Aku Cukup Menulis Puisi, Masihkah Kau Bersedih - 4
ada cara yang aneh untuk mengabaikan musim panas mula-mula aku akan mencatat musim dingin di tembok rumah, kata-kata berantakan seperti daun-daun rebah di tanah sebuah tubuh yang tak mengenakan selimut saat tidur semalam hanya beriman pada lapisan lemaknya sendiri demi bahasa apa saja, aku melihat salju sebesar butiran jagung labangka turun dari matahari agaknya hal yang tak masuk akal sudah makanan sehari-hari

mangga-mangga yang biasa baru mulai berbunga sudah menyasar pasar-pasar tak ada yang menjual kalimat penghangat aku mencintaimu atau aku merindukanmu adalah usang aku tak sadar, setiap tinta yang terbuang dalam catatan musim dingin yang panjang lebih berharga dari segala uang mengenang lagi kegersangan demi kegersangan yang menyerang hati dan bangsa kiranya dengan mudah akan menghilang bila kristal-kristal es di udara mulai berani mengepung kota aku tak tahu apakah suatu hari aku dapat terkepung dan tak mampu berlari tinta yang tersisa tinggal di ujung pena

sebuah titik atau koma untuk menghitamkan pilihan

ini sungguh cara yang aneh untuk mengabaikan musim panas - pohon-pohon yang meranggas

sudah tumbuh dari zaman es