakan keprihatinan mereka, atau paling tidak mereka datang karena peduli. Tapi entah kenapa kedatangan orang-orang itu sama sekali tidak mengurangi kesedihan Anka. Mereka mungkin bisa dengan mudah mengatakan pada Anka agar sabar dan tabah menghadapi musibah ini. Tapi siapa mereka Bagi Anka, mereka hanya orang luar yang tidak tahu sesakit apa rasanya ditinggalkan sang ayah secara tiba-tiba, sementara ibu tercinta kritis di rumah sakit.
***
Tiga hari berlalu sejak peristiwa tragis yang menimpa keluarga Anka. Orang-orang, yang pada pemakaman ayah Anka turut menyatakan berdukacita, sudah kembali menjalani hidup mereka sebagaimana mestinya. Begitu pun dengan Danu, sudah kembali duduk di kelas seperti biasa, mengisi otaknya dengan berbagai istilah bahasa asing. Mereka mungkin berpikir, apa yang menimpa keluarga Anka adalah musibah yang perlu mendapat simpati sesaat. Setelahnya... tidak ada alasan bagi mereka untuk kembali menundukkan kepala.
Dunia memang tidak berhenti berputar dengan apa yang terjadi pada Anka, hanya dunia Anka yang sepertinya enggan kembali bergerak. Sejak pemakaman ayah Anka, Danu belum pernah melihat Anka di sekolah, rumahnya pun selalu kosong setiap kali Danu datang untuk menemuinya. Begitu juga di rumah sakit, sangat sulit mencari Anka. Gadis itu seperti menutup diri dari dunia luar.
Berkali-kali Danu mencoba meneleponnya, tapi handphone Anka tidak pernah aktif, dan tidak ada yang mengangkat telepon rumahnya. Ini jelas membuat Danu cemas. Sebagai sahabat ia tidak ingin Anka seperti ini, akan lebih baik kalau Anka mau berbagi kesedihannya, ketimbang menutup diri dan terus menghindar.
Tidak berbeda dengan Danu, Riko pacar Anka pun tidak kalah gelisah. Ia tidak pernah absen mendatangi kelas Danu untuk menanyakan keadaan Anka, karena sangat yakin Danu tahu sesuatu tentang Anka.
"Nu, lo nggak usah bohong sama gue, lo pasti tau kan Anka di mana Lo kan deket sama dia!" desak Riko, lagi-lagi menanyai Danu. Kali ini Riko mencegat Danu saat berjalan menuju kantin bersama Andro.
"Ya ampun, Ko! Harus berapa kali gue bilang, gue nggak tau. Handphone Anka nggak pernah aktif, rumahnya sepi melulu," jelas Danu tidak sabar.
"Rumah sakit Lo tau kan rumah sakit tempat ibu Anka dirawat" Riko tidak menyerah.
"Gue udah ke rumah sakit, tapi nggak gampang masuk ke sana. Ibu Anka dirawat di ruang ICU, nggak sembarang orang boleh masuk."
Kekecewaan jelas terlihat di wajah Riko, setelah mendengar penjelasan Danu.
"Oke, Nu. Gue ngerti... Nanti kalo lo dapat kabar dari Anka, langsung kontak gue. Thanks ya."
Riko berlalu dengan kepala tertunduk lesu. Kasihan juga Danu melihat Riko. Memang tidak enak kalau tidak bisa dekat dengan orang yang disayangi saat orang itu sedang dalam keadaan sulit.
"Nu, beneran lo belum bisa kontak Anka sampai sekarang" tanya Andro sementara mereka kembali berjalan menuju kantin. "Waktu kemarin lo ke rumahnya, nggak ketemu dia"
"Nggak, Ndro. Rumahnya sepi."
"Emang selama ini Anka cuma sendirian di rumahnya"
"Waktu acara pemakaman ayahnya, Anka bilang ke gue, ibu pengurus panti asuhan dari
Bandung bakal nemenin dia selama seminggu. Tapi nggak tau deh, gue juga bingung, Ndro." Andro mengangguk pelan, seakan mengerti semua penjelasan Danu.
"Nanti pulang sekolah rencananya gue mau coba ke rumah sakit lagi, Ndro. Gue harus bisa ketemu Anka," kata Danu datar. "Gue nggak bisa biarin Anka kayak gini terus."
"Oke, Nu, bagus tuh. Lo harus tetap usaha, kalo bukan lo siapa lagi yang bisa nolongin Anka
Jangan kayak si Riko... Cuma bisanya nanya doang, bukannya usaha sendiri!" cibir Andro sengit. "Entar pulang sekolah gue anterin lo ke rumah sakit naik motor." Andro menepuk bahu Danu, membuat Danu merasa mendapat dukungan.
