Sandiwara dan Perang - 4
A. Bermula dari Komedi Stambul

Cikal bakal sandiwara modern Indonesia muncul pada dekade akhir abad ke-19, tepatnya tahun 1891. Pelopornya adalah August Mahieu, seorang Indo-Prancis yang mengadakan opera Barat dengan Bahasa Melayu . Tapi, unsur-unsur Baratnya belum banyak masuk. Saat itu, August Mahieu membentuk suatu perkumpulan sandiwara bernama Komedi Stamboel di Surabaya. Cerita-cerita yang dimainkan oleh Komedi Stamboel berkutat pada cerita-cerita tentang legenda 1001 Malam, seperti Aladin Bersama Lampoe Wasiat, Ali Baba dengan Empat Poeloeh Penjamoen, Penangkap Ikan dengan Satoe Djin, Djoela-djoeli Bintang Tiga, dan Sinbad Toekang Ikan . Komedi Stamboel mengadakan pertunjukan keliling Pulau Jawa dan secara keseluruhan pertunjukan ini sukses, terutama di Jakarta. Perlu dicatat bahwa Jakarta merupakan kota yang penuh dengan pertumbuhan kesenian baru karena di kota ini terdapat banyak suku bangsa yang memungkinkan mereka saling memengaruhi satu sama lain. Selain itu, Jakarta dijadikan sebagai sebuah kota pusat pemerintahan dan tempat berbagai perkumpulan untuk menguji pertunjukan mereka. Tidak heran jika Jakarta banyak disingggahi berbagai perkumpulan sandiwara dan kemudian tumbuhlah berbagai naskah-naskah sandiwara di sana. Sukses Komedi Stamboel ini tercapai lantaran bisa memenuhi selera publik Hindia Belanda, yang terdiri atas berbagai lapisan bangsa . Kostum pemain yang serba glamour, adanya spectacle , nyanyian, dan tarian, menjadi penekanan perkumpulan ini. Publik penggemar seni panggung suka itu semua. Pada 1906, August Mahieu yang merupakan pelopor berdirinya Komedi Stamboel meninggal di Bumi Ayu (sebuah desa kecil dekat Tegal), tetapi hal ini tidak membuat hiburan seni panggung sejenis ikut mati. Malahan sandiwara kian bertumbuhan bagai jamur di musim penghujan.

(Sumber: Pertjatoeran Doenia dan Film, No.8, Januari 1942: 36).

Perkumpulan-perkumpulan sejenis banyak berdiri di berbagai kota besar di Indonesia, terutama di Jakarta. Perkumpulan-perkumpulan itu di antaranya Komedi Opera Stamboel, Opera Permata Stamboel, Indera Ratoe, Wilhelmina, Sinar Bintang Hindia, Indera Bangsawan, dan Opera Bangsawan. Dari berbagai perkumpulan yang berdiri, sukses besar diraih oleh dua perkumpulan yang disebutkan terakhir, Indera Bangsawan dan Opera Bangsawan. Maka, pada masa ini istilah komedi bangsawan juga dikenal masyarakat untuk menyebut jenis perkumpulan-perkumpulan sandiwara serupa . Komedi bangsawan merupakan produk kebudayaan populer abad ke-19 yang muncul karena dipicu oleh kebutuhan masyarakat kota dalam mendapatkan hiburan .

Pada perkembangan selanjutnya, perkumpulan-perkumpulan baru ini mengalami berbagai perubahan, seperti isinya diselingi dengan dansa-dansa Barat yang tengah populer di zaman itu, ceritanya diperkaya dengan cerita-cerita realis yang terjadi di Jakarta, seperti Si Tjonat, Njai Dasima, dan Oie Tam Bah Sia, serta cerita-cerita dari opera Barat, seperti Hamlet, Soeatoe Saoedagar dari Venetie, dan Penganten di Sorga .

