THE HALF BLOOD PRINCESS - 4
Sunday is Gloomy,

My hours are slumberless,

Dearest, the shadows I live with are numberless

Little white flowers will never awaken you

Not where the black coach of sorrow has taken you

Angels have no thought of ever returning you

Would they be angry if I thought of joining you

Gloomy Sunday

Sunday is gloomy with shadows I spend it all

My heart and I have decided to end it all

Soon there'll be flowers and prayers that are sad,

I know, let them not weep,

Let them know that I'm glad to go

Death is no dream,

For in death I'm caressing you

With the last breath of my soul I'll be blessing you

Gloomy Sunday

Dreaming

I was only dreaming

I wake and I find you

Asleep in the deep of

My heart

Dear

Darling I hope that my dream never haunted you

My heart is telling you how much I wanted you

Gloomy Sunday

Suara merdu menakutkan Sarah Mc Lachlan menyayikan lagu Gloomy Sunday, di minggu pagiku yang suram, aku masih di tempat tidur, merana dan merasa hampa. Aku tak bisa tidur semalaman,mataku sakit, bengkak dan sembab, tampangku luar biasa mengerikan. Seharusnya aku bunuh diri sekarang, sekitar 200an idiot mati dengan diiringi Gloomy Sunday, sayangnya aku selalu ingin jadi yang pertama, bukan orang dengan urutan 200-an bahkan bila itu adalah hal seidiot bunuh diri gara-gara sebuah lagu.

Pintuku terbuka, dan nanny membawakan sarapanku

Selamat pagi tuan putri dia meletakan nampan sarapan di meja samping tempat tidur tampangmu mengenaskanada nada shock dan khawatir

Yeah aku mengalami kematian spiritual

Cepat-cepat dia menghampiriku dan memeriksa suhu tubuhku, aku risih di sentuh seolah aku anak umur 5 tahun.

Aku cuma kelelahan aku mencoba menenangkannya sebelum dia mencoba bertindak lebih jauh, misalnya memanggil dokter jiwa yang akan mengunciku di ruang isolasi.

Dia memandangku dengan aneh, menatapku lekat-lekat; ada campuran iba dan jijik, atau entahlah!

Aku mengabdi untuk melayani para mayat hidup gumamnya pelan dan putus asa dalam suara tercekat yang aneh, cepat-cepat dia keluar dari kamarku.

Apakah aku terlihat seperti mayat

Tak percaya dengan apa yang dikatakannya, aku menuju cermin dan memandang sosok mengenaskan yang rapuh yang sialnya adalah aku, kutatap lekat-lekat dan menilai bayanganku, aku seperti vampire merana.

Kuputar ulang lagu Gloomy Sunday dan aku mulai berdansa dengan imajinasiku, aku hanya ingin merayakan minggu pagi gilaku.

***

Gue perlu bicara Dante menungguku keluar dari Jazz Pink-ku.

Aku tak menghiraukannya hanya terus berjalan dan menganggapnya hanya sebagai hantu yang tak terlihat, kesabarannya diambang batas ketika aku tak menunjukkan reaksi apapun, dia meraih tanganku, menggenggamnya erat dan menyeretku ke tempat sepi, sekolah masih lengang hanya ada beberapa anak yang datang, ini masih setengah tujuh pagi.

Mau apa loe tanyaku galak

Are you, oke

Not your business

tampang loe kayak zombie dia berbisik, seolah memberitau dirinya sendiri, dia menggelenggelengkan kepalanya, ekspresi ketidakpercayaan pada kenyataan yang harus ia terima terlukis jelas di wajahnya

Ghiebisiknya pelan sambil meneliti tiap inci wajahku, dia memandangku dengan tatapan menyesal yang sulit kuartikan.

Aku melepas genggamannya dan berlari cepat ke kelas, aku tak tau apa yang mendorongku untuk berlari menjauhi Dante, rasanya aku serangan panik dan otakku memberikan perintah untuk segera pergi ketika tatapan matanya yang seperti sinar X seakan menembus wajahku.

Aku terengah-engah sampai di kelas, hanya ada beberapa anak yang berada di kelas, sibuk bicara atau menyalin PR, huh bukan urusanku untuk mengamati mereka.

Pagi Ghie sapa Eve dan Niken

Hi sapaku setengah hati, aku segera membuka tasku dan dan menyibukkan diri dengan purapura membaca buku Letter to Daniel, karangan Fergal Keane. Kelas mulai berisik satu persatu anak mulai berdatangan, huruf-huruf dalam buku mulai menari-nari tak jelas dalam pandanganku, aku merasa seperti penderita disleksia yang tidak bisa mengeja, aku kesulitan untuk memahami apa yang sedang kulihat, mungkin karena aku sedikit pusing, aku mengalami hari yang berat kemarin, salahku karena terlalu larut dalam pikiran-pikiran yang menyiksa yang kuciptakan sendiri,

Bel berbunyi, waktunya upacara bendera, aku bangkit menuju lapangan diiringi Eve dan Niken yang sibuk membicarakan entah apa, sejujurnya aku tak peduli dengan apa yang mereka bicarakan, apapun yang mereka bicarakan bukanlah hal yang penting mengingat keduanya memiliki otak yang nyaris kosong. Kami masuk menuju tempat penyanyi inti, yeah kami penyanyi inti sekolah, dan shit! Apa yang dilakukan Dante di belakangku dia berdiri tepat dibarisan belakangku, dia mengikutiku! Apa sih yang dia mau

Gue perlu bicara, tepat selesai upacara dia berbisik di telingaku, aku tak bereaksi apa-apa, Eve dan Niken menatapku dengan tatapan bertanya, aku mengacuhkannya, Bendera akan dinaikkan dan lagu Indonesia Raya mulai dinyanyikan, bersamaan dengan niatku untuk membuka suara, kepalaku seperti dihantam berkarung-karung pasir, serasa mau pecah aku menahan kepalaku dengan kedua tanganku mencoba menahannya agar tetap utuh, sekarang serangannya menyerang bagian tubuhku yang lain, tubuhku dialiri oleh kelelahan yang luar biasa tak tertahankan, kakiku tak bisa lagi menopang tubuhku, suara-suara sayup-sayup terdengar makin menjauh dan kegelapan mulai menyelimutiku.