Dia menyukai warna biru keabuannya dengan motif sulur berwarna biru muda, tapi dia berharap sisinya tidak memiliki potongan setinggi ini. Potongan di kakinya setinggi tulang pinggulnya. Vanessa mengklaim bahwa potongan itu akan menonjolkan pinggangnya, dan potongan leher yang rendah seharusnya menciptakan ilusi dada yang lebih besar. Ia mengangguk dengan patuh kepada nasehat tentang fashion dari sahabatnya, tapi memiliki keragu-raguan yang amat sangat bahwa sesuatu dapat ditonjolkan dari dirinya. Liburan mereka dibatalkan di menit terakhir saat satu kasus yang Vanessa pegang di bawa ke ruang sidang secara tiba-tiba, jadi dia sangat bersyukur tak perlu mengenakan pakaian renang itu.
Lucie mendesah dan berganti pakaian. Setidaknya pakaian renang itu satu set, yang mana bisa dikatakan pakaian itu terlalu berlebihan dibandingkan apapun yang Vanessa pakai di sekitar kolam atau pantai. Semenit kemudian ia berdiri dihadapan cermin miliknya yang tinggi, menutup matanya, dan mencoba mengabaikan darah yang mengalir deras ke telinganya saat ia memanggil Reid.
Pintu terbuka dengan suara derit kecil, tapi pria itu tak membuat suara saat ia bergerak diatas lantai. Keheningan membuat mulut gadis itu kering dan jemarinya berkedut di sisi tubuhnya. Dimana dia Apakah dia mencoba untuk tidak tertawa Oh Tuhan, mengapa dia membiarkan pria itu membuatnya melakukan semua ini
Tiba-tiba ia merasakan panas tubuh pria itu terasa di punggungnya. Dia dekat. Sangat dekat. Deru nafasnya menggelitik rambut yang di sampirkan di telinganya, dan saat ia bicara, getaran dari suaranya berdesir di sekitar lehernya. "Buka matamu, sayang."
Dengan sengaja Lucie membuka pelan kedua kelopak matanya hingga sekali lagi ia menatap pantulan dirinya di cermin dengan Reid berdiri di belakangnya. Tubuh pria itu membuat tubuhnya terlihat ramping kalau dibandingkan dengannya. Dia tahu seluruh ukuran tubuh pria itu dari menonton pertandingannya. Enam kaki tiga inchi (190 cm), dua ratus lima pound (93 kg), sedikit lagi agar ia tak perlu menurunkan beratnya untuk pertandingan, dengan jangkauan tangan tujuhpuluh-enam inchi. Bagian atas bahu Lucie sedikit dibawah ketiak Reid, dan jika ia membiarkan kepalanya jatuh kebelakang, kepalanya akan bersandar dengan nyaman di lengkung leher pria itu.
"Sekarang," kata Reid, membawanya keluar dari observasi khayalannya. "Katakan padaku apa yang kau lihat."
"Bahu yang kuat. Dada yang kokoh. Lengan yang terbalut otot yang sangat sempurna dan membuatnya terlihat superseksi..."
Pria itu menyeringai pada pantulannya di cermin dan suaranya berubah menjadi gemuruh rendah yang memberi getaran langsung ke putingnya. "Kau pikir lenganku seksi, Lu"
"Mmm-hmmm." Mengapa dirinya terlihat seperti menyunggingkan senyum bodoh di wajahnya Tentu saja ekspresi itu tidak seperti dirinya.
"Terima kasih. Aku akan berkata jujur padamu bahwa tak pernah ada seorangpun mengatakan hal itu padaku."
Well itu sangat memalukan. Ia baru saja akan memberitahukan padanya saat ia secara tiba-tiba memotong pikirannya. "Maksudku, katakan apa yang kau lihat dalam dirimu, Lucie."
"Oh." Mempelajari pantulan dirinya, yang ia lihat hanyalah seorang wanita yang terjebak dalam tubuh seorang gadis yang mencoba sekeras mungkin untuk merubah penampilannya dan menantang kemustahilan. "Um. Aku melihat..." Apa yang Reid ingin ia katakan "Ini bodoh, Reid. Aku tak mau melakukan ini lagi."
Saat Lucie berbalik dan akan meninggalkannya dia menggenggam pinggulnya dan memaksanya tetap ditempat. "Aku akan memberitahumu apa yang aku lihat. Aku melihat wanita cantik yang bersembunyi dibalik rasa tidak aman yang tidak seharusnya tinggal berlama-lama di dalam kepalanya." Gadis itu merunduk menatap lantai, tapi jari-jari yang kuat mengangkat dagunya. "Aku melihat tubuh dengan kulit kuning langsat yang mulus dan lekuk tubuh halus yang memaksa seorang pria menutup matanya dan membayangkan menelusuri tubuh ini layaknya seorang pemahat pada subjeknya." "Benarkah" suaranya melengking.