Selain itu, di Jakarta juga muncul perkumpulan sandiwara Indo-Tionghoa pertama, yaitu Soei Ban Lian yang didirikan pada 1911 oleh Teng Poei Nio. Jenis perkumpulan ini menyajikan cerita-cerita klasik Tionghoa, seperti Ong Tiauw Koen Ho Hoan, Tong Tay Tjoe Tji Keng, Ouw Peh Tjoa, Sam Pek Eng Tay, dan Sih Djin Koei. Lalu, entah latah, entah memang kebetulan, bertumbuhanlah berbagai perkumpulan sejenis di Jakarta, seperti Kim Ban Lian dan Tjin Ban Lian . Perkumpulan jenis ini sering disebut publik dengan istilah opera. Pertunjukan-pertunjukan komedi stamboel, komedi bangsawan, dan opera Tionghoa atau tjia-im ini masih dilakukan di pinggir-pinggir jalan atau lapangan terbuka, seperti di Sirine Park, Gambir Park, dan Uni Park . Oleh sebab itu, tahap ini belum dapat disebut sebagai masa sandiwara modern karena sandiwara modern yang benar-benar mengacu ke Barat adalah sandiwara yang telah mengadakan pertunjukan di sebuah gedung khusus.

Secara umum, jenis perkumpulan-perkumpulan ini memiliki ciri-ciri pertunjukan sebagai berikut: sebelum permainan dimulai, para pelaku memperkenalkan diri terlebih dahulu di hadapan penonton mengenai peran yang akan dimainkan; pembagian babak cerita dilakukan sangat longgar, ditambah adanya selingan antarbabak yang diisi dengan nyanyian dan tarian; acap kali sebuah cerita harus dimainkan selama dua atau tiga malam berturut-turut karena lambannya jalan cerita; adegan-adegan gembira atau sedih yang dialami oleh seorang tokoh diungkapkan bukan dengan dialog, tetapi melalui nyanyian .

Menurut Armijn Pane , tujuan dari pertunjukan komedi stambul, komedi bangsawan, dan opera adalah memberi hiburan kepada penonton dengan melayangkan khayalan dan melupakan kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, mereka mengambil lakon-lakon tentang kemewahan warna, yang gaib-gaib, yang aneh-aneh, dan umumnya mengambil cerita dari zaman dahulu di negeri lain, serta dongeng-dongeng atau cerita rakyat.

B. Orion dan Dardanella, Sang Pembaru

Pada 1925 terjadi pergeseran atau lebih tepatnya pembaruan oleh beberapa perkumpulan sandiwara, baik yang baru berdiri maupun yang sudah mengadakan pertunjukan di Jakarta. Perkumpulan-perkumpulan yang muncul pada masa ini merombak beberapa tradisi yang telah lazim pada zaman stambul, bangsawan, dan opera . Perombakan-perombakan tersebut menandai sejarah perkembangan naskah dan sandiwara Indonesia, yang menjadi suatu pembenihan pertama sandiwara modern dalam arti seperti yang dikenal sekarang. Sebagaimana seni sandiwara Barat abad ke-19, pada masa ini berlaku sistem bintang serta pemimpin artis perkumpulan . Sistem bintang sendiri adalah pertunjukan yang selalu menggunakan bintang terkenal agar pagelaran mendapat sambutan publik . Maka dimulailah masa sandiwara modern yang telah mendekati perkembangan sandiwara modern di Barat. Pengertian modern dalam sandiwara pada masa ini mengacu pada naskah dan adanya panggung pementasan yang dipakai sebagai tempat pertunjukan, juga mulai dikenalnya peran sutradara di dalam perkumpulan.

Perkumpulan Sandiwara Miss Riboet Orion, yang dipimpin oleh Tio Tek Djien dan didirikan pada 1925 di Jakarta, adalah salah satu pelopor perubahan dalam dunia sandiwara. Tio Tek Djien sendiri merupakan orang dari kalangan terpelajar pertama yang menekuni secara serius kesenian sandiwara modern. Sebelumnya, perkumpulan sandiwara selalu diisi oleh orang-orang yang kurang terpelajar . Miss Riboet Orion melakukan pembaruan terhadap apa yang pernah dilakukan perkumpulan-perkumpulan stambul, bangsawan, dan opera dalam pertunjukannya, salah satunya tema lakon.

Setelah masuknya seorang wartawan bernama Njoo Cheong Seng dan istrinya Fifi Young, perkumpulan ini semakin meninggalkan cerita-cerita khayalan yang pada masa stambul dan bangsawan lazim untuk dibawakan di atas pentas . Njoo Cheong Seng sendiri menjadi penulis lakon pada perkumpulan ini dan sukses menghasilkan cerita-cerita, seperti Saidjah, R.A. Soemiatie, Barisan Tengkorak, dan Singapore After Midnight. Namun sayang, usaha Orion dalam pembaruan ini tidak mendapat sambutan dari publik Jakarta. Menurut Jakob Sumardjo, hal tersebut disebabkan oleh anggapan bahwa sandiwara rakyat kota adalah sandiwara yang bersifat eskapisme , bukan sandiwara yang bersifat realisme. Publik Jakarta sudah terbiasa dengan hiburan yang disajikan oleh perkumpulan-perkumpulan stambul, bangsawan, maupun opera. Guna memenuhi selera publik, Orion kembali ke bentuk sandiwara jenis stambul yang ramai dengan musik, tarian, serta lelucon.

