"Makan malam pukul tujuh. Masakan perancis di Eight," katanya, berdiri diambang pintu yang terbuka sambil menariik jasnya.
"Siapa yang memesan" tanyaku.
"Aku meminta Claire untuk memesannya," ia menjawab sambil menarik pintu kearahnya. "Sampai jumpa disana," pintu itu tertutup, dan ia pergi.
Aku punya semangkuk sup untuk makan siang, yang dihangatkan di dalam dapur kecil di lorong, dan memakannya di atas meja yang penuh dengan kontrak.
Claire kembali dari makan siangnya dan aku memberikannya kontrak dengan koreksianku dan bertanya padanya, dengan siapa Davies akan makan malam, malam ini.
"Dia memintaku untuk membuat reservasi untuk dua orang," katanya. "Aku tak tahu kalau kau juga akan pergi. Apakah aku harus memesan untuk tiga orang" tanyanya.
"Tidak, aku hanya berpikir" dan aku tidak tahu apa lagi yang harus kukatakan, bagaimana mengalihkannya.
"Oh, mungkin ini adalah kenaikan gaji atau sebuah promosi," katanya, begitu cerah seakanakan baru saja menangkap sesuatu.
"Aku rasa tidak" aku mencoba.
"Mungkin dia ingin memberikanmu kejutan. Dia bisa menjadi sangat baik," lanjutnya.
"Apakah kau bisa menyelesaikan ini sebelum jam empat Aku ingin memastikan bagian Legal akan mendapatkannya sebelum jam lima," tanyaku, mengganti subjek.
"Tentu," katanya, dan berbalik ke komputer.
Bruce tidak kembali ke kantor dan aku tidak terlalu yakin dengan makan malam itu. Aku pulang kerumah dan berganti pakaian, pergi mengenakan gaun bertali spaghetti dari Audrey. Aku ingin terlihat menawan, meskipun mungkin aku harus menghentikan semua ini.
***
Bruce sudah di sana, duduk di mejanya, menungguku. Ia tampak menawan di balik stelan hitam Pradanya. Aku selalu menyukainya karena itu membuatnya terlihat gelap dan kaya, luar biasa kuat. Matanya menyambutku. Seorang pelayan menarik kursi diseberangnya; dan aku duduk. Semua ini berlalu dalam keheningan.
Suara sommelier (pelayan khusus penyedia wine) memecah kesunyian dengan cepat, menunjukan sisi perancisnya ketika ia memeluk sebotol anggur seolah-olah ia adalah seorang ayah yang sangat bangga. Bruce tersentum pada pria kecil itu dan ia membalasnya. Pria itu menuangkannya, Bruce menghirup cairan itu dan menyeringai lebar. senyuman sommelier semakin lebar dan ia menuangkan lebih banyak cairan indah berwarna merah itu kedalam gelas kami sebelum ia meninggalkan kami.
"Gaun itu" ia memiringkan kepalanya kearahku. "sangat indah."
"Terima kasih," kataku sambil meneguk minumanku.
"Apa kau lapar"
"Ya, kurasa."
"Aku sudah memesankan untuk kita berdua. Kuharap kau tidak keberatan,"
"Tidak, itu oke. Terserah. Bruce, apa maksud dengan semua ini"
"Aku ingin memiliki beberapa saat bersamamu, saat- saat yang tidak terbebani oleh pekerjaan,"
"Dotties adalah tempat yang bagus,"
"Ya." Katanya. "Aku menikmati keberadaanmu,"
Kami terdiam ketika kami menyebarkan serbet ke pangkuan dan pelayan meletakan semangkuk consomm di hadapan kami.
"Sekarang, kau bilang kau menikmati keberadaanku," ia menegurku.
"Ya," kataku sambil mencicipi sup itu. "Tapi kurasa ini sedikit tidak bijaksana, jika kita terus bertemu di luar jam kerja,"
"Apa salahnya Ini adalah wilayah netral. Publik."
"Untuk saat ini."
