Pekerjaan juga belum jelas. Melangkahkan kaki mau ke mana saja belum jelas. Maka ia tidak mau terjebak dalam situasi yang mengakibatkan penyesalan. Ia teringat pesan Mar saat menyebut nama Linda pertama kalinya,
"Linda ini belum bersuami dan cantik. Kau hati-hati jangan sampai ada apa-apa dengan dia ya. Jangan membuat masalah di negeri orang. Awas ya, kau harus jaga iman kalau berhadapan dengannya!"
Tak ada jalan lain baginya kecuali pergi dan menjauh dari sumber petaka. Api jika tidak bisa dilawan dan dipadamkan maka jalan selamat adalah lari menjauh dari api itu. Jika tidak maka api itu akan membakar dan menghancurkan.
"Maaf Mbak Linda, rasanya saya harus keluar jalanjalan. Saya ingin melihat-lihat suasana. Bosan di rumah terus. Nanti malam habis Maghrib mungkin saya datang lagi. Tas danbarang-barang saya masih di kamar," kata Zul pada Linda.
"O ya. Hati-hati di jalan. Sudah bawa paspornya" sahut Linda
"Sudah. Kalau mau ke pusat kota Kuala Lumpur naik apa ya"
"Tadi malam datang pakai apa" "Bus "
"Rapid KL ya"
"Iya."
"Kalau begitu naik saja dari tempat kau tadi malam turun dan naik bus yang sama."
"Baik. Terima kasih. Salam buat Mbak Mar, Mbak
Iin, dan Mbak Sumiyati."
"Baik. Kalau ada apa-apa bisa telpon kami ya. Sudah tahu nomor hp saya"
"Belum."
"Kalau nomor Mbak Mar sudah tahu"
"Sudah."
"Ya sudah. Itu cukup."
"Sekali lagi terima kasih. Saya pergi dulu."
"Ya, sekali lagi hati-hati di jalan. Jangan sampai tidur di bus ya," canda Linda.
Zul menjawab dengan senyum lalu beranjak meninggalkan Linda sendirian. Ia pergi hanya membawa tas cangklong hitam berisi map dokumen-dokumennya, sepotong sarung, dan kaos panjang. Itu saja. Ia merasa mantap. Jika ia bisa menaklukkan Jakarta dan Batam, maka ia sangat yakin ia pun bisa menaklukkan Kuala Lumpur. Sepintas ketika ia tiba di Purduraya, ia melihat suasana terminal bus paling padat di Kuala Lumpur itu tidak seganas Pulogadung dan Kampung Rambutan Jakarta. Ia pernah berkelahi dengan preman Pulogadung dan tetap bisa hidup. Ia juga pernah ditodong preman Kampung Rambutan dan bisa lolos. Jika ia terpaksa harus bertemu dengan preman Kuala Lumpur ia merasa tak perlu gentar. Orang Demak tidak boleh gentar berhadapan dengan situasi apapun juga.
Dari Subang Jaya ia naik bus Rapid KL ke terminal KL Sentral. Di KL Sentral ia sempat bingung mau ke mana. Ia berinisiatif untuk mencoba menghubungi lagi nama
yang diberi oleh Pak Hasan sekali lagi. Setelah bertanya kepada seorang lelaki India ia menemukan telpon umum. Dari telpon umum ia menghubungi dan masuk. Ia sangat berbahagia seperti mendapatkan rejeki nomplok yang tiada terkira jumlahnya.
"Ini Pak Rusli ya" tanyanya.
"Iya benar. Ini siape"
"Saya Zul Pak. Saya mendapat nama dan nomor
Bapak dari Pak Hasan Batam."
"O ya ya. Pak Hasan sehat ya"
"Alhamdulillah Pak. Bagaimana caranya saya bisa
bertemu Bapak Saya baru datang tadi malam dan tidak banyak tahu tentang Kuala Lumpur. Terus terang saya perlu sedikit bantuan Bapak."