Selain Perkumpulan Sandiwara Miss Riboet Orion, ada satu perkumpulan lagi yang terkenal, yaitu Perkumpulan Sandiwara The Malay Opera Dardanella. Sebagaimana Miss Riboet Orion, Dardanella juga melakukan revolusi pada dunia sandiwara. Dardanella sendiri dibentuk oleh A. Piedro, seorang Rusia yang bernama asli Willy Klimanoff, di Sidoarjo pada 21 Juni 1926 . Abisin Abbas alias Andjar Asmara, seorang wartawan yang berminat pada seni panggung yang pada 1930 bergabung ke dalam perkumpulan ini, menyebutkan bahwa masa ini dianggap sebagai zaman perpindahan dari periode bangsawan kepada apa yang waktu itu dinamakan Toneel Melaju Modern dengan menghilangkan nyanyian cara opera .

Pada 1929, untuk pertama kalinya Dardanella mengadakan pertunjukan di Jakarta. Pertunjukan pertama ini diadakan di Gedung Thalia Mangga Besar. Gedung Thalia Mangga Besar memang kerap digunakan oleh perkumpulanperkumpulan sandiwara untuk mengadakan pertunjukan di Jakarta pada masa ini. Sebelumnya, Miss Riboet Orion juga telah memakai gedung ini sebagai tempat pertunjukannya. Selain gedung tersebut ada beberapa gedung yang dijadikan tempat pertunjukan, seperti Gedung Kramat Theater Senen. Hal inilah yang membedakan sandiwara pada masa ini dengan stambul, bangsawan, dan opera yang melakukan pertunjukan di lapangan terbuka.

Lakon-lakon yang dimainkan masih berupa cerita-cerita berdasarkan film-film yang sedang ramai dibicarakan orang, seperti Robin Hood, The Mask of Zorro, The Three Musketeers, The Black Pirates, The Thief of Baghdad, Roses of Yesterday, The Sheik of Arabia, Vera, dan Graaf de Monte Christo . Dardanella tersohor dengan pemain-pemainnya yang piawai memegang peranan dalam setiap pertunjukan. Para pemain ini terkenal dengan sebutan The Big Five. Anggota Perkumpulan Dardanella yang disebut The Big Five yaitu, Ferry Kock, Dja, Tan Tjeng Bok, Riboet II, dan Astaman . Dardanella adalah perkumpulan sandiwara yang mengutamakan disiplin. Segala sesuatu direncanakan terlebih dahulu sebelum pertunjukan digelar. Meskipun masih terdapat permainan secara improvisasi, tetapi telah ada seseorang yang memiliki fungsi mirip sutradara, dalam hal ini yang memainkan peranan tersebut adalah A. Piedro sendiri . Pada masa ini, fungsi yang mirip dengan sutradara tersebut dikenal dengan istilah programma meester. Segala penyelewengan di atas panggung dapat dihindari dengan adanya programma meester ini karena pemain harus mengucapkan kata-kata yang sudah disusun terlebih dulu oleh seorang programma meester.

Selain dua perkumpulan besar tersebut, terdapat beberapa perkumpulan yang juga berasal dari luar Jakarta, tetapi mengadakan pertunjukan di Jakarta. Misalnya, Padangsche Opera The Malay of Minangkabau, The Union Dalia Opera, dan Malay Opera of Malacca. Padangsche Opera berasal dari Padang, perkumpulan ini bermain pertama kali di Jakarta di Gedung Kramat Theater Senen pada tanggal 1 Oktober 1929. Perkumpulan ini didanai dan dipimpin oleh Amir, yang mempunyai gelar Marah Soelaiman. Lakon yang menjadi andalan perkumpulan ini, yaitu Melati van Agam dan Sitti Noerbaja yang diangkat dari roman karya Marah Roesli. Malay Opera of Malacca bermain di Gedung Thalia Mangga Besar Jakarta pada akhir September 1929, kemudian perkumpulan ini mengadakan perjalanan ke Teluk Bitung, dan pada November serta Desember 1929 kembali ke Jakarta . Sementara The Union Dalia Opera adalah perkumpulan yang berdiri di Deli. Pada 1 Januari 1930, perkumpulan ini mengadakan pertunjukan untuk pertama kalinya di Gedung Thalia Mangga Besar Jakarta. Anggota perkumpulan ini di antaranya Abdoel Wahid, William Ang, Ali Bey, Said Moehammad, Soekir, Moesanip, Nasroen, Miss Inten, Nancy, dan Gafoer Ambon. Pemimpin perkumpulan ini ialah Tengkoe Katan dan M. Idris Martha .