"Apakah kau mengantisipasi makanan penutup"
"Tidak akan ada makanan penutup. Apakah itu sebabnya kau mengundangku kesini." Aku mendorong piringku menjauh, nafsu makanku sudah berkurang. Aku benci dimanipulasi.
"Aku tidak mengajakmu kesini untuk merayumu."
"Lalu kenapa"
"Aku pikir kita bisa bicara."
"Tentang apa"
"tentang kita,"
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi,"
Pelayan mengambil sup itu. digantikan piringan panas berisikan potongan mignon, asparagus dan keripik kentang au gratin. Pria ini mengenalku. Dia membuat semuanya begitu sederhana, dengan bumbu yang baik, dan lembaran mignon yang juicy dan begitu lembut hingga kau tidak perlu mengunyahnya. Kami makan untuk sementara waktu, sebelum ia kembali berbicara, tapi terasa seperti pembicaraan kami tidak pernah berhenti.
"Aku memiliki hal yang perlu dibicarakan," katanya sambil meneguk winenya.
"Ah," balasku. Aku ingin menambahkan, "Sebuah kejutan," tapi aku malah memenuhi mulutku dengan asparagus.
"Apa yang kau inginkan Glory Apa yang bisa kulakukan untukmu Katakan padaku dan aku akan melakukannya untukmu."
"Aku tidak menginginkan apapun," aku meletakan garpuku di sebrang piring. "Hanya kepuasan,"
"Hanya puas, Glory Aku ingin membuatmu bahagia,"
"Hal ini, apapun yang sudah kita lakukan, tidak akan membuatku bahagia. Semuanya membuatku merasa tidak nyaman."
"Bagaimana agar kita bisa membuatnya nyaman untukmu" ia terdengar begitu masuk akal, seperti ketika ia sedang berbicara dengan klien.
"Kita tidak bisa,"
"Hal apa yang membuatmu merasa tidak nyaman"
"Semua ini," aku keceplosan, seperti anak 6 tahun.
"Aku tidak mempercayainya Glory. Beberapa bagian dari hal ini tentu membuatmu bahagia. Aku bisa merasakannya,"
"Aku tidak suka perasaan tidak nyaman ketika kembali ke kantor sesudahnya, berpura-pura, dan terkadang perasaan takut untuk bertemu,"
"Kita sudah sangat bijaksana. Tidak perlu ada yang tahu,"
"Itu tidak bisa berlangsung selamanya,"
"Selama yang kau inginkan."
"Bagaimana kau bisa begitu santai. Kau duduk di belakang mejamu di ruang rapat dan kau bahkan tidak melihatku,"
"Aku melihatmu," kata-katanya terdengar serak, dan hal itu memberikan sentakan ke intiku.
"Aku tidak mahir bersembunyi seperti dirimu," kataku setelah berhasil melewati sentakan itu.
"Apa yang kau inginkan Glory"
"Aku tidak menginginkan apapun. Aku ingin semua ini kembali seperti semula."
"Itu tidak bisa. Aku tidak ingin."
"Mungkin bisa jika kita berhenti sekarang."
"Itu sudah terlambat Glory. Aku sangat menginginkanmu."
Aku duduk bersandar dan menatapnya. Ia duduk dengan tegak, dingin dan siap.
"Apa yang bisa kulakukan untukmu Glory Apa yang bisa ku lakukan untuk membuatmu bahagia"
Oke, jadi dia sedang memainkan sebuah game yang keras di sini, dan negosiasi masih berlanjut. Aku tidak tahu apa yang kuharapkan, namun yang jelas bukan semua ini.
"Aku sangat gembira pada awalnya, tetapi ini tidak benar. Hal ini tidak seharusnya terjadi,"
Ia mengangguk dan mengisi kembali gelasku. Aku bahkan tidak sadar aku sudah mengosongkannya. Aku bertanya-tanya apakah kebiasaan seks gilanya yang menyebabkan ia dan istrinya bercerai. Jika itu membuat mantan istrinya tidak bisa bertahan lagi, aku bisa melihat alasannya. Bruce mendorong semacam kebebasan tanpa batas.