"Sudah menjadi kewajiban saya untuk membantu
Saudara. Adik sekarang di mana"
"Di KL Sentral Pak."
"Begini saja Dik. Dari KL Sentra adik naik KTM ke
Stesyen Mad Valley. Saya jemput di sana. Baru nanti kira bicarakan segalanya dengan lebih leluasa."
"Apa tadi Pak, KTM ya"
"Ya KTM, atau kereta listrik. Ingat ke Mad Valley! Turun di Mad Valley. Saya memakai baju koko hijau lumut."
"Baik Pak. Terima kasih."
Tidak sulit baginya untuk naik KTM dan tidak sulit
untuk mencapai Mad Valley. Siang itu, ia merasa bahagia, sebab disambut dengan hangat oleh Pak Rusli, yang tak lain adalah seorang murid Pak Hasan saat belajar di Padang. Pak Hasan pernah mengajar di sebuah
202
pesantren di Padang sebelum berdakwah di Batam. Pak Rusli mengajaknya makan siang di restoran Saji Selera yang letaknya tak jauh dari Mad Valley Plaza.
"Jadi yang mendorong adik ke Kuala Lumpur ini Pak
Hasan"
"Iya Pak." "Itu maknanya adik diminta untuk belajar. Menuntut ilmu. Saya tahu persis siapa Pak Hasan. Tapi adik tidak akan bisa melanjutkan studi di sini, kalau tidak dengan bekerja. Dari mana uang untuk membayar kuliah kalau tidak dicari dengan bekerja Iya kan"
"Iya Pak."
"Jangan kuatir. Di sini banyak kok mahasiswa yang kuliah sambil bekerja. Nanti kau akan aku temukan dengan mereka. Insya Allah mereka akan banyak membantu. Terutama berkenaan dengan urusan
pendaftaran di kampus. O ya kaubawa ijazah kan"
"Bawa Pak."
"Dulu kuliah di mana"
"Di IKIP PGRI Semarang Pak."
"Jurusan apa"
"Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Pak."
"Ya ya ya. Gampang nanti bisa diatur untuk
dicarikan jurusan yang pas. Yang penting kau serius lanjut kuliah kan"
"Iya Pak."
"Bagus. Pak Hasan itu sebenarnya mendorongmu
untuk memiliki modal paling mahal untuk sukses dan jaya."
203
"Apa itu Pak"
"Ilmu. Hanya orang-orang berilmulah yang akan
diangkat derajatnya oleh Allah. Banyak orang tidak
berilmu kaya, namun derajatnya tidak diangkat oleh
Allah. Tidak sedikit orang kaya yang jadi hina karena
kekayaannya. Sebab ia tidak memiliki ilmu bagaimana
menjadikan kekayaannya sebagai jalan beribadah dan
menggapai kemuliaan. Setelah ini kau akan aku bawa
ke rumah teman-teman mahasiswa. Agar kau kembali
hidup dalam barakah lingkungan para penuntut ilmu." "Iya Pak."
Berulang kali Zul hanya menjawab: Iya Pak, iya Pak.
Agaknya Pak Rusli memperhatikan jawaban Zul.
"Kamu ini dari tadi kok cuma bilang; Iya Pak, Iya Pak.
Jawa betul kamu ini. Apa tidak ada kata-kata yang lain"
"Mmm, aduh bagaimana Pak ya"
"Sudah jangan dipikirkan. Ini hanya gurauan saja.
Ayo kita jalan."
"Iya Pak."
"Lha diulang lagi kan!" Seru Pak Rusli sambil
tersenyum lebar.
Zul langsung meringis. Ia jadi heran sendiri, kenapa terus mengulang-ulang kata-kata itu pada Pak Rusli. Namun suasana jadi sangat cair. Sikap Pak Rusli yang low profile membuatnya seolah sudah lama mengenal lelaki berumur empat puluhan itu. Padahal belum ada tiga jam ia bertemu dengannya.