Perkumpulan-perkumpulan tersebut perlahan-lahan juga terpengaruh oleh arus pembaruan yang dicetuskan oleh Miss Riboet Orion dan Dardanella. Namun, Miss Riboet Orion dan Dardanella tetap menjadi dua perkumpulan yang paling populer dan digemari masyarakat Jakarta pada masa ini. Alasannya adalah pemain-pemainnya yang piawai, ceritaceritanya yang menarik, serta perannya sebagai pelopor pembaharu.

Pada 24 Oktober 1930, Dardanella kembali mengadakan pertunjukan di Jakarta. Pertunjukan ini diadakan di Gedung Thalia Mangga Besar. Pertunjukan kedua Dardanella ternyata kembali mendapat sambutan yang ramai dari publik Jakarta. Kembali, yang melandasi ramainya sambutan penonton adalah aksi-aksi dari The Big Five Dardanella (Dja, Tan Tjeng Bok, Astaman, Riboet II, dan Ferry Kock) . Cerita-cerita yang dipertunjukkan kali ini berbeda dengan cerita-cerita ketika pertama kali perkumpulan ini mengadakan pementasan di Jakarta. Cerita-cerita mengenai realita kehidupan di Indonesia banyak diangkat ke atas panggung, seperti Annie van Mendoet, Lilie van Tjikampek, dan De Roos van Tjikembang. Cerita-cerita ini dikenal dengan sebutan dengan Indische Roman . Pada tahun tersebut, seorang wartawan dari majalah Doenia Film bernama Andjar Asmara ikut masuk ke dalam perkumpulan ini dan meninggalkan pekerjaannya sebagai wartawan di majalah tersebut. Sebelum meninggalkan Doenia Film dan bergabung dengan Dardanella, Andjar sempat mengatakan bahwa:

Dardanella boekanlah satoe perkoempoelan stamboelan jang mengoetamakan business, tetapi berichtiar mempertinggi deradjat permainan Tooneel Melajoe, mempertinggi pandangan orang banjak terhadap kedudukan tooneel dan artis-artis boemipoetra

Andjar Asmara kemudian menjadi tangan kanan Piedro dan bertugas sebagai penulis lakon. Ia menulis beberapa naskah untuk dimainkan di atas panggung, di antaranya Dr. Samsi, Si Bongkok, Haida, Tjang, dan Perantaian 99. Piedro sendiri juga menulis Fatimma, Maha Rani, Rentjong Atjeh, dan Miss X .

Dardanella terbilang berani dalam mengambil lakonlakon dengan masalah sosial sezaman untuk dipentaskan di atas panggung karena sebelumnya usaha Miss Riboet Orion untuk mementaskan lakon yang berkarakter sama seperti ini terbukti gagal untuk meraih perhatian publik Jakarta . Ternyata rahasianya, usaha Dardanella untuk mementaskan lakon-lakon ini diimbangi dengan tetap menghadirkan selingan berupa nyanyian, tarian, musik, serta lelucon yang digemari publik. Hal ini yang menyebabkan Dardanella sukses meraih perhatian publik.

Pada 30 Oktober 1931, Dardanella kembali mengadakan pertunjukan di Jakarta. Pada tahun ini, di Jakarta terjadi persaingan untuk meraih perhatian publik antara dua perkumpulan besar, yaitu Dardanella dan Miss Riboet Orion. Memang lazim terjadi persaingan antarperkumpulan sandiwara, terutama di kota besar seperti Jakarta. Sebelum bersaing dengan Dardanella, Miss Riboet Orion juga pernah bersaing dengan Perkumpulan Sandiwara Dahlia Opera, pimpinan Tengkoe Katan dari Medan. Persaingan ini berakhir dengan kemenangan pihak Orion .