"Tentu saja." Reid menutup matanya dan meletakkan tangannya di bagian luar pahanya, kemudian meluncurkan tangannya ke atas dalam gerakan lambat yang menyiksa. kulit tebal di telapak tangannya menggesek kulitnya lembut, menanamkan kedalam tiap syaraf sentakan energi yang tak pernah tahu bagaimana rasanya sebelumnya. "Sebelum seorang pemahat bisa menduplikasi keanggunan sebjeknya, ia harus mengingat subjek itu dengan kekuatan sentuhan, bukan bergantung pada lemahnya pandangan mata."
Bibir Lucie terbuka saat nafasnya keluar lebih cepat dan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Mungkin lebih. Tangan Reid melanjutkan eksplorasinya, mencakup daerah pinggang dan bergerak ke sisi tubuhnya dengan sentuhan lembut seperti layaknya seorang pria yang memegang kendali. Seorang pria yang tahu apa yang diinginkannya, dan mengambil kesempatan itu tanpa belas kasihan.
"Saat tangannya bergerak ke setiap sudut, setiap lekuk, setiap lembah...tubuh seorang wanita terbentuk dalam pikiran Reid, menanamkan setiap otot di memori, jadi ia bisa menduplikasi wanita itu meskipun ia buta."
Lucie pikir pakaiannya akan membatasi sensasi sentuhan yang berlebihan daripada kontak kulit-ke-kulit...tapi kemudian tangan itu meluncur ke perutnya dan semua rasa lega yang ia rasakan langsung terlempar ke neraka. Tangan yang selebar tangan Reid, saat ditempatkan ke bagian tengah tubuhnya, dengan mudah membentang keseluruh tubuhnya.
Dia tak yakin apakah ini karena anggur atau faktanya bahwa Reid Andrews, sahabat kakaknya yang superhot dan pria yang ia sukai saat remaja, menyentuhnya dengan sangat intim dan menyebabkan pengalaman yang diluar-khayal-tubuhnya. Dari jauh Lucie melihat saat jari kelingking kiri Reid menjelajahi puncak gundukannya, terlalu tinggi untuk dianggap tak berdosa, tapi terlalu rendah untuk menyebabkan puntiran di perutnya dan membuatnya menekan kedua pahanya bersamaan dan mengigit bibirnya untuk mencegah erangan yang tak ingin terdengar. Dan jika itu belum cukup, jempol kanan Reid mengelus alur diantara payudaranya.
Reid menenggelamkan wajahnya ke rambut Lucie, ia menghirup dalam-dalam dan mengeluarkan suara berupa campuran erangan dan geraman, yang mana merupakan suara paling erotis yang Lucie pernah dengar. "Sialan kau berbau harum."
Lututnya bergetar. Kekuatannya untuk berdiri menghilang. Kabut tebal telah bertiup ke dalam pikiran Lucie, berpikir jernih jelas sudah tak mungkin terjadi. Melepaskan benteng terakhirnya, Lucie membiarkan kepalanya terjatuh kebelakang dan mengarah ke samping saat nafas Reid yang panas terhembus di dekat daun telinganya.
Tangan Reid mulai menggenggam, jari-jarinya menusuk ke dalam kelembutan tubuhnya. Lucie mengucapkan nama Reid dalam rintihan...
Dan semuanya terhenti.
Dengan sumpah serapah tertahan Reid memegangi tangan Lucie menyeimbangkan tubuhnya saat Reid mencoba menjauh. Setelah yakin bahwa ia tak akan menabrak cermin dengan mukanya, Reid melepas tangannya dan mengelap wajahnya dengan telapak tangannya, kemudian bergidik dan memegangi bahunya yang terluka. "Aku benar-benar minta maaf, Lucie. Aku Sial, aku tak tahu apa yang merasuki tubuhku. Aku tak bermaksud melakukan semua itu."
Bam! Oh, bagus. Realitas sudah kembali. Lucie mengayunkan tangannya di udara dan memberi Reid sinyal pssh yang terdengar seperti seekor kuda yang menghembuskan nafasnya melalui bibir. "Jangan pernah berpikir tentang hal itu. Aku lebih mabuk dari pada kau jadi penilaianku tidak sah, dan kau menutup matamu, jadi kau tak bisa disalahkan karena bergairah saat membayangkan aku sebagai orang lain." Mencoba untuk tidak terjatuh dan bersikap tolol, Lucie berjalan untuk mengambil piyama di lantai.
"Lu..."
Memasang senyuman, akhirnya Lucie berbalik. Ada beberapa saat dimana ia mungkin atau tidak mengancam bola matanya dengan tercongkel dari tempatnya jika kedua bola matanya masih memperhatikan dari wajah hingga bagian tubuh bawah Reid. Lucie mungkin saja mabuk dan kehilangan rasa malu, tapi ia masih ada harga diri. "Sejujurnya, Reid, ini bukan apa-apa. Aku hanya lelah. Ini minggu yang panjang."