Keluar dari Saji Selera, Pak Rusli membawanya masuk kampus Universiti Malaya. Zul terkagum-kagum dengan keindahan dan kerapian kampus perguruan tinggi tertua di Malaysia itu.
"Universiti ini masuk dalam jajaran 100 perguruan tinggi terbaik dunia. Kau harus tahu itu. Semoga saja kau nanti diterima lanjut S.2 di sini. Aku yakin orang seperti kau akan meraih kecemerlangan di masa yang akan datang." Ujar Pak Rusli menyemangati.
"Doanya Pak."
"Allah memberkati, insya Allah."
Setelah mengelilingi kampus Universiti Malaya, Pak
Rusli mengajak Zul shalat Ashar di masjid Akademi Pengajian Islam. Setelah itu langsung memacu mobilnya ke kawasan Pantai Dalam. Setelah keluar dari kawasan kampus UM, di sepanjang perjalanan, tepatnya di samping kiri, Zul melihat rel KTM. Sesekali ia berpapasan dengan KTM yang melaju ke arah KL Sentral. Sepuluh menit kemudian Pak Rusli memperlambat laju mobilnya. Mobil itu memasuki daerah yang terkesan agak kumuh. Setelah melewati jalan di bawah jembatan layang, mobil itu belok kanan. Di hadapan Zul tampak apartemen putih yang tinggi dan kusam.
"Inilah Pantai Dalam, banyak mahasiswa Indonesia di sini. Kita akan berkunjung ke rumah salah seorang di an tar a mereka."
Mereka berdua turun dari mobil dan bergegas ke arah apartemen. Di tengah jalan mereka bertemu dengan anak muda yang gayanya khas Indonesia.
"Assalamu'alaikum. Geng, mau ke mana" sapa Pak Rusli
"Anu Pak mau beli minyak goreng," jawab anak muda itu.
"Geng, kenalkan ini namanya Zul. Dari Demak. la baru datang tadi malam," kata Pak Rusli memperkenalkan.
Anak muda itu langsung menyalami Zul sambil memperkenalkan diri,
"Saya Sugeng, dari Purworejo Jawa Tengah. Selamat datang di Kuala Lumpur Mas." "Iya Mas. Terima kasih," jawab Zul.
"Namanya Zul ya Zul siapa lengkapnya" tanya Sugeng lagi.
"Aslinya Ahmad Zul. Tapi teman-teman di SMA
sering memanggil Zul Einstein."
"Zul Einstein. Wah keren juga. Rencana mau masuk
UM"
"Jika Allah mengijinkan."
"Nanti saya bantu, insya Allah."
"Terima kasih Mas Sugeng."
"Pak Rusli saya jalan dulu ya. Saya cuma sebentar
kok. Langsung ke rumah saja Pak. Di rumah ada si Arif sama si Yahya," terang Sugeng.
"Baik Geng. Jangan lupa beli yang segar-segar ya," tukas Pak Rusli renyah.
"Beres Pak. O ya Pak jangan lupa lagi. Lantai sepuluh
Iho. Bukan lantai sembilan."
"O ya terima kasih. Namanya juga sudah tua sering lupa. Ayo Zul kita jalan."
Pak Rusli dan Zul berjalan melewati samping apartemen menuju apartemen berikutnya. Lalu masuk lift yang mengantarkan mereka berdua sampai lantai sepuluh. Keluar dari lift mereka berjalan ke arah kanan. Di pintu flat tempat tinggal Sugeng dan teman-temannya itu ada sriker bendera merah putih. Di bawahnya ada tulisan: "Rawe-rawe rantas, malang-malang putung!" Menandakan bahwa mayoritas penghuninya adalah orang Indonesia dari Jawa.
Pak Rusli mengetuk pintu dan dibukakan oleh seorang pemuda gempal berambut tipis. la hanya memakai sarung dan kaos putih. Pemuda itu menyambut dengan senyum. "O Pak Rusli. Silakan Pak."