Wujud dari persaingan antara Miss Riboet Orion dan Dardanella ini adalah pecahnya perang reklame antara Miss Riboet Orion dan Dardanella. Dalam waktu dua minggu saja, dua perkumpulan ini telah menghabiskan uang tidak lebih dari f 6.000 (6.000 Gulden) untuk reklame dan propagandanya. Dardanella memajukan Dr. Samsi sebagai lakon andalan mereka, sedangkan Miss Riboet Orion dengan Gagak Solo. Dalam persaingan ini, Dardanella mengandalkan A. Piedro, Andjar Asmara, dan Tan Tjeng Bok sebagai pemimpinnya. Sedangkan Miss Riboet Orion mengandalkan Tio Tek Djien,

Njoo Cheong Seng, dan A. Boellaard van Tuijl (Tzu You dalam Sin Po, 1939: 12). Akhirnya, Miss Riboet Orion harus menyerah kepada Dardanella. Riwayat Perkumpulan Sandiwara Miss Riboet Orion berakhir pada 1934 ketika penulis naskah lakon mereka, Njoo Cheong Seng dan Fifi Young, menyeberang ke Dardanella .

Sebenarnya, persaingan Miss Riboet Orion dengan Dardanella sudah mulai terlihat ketika dua perkumpulan ini memperebutkan pengakuan nama dari salah satu pemainnya, yaitu Riboet. Dalam dua perkumpulan ini ada satu pemain yang namanya sama. Ketika itu, Dardanella yang sedang bermain di Surabaya didatangi dan dituntut oleh Tio Tek Djien, pemimpin Miss Riboet Orion, karena Dardanella mempergunakan nama Riboet juga untuk seorang pemainnya. Tio berkata kepada Piedro, Kami tidak senang Tuan mempergunakan nama yang sama, nama Riboet juga untuk pemain Tuan... kami menyampaikan gugatan, Miss Riboet hanya ada satu dan dia sekarang sedang bermain di Batavia. Akhir dari perseteruan ini adalah mengalahnya Piedro kepada Tio dan mengubah nama Riboet yang ada di Dardanella menjadi Riboet II . Dardanella menjadi semakin besar dengan hadirnya anggota-anggota baru yang punya keahlian sama baiknya dengan anggota lama, seperti Ratna Asmara, Bachtiar Effendi, Fifi Young, dan Henry L. Duarte, seorang Amerika yang dilahirkan di Guam. Dalam Dardanella juga berkumpul tiga penulis lakon ternama, seperti A. Piedro, Andjar Asmara, dan Njoo Cheong Seng. Di samping itu, perkumpulan ini diperkuat oleh permainan luar biasa dari bintang-bintang panggungnya seperti Dja, Ferry Kock, Tan Tjeng Bok, Astaman, dan Riboet II. Namun, riwayat perkumpulan ini harus berakhir juga setelah pada 1935 Piedro memutuskan untuk mengadakan perjalanan ke Siam, Burma, Sri Lanka, India, dan Tibet untuk memperkenalkan pertunjukan-pertunjukan mereka. Perjalanan ini disebut Tour dOrient. Dalam tour itu tidak dipertunjukkan tonil atau sandiwara, tetapi mementaskan tari-tarian Indonesia, seperti Serimpi, Bedoyo, Golek, Jangger, Durga, Penca Minangkabau, keroncong, Penca Sunda, nyanyian Ambon, dan tari-tarian Papua . Menurut Boen S. Oemarjati, matinya Dardanella dan perkumpulan-perkumpulan sebelum mereka sebagai institusi terutama disebabkan oleh sifatnya yang sudah terlampau melayani hasrat komersial dengan cara mengadakan perjalanan-perjalanan dari satu kota ke kota yang lainnya.

Setelah perjalanan itu, Dardanella mengalami perpecahan. Miss Dja dan A. Piedro melanjutkan perjalanan ke Eropa. Sedangkan Tan Tjeng Bok, Andjar Asmara, Ratna Asmara, Njoo Cheong Seng, Fifi Young, Ferry Kock, Dewi Mada, Bachtiar Effendi, dan Henry L. Duarte kembali ke Jawa. Kemudian Andjar Asmara dan Ratna Asmara mendirikan perkumpulan sandiwara Bolero bersama Bachtiar Effendi, Inoe Perbatasari, dan Soeska (Soetan Oemar Karim), sedangkan Njoo Cheong Seng, Fifi Young, dan Henry L. Duarte mendirikan perkumpulan sandiwara Fifi Youngs Pagoda . Tan Tjeng Bok sendiri membentuk perkumpulan sandiwara Orpheus Opera. Namun, nasib perkumpulan-perkumpulan yang mereka bentuk tidak berlangsung lama dan sering bubar tengah jalan .