***
Anka berdiri di samping ranjang tempat tubuh ibunya tergolek tak berdaya dengan berbagai macam alat medis menempel di tubuh. Lagi-lagi, lelehan air mata tidak bisa ditahan Anka. Melihat kondisi ibunya seperti ini, Anka merasa lemah karena tidak mampu berbuat apa-apa. Kalau saja ibunya tidak dalam kondisi mengenaskan, mungkin rasa sedih Anka ditinggal sang ayah tidak terasa seberat ini. Paling tidak, ibunya akan menjadi teman bagi Anka menjalani semua. Tragisnya, keadaan memaksa Anka menjalani mimpi buruk ini seorang diri.
Dulu Anka pernah mempertanyakan alasan bodoh yang membuat orang-orang di luar sana memutuskan bunuh diri. Namun sekarang Anka tahu, ada alasan logis bagi orang-orang tersebut menjadikan bunuh diri sebagai jalan keluar, tidak sanggup lagi menahan rasa sakit. Di tengah kerapuhannya, sempat tebersit di benak Anka untuk memilih jalan keluar yang sama. Tapi saat ia dihadapkan dengan tubuh koma ibunya, semua pikiran negatif itu seakan terbang menjauh. Ia harus bertahan hidup demi ibunya yang sedang berjuang meraih kehidupan.
"Anka, sebaiknya kamu makan siang dulu ke kantin, biar Bunda yang jaga ibumu."
Anka menoleh, cepat-cepat mengusap air mata yang tadi sempat mengalir. Bunda Lastri, pengurus panti asuhan tempat ayah dan ibu Anka tinggal dulu, tersenyum lembut di sampingnya.
"Anka belum lapar, Bunda, nanti aja ke kantinnya."
"Kamu perlu makan, Ka. Dari tadi pagi Bunda belum lihat kamu makan apa-apa. Jangan begitu, Ka, nanti kamu sakit." Bunda Lastri membelai lembut rambut Anka, senyum yang tersungging di wajahnya begitu menenteramkan, penuh ketulusan, membuat Anka enggan membantah lagi.
"Kalau begitu Anka keluar dulu ya, Bunda."
Anka melepaskan baju penjenguk berwarna hijau, dan menyangkutkannya di balik pintu ruang rawat ICU. Sebelum berjalan ke luar, Anka menoleh ke arah ibunya, menatap sesaat seakan dalam tatapannya ia mengatakan, "Anka keluar dulu, Bu" pada tubuh koma ibunya.
Saat membuka pintu ruang rawat, Anka langsung melihat Danu duduk di bangku tunggu di depan ruang rawat dan tersenyum ke arahnya. Dengan canggung Anka mendorong pelan tangkai pintu ruang rawat, berniat masuk kembali. Ia belum ingin bertemu Danu. Namun sebelum pintu berhasil tertutup sempurna, Danu dengan cekatan meraih tangannya.
"Gue mohon, Ka... jangan kayak gini terus. Kita harus ngomong!" kata Danu tegas.
Melihat tatapan memelas Danu, Anka melepaskan tangannya dari tangkai pintu, membiarkan Danu meraih lengannya dan menuntunnya berjalan ke arah taman belakang rumah sakit. Mereka duduk di kursi panjang, tepat di bawah pohon mangga yang begitu rindang dan menyejukkan. Angin segar menerpa wajah Anka, seakan memberinya kesegaran di sela kesedihannya.
"Sori, gue maksa lo kayak gini... Tapi cuma ini caranya supaya lo mau ketemu gue," Danu memulai obrolan.
Anka hanya diam, tidak tahu harus bagaimana menanggapi kata-kata Danu. Anka juga tidak berani menatap wajah Danu, ia lebih memilih menunduk menatap sepatu kets hitam Danu yang melengkapi seragam putih-abu-abunya.
"Boleh gue tanya Kenapa selama ini lo menghindar dari gue" lanjut Danu. "Bisa gue dengar alasannya"
Sulit untuk menjawab pertanyaan Danu sekarang ini, terlalu banyak alasan yang membuat Anka merasa perlu menghindar dari orang-orang yang selalu menatapnya dengan tatapan iba dan penuh simpati.
"Ka... lo belum jawab pertanyaan gue," tegur Danu pelan.
"Gue capek, Nu... Capek dikasihani." Anka akhirnya bersuara. "Gue bosen denger mereka bilang, Sabar ya, Ka.... Gue jengah denger semuanya! Apa yang mereka ucapkan sama sekali nggak menghibur gue, yang ada bikin gue ngerasa rapuh..." Anka menghela napas lelah setelah mengutarakan apa yang ada di benaknya.
