Matamu
tak biasa kutemukan kau siang hari.
di bawah rindang pohonan,
musim tiba-tiba menepi
di sela-sela bulu matamu.
kemelut debu, langit cerah.
catatan basah, sebab embun semalam turun
menggenangi bait-bait tubuhmu;
kausimpan setiap halamannya di dada kirimu,
merapikannya.
kau baca, merekamnya,
setiap kejadian yang curah dari matamu.
masih adakah yang harus dibicarakan
selain kemurungan masa depan
lalu siapa telah menulisnya kemarin
ketika hujan terhenti pada sepasang matamu