Pembaruan yang dilakukan oleh dua perkumpulan sandiwara Miss Riboet Orion dan Dardanella tidak dapat dilepaskan dari besarnya peran wartawan yang masuk ke dalam perkumpulan ini. Masuknya Njoo Cheong Seng dan Andjar Asmara semakin meningkatkan kualitas lakon yang akan dimainkan. Selain itu, kepandaian seorang pemimpin, Tio Tek Djien Jr. pada Miss Riboet Orion dan A. Piedro pada Dardanella, dalam melihat perkembangan dan arus zaman membuat kedua perkumpulan ini dijadikan suatu model perkumpulan sandiwara yang lebih mengikuti selera publik dan perkembangan zaman. Mereka dapat melihat cerita-cerita yang tengah digandrungi publik dan berani meninggalkan semua lakon yang sifatnya khayalan, seperti pada zaman stambul, bangsawan, dan opera. Dalam majalah Pandji Poestaka disebutkan bahwa pada masa ini tjerita-tjerita dipetik dari kedjadian sehari-hari, toeroen dari doenia kajangan ke doenia njata, djadi tidak lagi bermain dalam doenia dewa-dewa, djin dan setan... . Bagi perkumpulan-perkumpulan sandiwara yang ada, selera penonton dijadikan ukuran baik tidaknya pertunjukan mereka. Maju mundurnya bergantung pada perhatian masyarakat, sedangkan tinggi rendah mutunya dipengaruhi oleh derajat kebudayaan masyarakat .

Secara garis besar, pembaruan yang dilakukan oleh perkumpulan Miss Riboet Orion dan Dardanella meliputi pembagian episode dan babak yang lebih ringkas dari stambul; adegan memperkenalkan diri para tokohnya sebelum bermain dihapuskan; selingan berupa nyanyian atau tarian di tengah adegan dihilangkan; sebuah lakon hanya dimainkan dalam satu malam pertunjukan; objek cerita sudah mulai berupa cerita-cerita asli dan bukan dari hikayat-hikayat lama atau cerita-cerita yang diambil dari film-film terkenal .

C. Golongan Terpelajar dan Dunia Sandiwara Sebagian besar perkumpulan sandiwara modern yang tumbuh pada masa awal ini merupakan perkumpulan sandiwara profesional, dengan ciri-ciri bekerja untuk mencari nafkah, bersifat komersial, dimainkan oleh orang-orang yang kurang terpelajar, bermain tanpa naskah, sasaran penontonnya adalah penduduk kota yang kurang terpelajar, dan bersifat budaya massa56. Akan tetapi, perkumpulan-perkumpulan amatur perlahan-lahan juga muncul di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Perkumpulan-perkumpulan amatur ini melibatkan keanggotaan para intelektual dan aktivis-aktivis pergerakan nasional yang menjamur di kota-kota besar, seperti di Jakarta. Saini KM menyebutkan bahwa satu-satunya kualitas yang membedakan perkumpulan-perkumpulan amatur dari perkumpulan-perkumpulan profesional adalah bahwa para pemain setia pada teks naskah57. Memang benar perkumpulan-perkumpulan profesional, terutama pada 1925an, sudah ada yang menggunakan naskah-naskah sandiwara untuk dipentaskan, tetapi mereka lebih banyak berimprovisasi dan bermain menurut selera mereka.

Selain perkembangan sandiwara panggung, pada 1926 juga muncul naskah sandiwara Indonesia pertama yang berjudul Bebasari karya Roestam Effendi. Sebelumnya memang ada naskah sandiwara, tetapi ditulis menggunakan Bahasa Melayu-Tionghoa, Bahasa Belanda, atau bahasa daerah sesuai dengan keadaan zaman, lingkungan, dan penulisnya, seperti naskah karya orang Belanda, F. Wiggers, karya penulis Indonesia, Mas Marco Kartodikromo, dan karya penulis Tionghoa, Kwee Tek Hoay. Naskah yang paling tua adalah naskah sandiwara karya F. Wiggers yang terbit di Jakarta pada 1901 dengan judul Lelakon Raden Beij Soerio Retno. Bahasa yang dipergunakan adalah Bahasa Melayu Rendah .