Pak Rusli dan Zul masuk. Pemuda itu memperkenalkan diri pada Zul. Namanya Yahya. Ia berasal dari Malang. "Tesisnya bagaimana, Ya. Sudah selesai" tanya Pak Rusli.
"Alhamdulillah sudah Pak. Minggu depan submit,
insya Allah," jawab Yahya dengan wajah cerah.
"Langsung lanjut Ph.D., Ya"
"Insya Allah Pak, tapi saya mesti laporan ke pihak UIN Malang dulu. Semoga saja diijinkan untuk langsung lanjut Ph.D. Doanya."
"Allah memudahkan insya Allah."
Akhirnya Zul tahu bahwa Yahya dulu kuliah di
Pakistan jurusan sejarah dan peradaban. Sepulang dari Pakistan ia diterima jadi dosen di UIN Malang. Lalu melanjutkan S.2 di UM, dan sebentar lagi selesai. Setelah itu akan langsung melanjutkan S.3.
la juga tahu flat itu terdiri atas tiga kamar. Dua kamar mandi. Dapur. Dan ruang tamu. Yang tinggal di situ lima orang; Sugeng, Yahya, Arif, Rizal, dan Pak Muslim. Yahya dan Pak Muslim sudah menikah. Sedangkan yang lainnya masih bujang. Sewa flat itu enam ratus ringgit per bulan, atau sekitar satu juta enam ratus ribu per bulan. Baginya itu sangat mahal. Enam ratus ringgit ditanggung oleh penghuni rumah itu yang berjumlah lima. Sehingga masing-masing orang kena beban 120 ringgit per bulan. Jika berjumlah enam, maka masing-masing orang kena beban seratus ringgit.
Yahya juga bercerita, bahwa awal-awal di Kuala Lumpur ia sempat bekerja mencuci piring di restoran dengan gaji yang sangat mepet. Ia juga pernah kerja di sebuah kedai foto copy. Bahkan ia pernah bekerja sebagai tukang bersih-bersih WC di Gedung Putra World Trading Centre atau biasa disingkat PWTC.
"Apa saja saya lakukan untuk bisa hidup dan
membayar uang kuliah. Meskipun diterima jadi dosen, tapi saya belajar ini tanpa beasiswa. Saya dulu sempat membawa isteri, tapi saya rasakan berat. Akhirnya sementara ini isteri tinggal di Malang dulu. Semoga saja nanti keadaan membaik. Dan saya bisa membawa isteri lagi kemari untuk menemani membuat disertasi Ph.D." jelas Yahya pada Zul.
"Intinya tidak boleh malu. Tidak boleh menyerah. Dan harus terus bergerak. Saya dulu awal-awal kuliah di sini juga sama seperti Yahya. Hidup prihatin. Kerja apa pun asal halal dan bisa membuat saya semakin kaya saya lakukan. Alhamdulillah sekarang saya bisa membuka usaha bekerjasama dengan orang Malaysia.
Cukup untuk menghidupi anak dan isteri. Begitu selesai doktor saya langsung akan pulang ke Indonesia." Pak Rusli menambahi.
Tak lama kemudian Sugeng datang. Dan Arif yang tadi tidur, terbangun. Pertemuan itu jadi semakin hangat. Semua memberi semangat pada Zul. Zul merasa menemukan orang-orang yang baik dan tulus. Yahya bahkan menawarkan agar Zul tinggal saja di flat itu dan bisa tinggal satu kamar dengannya.
"Tapi kamar saya agak sempit. Bagi saya tidak masalah dihuni dua orang. Jika hati dan jiwa kita lapang maka semua akan jadi lapang." Ucap Yahya dengan wajah cerah.
Tak ada keraguan bagi Zul untuk memutuskan tinggal di flat itu bersama Yahya, Sugeng dan temantemannya. Sore itu ia memutuskan untuk langsung menginap di situ dan tidak kembali ke Subang Jaya.