Danu tersenyum maklum, ia merangkul bahu Anka, seraya berkata, "Di sini gue nggak akan jadi orang yang sok ngerti apa yang lo rasain. Gue tahu cuma lo sendiri yang bener-bener ngerti apa yang lo rasain. Tapi selain ngerti perasaan lo sendiri, cobalah buat ngerti perasaan orang-orang di sekitar lo, orang-orang yang peduli sama lo, Ka..."
Mata Anka kembali berkaca-kaca mendengar ucapan Danu, mungkin karena Anka merasa perkataan Danu benar atau karena matanya saja yang sudah tidak bisa mengontrol air mata. Anka menengadahkan wajah, mencegah air matanya jatuh. Ia tidak ingin Danu melihatnya menangis lagi.
"Kenapa, Ka Kalo mau nangis, nangis aja. Nggak perlu ditahan. Lo bisa nangis di depan gue karena itu alasan gue ada di sini... untuk jadi sandaran lo, bantuin lo bangkit lagi setelahnya."
Usaha Anka menahan air matanya gagal, tanpa bisa ditahan air mata kembali mengalir di pipinya. Anka menutupi wajah dengan kedua tangan, berusaha keras meredam isak tangisnya. Danu mengeratkan rangkulan sebelah tangannya pada Anka, menyandarkan kepala Anka di pundaknya, membiarkan Anka terisak selama yang ia mau.
"Sori ya, baju seragam lo jadi basah sama air mata gue," kata Anka, seraya mengusap pelan air matanya setelah hampir setengah jam menangis di bahu Danu.
"Nggak masalah, Ka... Lagian seragam gue udah telanjur kotor, udah tiga hari belum gue cuci. Gue malah heran lo nggak pingsan nyium baunya."
Anka tersenyum kecil mendengar kata-kata Danu.
"Gue seneng lo bisa senyum lagi..." Danu menatap lembut ke arah Anka. "Gue kangen sama Anka yang senyumnya bisa bikin gue ikut senyum juga."
Anka menghela napas berat, menyunggingkan senyum getir di wajahnya sebelum menoleh ke arah Danu. "Mulai sekarang lo bakal jarang lihat gue senyum."
"Kenapa"
"Karena... Mungkin setelah ini bakalan banyak hal yang bikin gue susah senyum." Anka menunduk lesu, kakinya bergerak menyibakkan rumput-rumput kecil di bawah bangku taman.
"Oke... tapi gue akan selalu ada buat bikin lo senyum, bahkan bikin lo ketawa," kata Danu mantap. Danu mengambil ransel yang diletakkannya di samping kursi taman lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Danu menyodorkan sebatang lollipop susu pada Anka. "Ini buat lo, sengaja gue beli di kantin sekolah."
Ragu-ragu Anka mengambil lollipop dari tangan Danu. Anka kembali tersenyum saat membaca tulisan tangan Danu di sekeliling pembungkus lollipop: "Smile, Anka".
"Tuh, kan... belum apa-apa gue udah berhasil bikin lo senyum lagi."
"Thanks ya, Nu, makasih lo tetap ada saat gue butuh sahabat."
"Itulah gunanya sahabat. Makanya, lo harus janji nggak menghindar lagi dari gue dan orangorang yang peduli sama lo."
Anka mengangguk, tersenyum seraya menatap Danu yang tersenyum lega padanya. "Janji. Gue nggak bakal menghindari lo."
"Nah, gitu dong! Itu baru Anka yang gue kenal. Semangat...!" seru Danu.
"Tapi buat semangat, kayaknya gue harus makan biar ada tenaga. Kalo lo cuma ngasih lollipop gopekan supaya gue senyum, paling cuma bisa senyum dua detik doang."
Danu tertawa mengacak-acak rambut Anka, lega gadis ini hampir kembali menjadi Anka yang ia kenal dulu.
"Oke, gue traktir lo makan apa aja yang lo mau." Danu bangun dari duduknya, menyandangkan ransel ke bahunya lalu mengulurkan tangan pada Anka. "Kalo gue beliin soto ayam kesukaan lo, kira-kira bisa senyum berapa lama"
"Kita liat seberapa enak soto ayamnya," jawab Anka seraya menyambut tangan Danu.
Danu menggandeng Anka, berjalan menuju kantin rumah sakit. Mungkin ini hanya permulaan semua usaha Danu menjadi penopang bagi Anka. Hanya usaha kecil. Akan ada banyak hal lagi yang perlu dilakukannya untuk membuat Anka tetap berdiri tegar.
* * *
"Lo mau bantuin apa lagi Bantu bayar biaya rumah sakit ibunya!" - Andro