Setelah muncul naskah Bebasari karya Roestam Effendi tersebut, lahir naskah-naskah sandiwara yang bersifat sejarah romantik , seperti Ken Arok dan Ken Dedes, Kalau

Dewi Tara Soedah Berkata karangan Muhammad Jamin, Kertadjaja, Sandhjakala ning Madjapahit, Manoesia Baroe, dan naskah sandiwara berbahasa Belanda, Airlangga, dan Eenzame Garudavlucht karangan Sanoesi Pane, Loekisan Masa, DjinakDjinak Merpati, Setahoen di Bedahoeloe, dan Njai Lenggang Kantjana karangan Armijn Pane, dan Bangsatjara dan Ranggapadmi karangan Ajirabas. Mereka ini adalah orang-orang yang berasal dari golongan terpelajar dan kemudian membentuk sebuah majalah bernama Poedjangga Baroe pada 1933. Sejarah menyebut mereka sebagai Angkatan Poedjangga Baroe.

Menurut Brahim , golongan ini tidak memperlihatkan adanya kegiatan sandiwara yang bersifat keluar . Karangankarangan itu lebih terbatas pada kalangan pemuda seperti mereka saja. Naskah-naskah sandiwara ini memang berbentuk closet drama . Berbeda dengan keterangan Brahim, Ajip Rosidi menyebutkan bahwa beberapa naskah sandiwara tersebut pernah dipertunjukkan di atas panggung, biasanya pada peringatan-peringatan atau kongres-kongres. Senada dengan keterangan yang diberikan oleh Ajip Rosidi, Jakob Sumardjo menyebutkan bahwa naskah sandiwara Ken Arok dan Ken Dedes karangan Muhammad Jamin pernah dipentaskan pada 27 Oktober 1928 dalam Kongres Indonesia Muda di Jakarta; dan naskah sandiwara Sandhjakala ning Madjapahit karangan Sanoesi Pane juga dipentaskan pada 28 Oktober 1928.

Loekisan Masa dan dua naskah sandiwara Armijn Pane lainnya, yaitu Setahoen di Bedahoeloe dan Njai Lenggang Kantjana juga pernah dimainkan di Jakarta. Loekisan Masa dimainkan oleh Club Indonesia pada 13 November 1937, sedangkan Njai Lenggang Kantjana pada Januari 1939 dimainkan oleh Perguruan Rakyat, serta dibacakan oleh Soeara Moeda di Nirom Ketimoeran pada Desember 1938. Satu naskah sandiwara Armijn Pane lainnya yang berjudul Setahoen di Bedahoeloe dimainkan oleh Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) pada tahun 1938 . Perkumpulan yang mementaskan lakon ini menurut dugaan penulis bukan dari perkumpulanperkumpulan semacam Miss Riboet Orion atau Dardanella yang berorientasi bisnis (komersial), tetapi dari perkumpulan kaum terpelajar atau yang disebut sebagai perkumpulan sandiwara amatur.

Pada masa ini, kaum terpelajar yang telah sadar akan perjuangan nasional untuk membebaskan diri dari penjajahan mewujudkan perlawanannya melalui media seni sandiwara. Naskah-naskah sandiwara tadi berisi semangat antipenjajahan dan kejayaan Indonesia di masa kerajaan. Jasa naskah sandiwara kaum terpelajar ini adalah dipakainya Bahasa Indonesia sebagai dialog pertunjukan sandiwara.

Penulis tidak berhasil menemukan informasi tentang kebijakan-kebijakan yang mengatur pertunjukan sandiwara di Jakarta pada masa kolonial dan apakah pertunjukanpertunjukan sandiwara ini dikendalikan secara ketat oleh pemerintah kolonial. Namun, ada satu informasi yang perlu ditelusuri lebih mendalam, yakni tentang kebijakan dari Residen Batavia (dari April 1900 sampai Maret 1902) yang melarang pertunjukan wayang di Jakarta, dengan alasan mencegah meluasnya perjudian di kalangan orang-orang Islam . Penulis beranggapan bahwa pada masa ini tidak ada upaya pemerintah untuk mengendalikan kegiatan seni sandiwara panggung, terbukti dengan bebasnya mereka melakukan pertunjukan di Jakarta dan kota-kota lainnya.