Setelah mantap bahwa Zul tidak akan terlantar, Pak Rusli mohon diri. Sebelum keluar pintu ia masih sempat berkata pada Zul
"Saya akan coba mencari informasi. Jika ada
lowongan nanti saya beritahukan. Yang jelas optimislah, bahwa Allah itu Mahakaya. Allah sudah mengatur jatah rejeki hamba-Nya. Tergantung bagaimana hamba-Nya
itu memungutnya. Jika ada apa-apa. Perlu bantuan apaapa, telpon saya saja. Tak usah sungkan ya Zul."
"Iya Pak. Terima kasih atas segala kebaikannya."
* * *
Malam itu Zul bertemu dengan seluruh penghuni flat itu. la tidak merasa menjadi orang asing di rumah itu. Malam itu juga ia mendapatkan saran-saran yang sangat membantunya dalam menentukan langkah selanjutnya di Malaysia. Semua yang ada di rumah itu ingin memberikan bantuan semampunya.
Sugeng menawarkan diri untuk membantunya mengurus pendaftaran di UM. Karena Zul masuk ke Malaysia tanpa single entry maka urusan imigrasi pasti akan sedikit ada masalah. Rizal yang sudah punya pengalaman dalam masalah ini bersedia mendampingi Zul jika nanti harus berurusan dengan masalah visa. Yahya dan Arif akan membantu mencarikan informasi kerja. Dan Pak Muslim, yang paling tua di rumah itu, menawarkan sepeda motornya jika akan digunakan Zul. Pak Muslim akan mengadakan penelitian di Sabah selama tiga minggu. Berarti sepeda motornya bisa dipakai selama itu.
"Ini masih bulan April. Awal semester bulan Juli.
Masih ada waktu sekitar tiga bulan. Sebaiknya Zul daf tar dulu saja. Selama tiga bulan bekerja sungguh-sungguh agar bisa membayar awal semester. Yang pasti jumlahnya agak lumayan. Besok kita lengkapi syarat-syaratnya. Dan lusa kita masukkan berkas ke IPS.7 Untuk uang pendaftaran yang 30 dollar itu biar saya talangi dulu. Jadi, dua hari kita targetkan berkas sudah masuk. Setelah itu baru konsentrasi cari kerja. Bagaimana" Jelas Sugeng.
"Saya ikut saja." Lirih Zul.
"Coba lihat, mana ijazahmu Kau bawa kan"
7 IPS : Institute Postgraduate Studies.
Zul mengangguk dan mengambil tas hitamnya. la
keluarkan map berisi berkas-berkas pribadinya dari tas itu. la berikan map itu pada Sugeng. Sugeng lalu
membuka dan meneliti dengan seksama. Ijazah SD sampai S.l
ada di situ. Sugeng lalu melihat ijazah S.l itu dengan kening berkerut.
"Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia ya"
"Iya Mas." Jawab Zul pelan
"Pak Muslim, sini Pak!" Seru Sugeng pada Pak
Muslim yang sedang asyik menulis di depan layar komputer di kamarnya. Pak Muslim langsung mendekat.
"Iya ada apa Geng" tanya Pak Muslim sambil membenarkan gagang kaca matanya.
"Zul ini, S.l-nya jurusan pendidikan bahasa Indonesia. Sebaiknya kalau masuk S.2 UM di fakultas apa, jurusan apa, Pak"
Pak Muslim berpikir sejenak. Lalu berkata, "Lha Dik
Zul sendiri ingin masuk fakultas apa"
"Fakultas pendidikan, Pak." Jawab Zul seraya mendongakkan kepalanya ke arah Pak Muslim yang berdiri di samping Sugeng.
"Kalau gitu ya masuk fakultas pendidikan saja. Jurusannya, kalau saya boleh menyarankan sosiologi pendidikan saja." Sahut Pak Muslim.