Sekali lagi mengelap wajahnya sebelum Reid menaruh kedua tangan di pinggangnya dan memperhatikan Lucie cukup lama. "Okay, yeah, aku rasa kita berdua harus pergi tidur. Maksudku kita harus pergi ke tempat tidur. Tidur! Sial."
Yep. Reid sangat payah dalam permainan memilih-kata. Lucie harus ingat untuk tidak berpasangan dengan Reid saat bermain Taboo! atau Catch Phrase. "Selamat malam, Reid."
"Malam, Luce."
Segera setelah pintu ditutup, Lucie mengalahkan rekor mengganti bajunya saat dalam keadaan mabuk dan langsung bergerak ke bawah selimut. Dia bersyukur tak perlu menggosok gigi lagi karena dia sudah melakukannya setelah mandi tadi karena meninggalkan kamarnya hanya untuk memakai kamar mandi dan mengambil resiko melanjutkan Tango Aneh mereka benar-benar tidak mungkin dilakukan.
~o0o~
Reid fokus pada suara kakinya saat menyentuh lantai treadmill, ritme dentuman menjadi sebuah soundtrack therapi pada hukuman yang ia berikan pada tubuhnya.
Meskipun ia sudah mengatakan pada Lucie ia akan tidur, tak mungkin ia bisa melakukannya hingga ia mengeluarkan energi yang terpendam yang ia hasilkan dari pelajaran-pertama-yang-berubahkacau untuk Lucie. Ia tak bisa menghitung lagi sudah berapa sering ia memutar kejadian itu dikepalanya seperti DVD yang terjebak mengulang-ulang tanpa memiliki tombol off.
Matanya tertutup hampir di sepanjang pengalaman itu, tapi ia tidak berbohong saat ia mengatakan bahwa tangannya akan menciptakan bayangan mereka berdua di dalam pikirannya. Sudah hampir satu dekade sejak tangannya menyentuh media pahat apapun, tapi tangan itu tidak pernah lupa bagaimana mengingat setiap detail dari sebuah subjek. Tidak lupa bahkan dengan pengaruh alkohol.
Saat keringat membanjiri tubuhnya, ia mencoba untuk memutuskan momen yang tepat saat pelajaran itu berubah menjadi sesuatu yang lebih dari sekedar gairah. Bahkan, jika dia harus jujur pada dirinya sendiri, itu mungkin sudah terjadi sejak ia menginjakkan kakinya di kamar itu dan melihatnya dalam pakaian renang satu-set yang seksi, matanya yang tertutup, dan menunggu dirinya.
Dia tak pernah menonjolkan tubuhnya seperti gadis lain. Lucie sebenarnya lebih mirip kutu buku dan sepertinya lebih nyaman berdiri dibawah bayangan dari pada seseorang yang suka menjadi sorotan, sama seperti kakaknya. Saat remaja, Lucie sudah seperti adik perempuan Reid juga, membayangkan seberapa sering waktu ia habiskan dirumah keluarga Maris.
Jadi mengapa perasaan sayang seorang kakak tiba-tiba lebih terasa seperti gairah sepasang kekasih Sial! Reid harus memikirkan apa yang harus ia lakukan pada pelajaran yang ia janjikan padanya atau ini akan menjadi beberapa bulan yang terasa seperti di neraka. Melirik pada odometer di layar, Reid memeriksa jaraknya untuk mengatur angka sepuluh dan membuat dirinya berjalan untuk pendinginan di atas treadmill.
Jarak. Itu dia. Ia harus tetap menjaga jarak saat mengajari Lucie bagaimana menjadi dirinya yang baru. Mungkin selanjutnya ia akan menggunakan metode pengajaran profesional. Ia bisa berdiri di sisi lain ruangan dan Lucie bisa duduk di sofa dan mencatat beberapa hal. Reid tertawa keras saat ia membayangkan skenario menggelikan itu. Sampai saat Lucie di skenario menggelikan itu tiba-tiba memakai seragam sekolah versi Britney Spears dan meminta bantuan di pelajaran Cara Menggoda nomor 101.
"Sial!"
Reid memukul tombol STOP dan turun dari mesin itu. Bernafas cepat dan berat, ia membiarkan kesadarannya kembali dan menutup matanya, tapi memutuskan untuk membilasnya sebelum gambaran itu kembali. Sepertinya akan ada mandi air dingin sebelum ia tidur malam ini. Dan mulai besok, semua pelajaran akan benar-benar tidak ada sentuhan tangan dan setidaknya jarak diantara mereka berdua harus sejangkauan tangan Reid.