"Aku pikir aku tidak.. bisa" aku merasakan diriku tergagap.
"Ini hanya antara kita berdua," ia mengingatkanku seolah-olah aku sedang mempertimbangkan hal itu, mengingat apa yang bisa kulakukan kepadanya. "Orang lain tidak perlu tahu. Kecuali kau ingin mengikut sertakan orang lain. Kita harus berhatu-hati, tapi jika itu adalah hal yang kau inginkan" ia terlihat malu lagi, seperti yang ia lakukan ketika di motel. Vaginaku mengejang dan mulai terasa lembab.
"Aku menyukai pekerjaanku. Aku suka keadaan kita sebelumnya," aku menjelaskan.
"Ini tidak ada kaitannya dengan ketika kita di kantor. Kau bagus dalam pekerjaanmu. Aku mengandalkanmu. Apa yang kita lakukan di waktu senggang kita tidaklah berpengaruh pada pekerjaan kita."
Aku tahu itu semua tidak benar. Aku masih ingat bagaimana suasana hatinya berubah ketika ia mendapatkan apa yang ia inginkan dan ketika ia ditolak. Aku masih mengingat wajah Claire ketika ia menyadari aku akan makan malam berdua dengan Bruce. Tampaknya ia tengah mempelajari wajahku karena sesaat kemudian ia kembali menambahkan. "Kedekatan kita karena bekerja sama, pasti akan memberikan beberapa spekulasi. Itu hal normal jika memiliki seoarng asisten wanita. Tetapi, spekulasi apapun yang mereka pikirkan tidaklah harus mempengaruhi kita,"
Ia memandangku dan menunggu. Aku tidak mengatakan apapun. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan untuk menjauh dari semua inidari pria ini, seks yang panas, dan pekerjaanku. Tetapi aku benar-benar menyukai pekerjaanku dan dia memang berbeda.
"Apa kau butuh uang Apartemen yang lebih besar"
"Rayuan harta" aku menggelengkan kepala dan tersenyum menegur kepadanya.
"Aku hanya ingin membuatmu bahagia."
"Aku bukan pelacur."
"Kau bisa pindah bersamaku." Ia benar-benar mengabaikan komentarku, sebuah pengabaian yang tidak relevan, dan melemparkan sebuah bola yang dengan kencang menabrak dadaku, menekan udara keluar dari dalam diriku. "Aku punya rumah yang besar, dan aku tinggal sendirian. Terkadang rumah itu terasa hampa. Dan kau bisa memiliki ruanganmu sendiri."
Ketika aku tidak meresponya, ia berkata. "Pulanglah bersamaku,"
Aku menatapnya. "Untuk melihat rumah itu," ia menambahkan.
"Aku sudah pernah melihatnya,"
"Hanya beberapa saat, dan hanya lantai bawah. Kau belum melihat semuanya. Kau disana untuk mengurusi beberapa berkas."
"Sudah cukup,"
"Ayolah," ia tersenyum. "Aku ingin menunjukan rumahku padamu,"
Aku membeku. Kewalahan. Tidak adil, ia jauh terampil dari pada diriku.
"Tidak ada hal lain," katanya, ia berusaha untuk menangkap mataku.
Ia berbohong, dan aku tahu ia sedang berbohong.
Aku memohon diri dari hadapannya, butuh beberapa saat untuk memulihkan diriku. Dan ketika aku kembali, ia sudah membayar tagihannya dan berdiri untuk membantuku dengan mengangkat bahu sebelum tangan panasnya meraih punggungku dan memanduku untuk keluar dari restoran itu dan menuju mobilnya yang sudah mengunggu.
Saat aku duduk di sampingnya di dalam mobil, aku merasa takut sekaligus gembira karena aku sadar, aku tidak bisa mengubah pendirian pria ini. Aku harus menjadi diriku sendiri ketika bersamanya menuntut, memaksa, kejam atau penuh kasih. Ia mendorongku untuk melakukannya. Prospek masa depan itu memabukanku dan aku tahu, ketika mobil ini menuju lalu lintas, ini hanya sebuah permulaan.
-end-