"Bagaimana dengan saran Pak Muslim, Zul" tanya Sugeng.
"Boleh. Saya sepakat."
Malam itu Zul merasa menemukan sctitik cahaya yang bisa dijadikan sedikit penerang bagi jalan masa depannya. la kembali mendapatkan gairah hidup yang baru. la merasakan kedamaian seperti rasa damainya saat dulu bisa melanjutkan pendidikan setelah lulus SD. la tetap bisa lanjut ke SMP meskipun harus dengan bekerja membantu Pakdenya di Pasar Sayung sepulang sekolah. la merasa bahagia saat itu, sebab banyak temantemannya
yang putus sekolah karena tidak ada biaya.
Mereka selesai SD langsung bekerja di sawah atau kerja di pabrik-pabrik yang ada di Kawasan LIK Semarang.
Malam itu, untuk pertama kalinya ia tidur dalam keadaan lebih nyaman dan tenteram. Dadanya terisi cahaya optimisme dan semangat. Bertahun-tahun sebelumnya ia selalu tidur dalam bayang kekuatiran, rasa takut dan ketidakpastian hidup. Ia mengalami itu sejak Pakdenya, orang yang merawatnya sejak kecil, meninggal saat ia masih di bangku kelas 3 SMA. Sejak itu ia seperti merasakan ketidakpastian hidup. Dengan
berusaha tetap tegar ia akhirnya berhasil juga menyelesaikan SMA-nya bahkan bisa tetap kuliah. Dan selesai juga kuliahnya. Namun selesai kuliah ia belum juga mantap menapakkan kakinya. Hal itulah yang membuatnya
merantau. Dari Semarang ke Jakarta. Lalu ke Batam. Dan akhirnya ke Malaysia.
Dan malam itu, setelah ia bertemu dengan orang- orang yang berpendidikan dan tulus, ia banyak mendapatkan pencerahan. Kisah hidup Yahya yang begitu rendah hati mau bekerja apa saja saat menuntut ilmu membuatnya kembali terlecut. Ia dulu, saat kuliah di Semarang, juga pernah mengalami apa yang Yahya alami. Saat kuliah ia pernah bekerja menjadi tukang
becak, kuli panggul di Pasar Genuk, satpam di LIK, dan
terakhir penjaga parkir di Pasar Johar.
Yang ia rasakan, bedanya Yahya dengan dirinya adalah Yahya begitu mantap dan bahagia dengan apa yang dilakukannya. Yahya menganggap hal itu bukan beban, tapi suatu kenikmatan. Yahya memasukkannya sebagai bagian dari ibadah dan pengabdian. Tapi dia selama ini bekerja, selalu saja menganggap sebagai beban. Dalam hatinya selalu saja masih ada rasa kuatir dan merasa tertekan. Dan malam itu ia mendapatkan pencerahan yang membuatnya merasa lebih tenang.
Malam itu ia tidur dengan bibir menyungging
senyum optimis. Ia optimis telah menemukan jalan untuk
memperbaiki masa depan. Ia tidur dengan sama sekali tidak mengingat Mari, Iin, Sumiyati dan Linda di Subang Jaya.
Sementara di Subang Jaya sana, Mari berangkat tidur dengan perasaan kehilangan. Entah kenapa ia merasa ada yang hilang dari hatinya. Ia telah mendapatkan informasi pekerjaan untuk Zul. Dan ia pulang
dengan perasaan bahagia, sebab ia yakin Zul masih ada di rumahnya. Dan ia akan memberikan informasi pekerjaan itu pada pemuda itu. Ia akan melihat pemuda itu bahagia lalu mengucapkan terima kasih padanya. Namun ia kecewa saat ia dapati Zul tidak ada. Ia masih berharap, malam itu Zul akan kembali ke rumah itu. Namun ia kembali kecewa. Sampai pukul satu malam ia menunggu Zul tidak juga muncul. Akhirnya ia tidur dengan perasaan masygul.