MEMORIA - 4
Gemuruh sepi tak lagi mengantarkan

sajak-sajak cintaku padamu,

sebagaimana diamnya guntur

tak lagi tumbuhkan tunas-tunas hujan.

Panasnya api tak sanggup wujudkan

seribu ingin yang buat lebur besi-besi,

yang buat arang kayu-kayu.

Aliran awan satukan lembar-lembar

gerimis yang ingin kusulam

dengan benang warna-warni dari

indah auroramu!

Hendak kuhanguskan salju ini dengan

indah musim semi jika gemuruh tak

lagi sepi. Tunggu aku hingga tanah

kikis-kikis tulang-tulangmu. Hingga

lembar-lembar air mata ini kutulisi

sajak-sajak yang tak lagi bisu

di terangnya inspirasi malam.

(Oepoi, Januari 2007)