sajak-sajak cintaku padamu,
sebagaimana diamnya guntur
tak lagi tumbuhkan tunas-tunas hujan.
Panasnya api tak sanggup wujudkan
seribu ingin yang buat lebur besi-besi,
yang buat arang kayu-kayu.
Aliran awan satukan lembar-lembar
gerimis yang ingin kusulam
dengan benang warna-warni dari
indah auroramu!
Hendak kuhanguskan salju ini dengan
indah musim semi jika gemuruh tak
lagi sepi. Tunggu aku hingga tanah
kikis-kikis tulang-tulangmu. Hingga
lembar-lembar air mata ini kutulisi
sajak-sajak yang tak lagi bisu
di terangnya inspirasi malam.
(Oepoi, Januari 2007)