Penonton pertunjukan sandiwara pada masa ini lebih heterogen, dalam artian tidak hanya dari kalangan Eropa, melainkan juga dari kalangan lain, seperti pribumi dan Tionghoa. Berdasarkan stratifikasi sosial, pada masa ini penonton pertunjukan sandiwara dibagi ke dalam tiga kelas, yaitu kelas atas yang diperuntukkan bagi golongan Eropa, kelas menengah bagi golongan Tionghoa, dan kelas terendah untuk golongan pribumi. Kelas terendah disebut dengan kelas kambing yang selalu dipenuhi oleh suara ribut dan bising .

D. Sandiwara Mati Suri

Pada 1937, beredar di bioskop-bioskop film Terang Boelan, yang dibintangi oleh Raden Mochtar dan Roekiah. Film tersebut adalah produksi ANIF (Nederlandsch Indie Film Syndicaat), dengan Albert Balink sebagai sutradaranya. Terang Boelan merupakan film hasil adaptasi dari The Jungle Princess yang dibintangi oleh Dorothy Lamour. Film ini beredar di Jakarta pada 1936 . Sebentar diputar di bioskop, film Terang Boelan lantas mencatat sukses yang luar biasa. Sukses diraih oleh film Terang Boelan karena komposisi sistem bintangnya dan adegan-adegan yang disukai publik pada masa itu. Adegan seperti nyanyian, lelucon atau lawak, perkelahian, dan keajaiban atau fantasi, adalah yang paling banyak disukai oleh publik .

Pada 1940, pemilik perusahaan film menarik dua pelajaran dari kesuksesan film ini. Menurut Taufik Abdullah (1993: 165), dua pelajaran itu adalah: pertama, usaha pembuatan film bukan saja merupakan bisnis yang mewujud, tetapi juga menjanjikan keuntungan yang fantastik; kedua, resep yang merupakan unsur penentu adalah yang ditarik dari panggung sandiwara (tonil). Setelah sukses film Terang Boelan, dimulailah hijrah besar-besaran pemain sandiwara ke dunia film. Bintang dalam film Terang Boelan, yakni Roekiah sendiri juga merupakan orang dari kalangan panggung sandiwara, bahkan ia dilahirkan di tengah pengembaraan rombongan komedi bangsawan orangtuanya. Pertama, ia masuk dalam perkumpulan sandiwara Palestina. Setelah itu ikut dengan Kartolo, suaminya, masuk ke dalam Faroka Opera, dan terakhir membentuk perkumpulan sandiwara Terang Boelan Troep setelah menyelesaikan film Terang Boelan. Karena kesuksesan film Terang Boelan ini, karirnya melejit dan kemudian dikontrak oleh Tans Film sampai Jepang masuk ke Indonesia pada 1942 .

Sebenarnya, sebelum terjadi hijrah besar-besaran orang panggung ke dunia film, telah terjadi perhubungan ataupun persaingan antara sandiwara dan film di Jakarta. Setelah sukses pembuatan film Loetoeng Kasaroeng (1926) yang merupakan film cerita pertama di Indonesia, Tio Tek Djien, pemimpin Perkumpulan Miss Riboet Orion, berkeinginan membuat film dengan Miss Riboet sebagai bintangnya. Perusahaan yang didirikan oleh Tio Tek Djien bernama Miss Riboet Film Syndicaat. Kemudian Tio mendatangkan Wong bersaudara dari Shanghai Cina untuk mewujudkan ambisinya tersebut. Tapi, akhirnya sejarah tidak mencatat Miss Riboet sebagai bintang film. Menurut Salim Said, hal ini disebabkan karena hasil test kamera atas bintang panggung ini tidak memuaskan suaminya . Memang di tahun-tahun awal pembuatan film cerita Indonesia tersebut, perkumpulan-perkumpulan sandiwara sedang mengalami masa keemasannya. Sebaliknya, industri film cerita Indonesia baru dimulai dan masih dalam

tahap mencari bentuk. Itu sebabnya, Tio sangat berambisi membuat film.

Ada tiga golongan yang menjadi target bisnis untuk meraih keuntungan perusahaan-perusahaan film di Jakarta pada masa ini, yaitu golongan Tionghoa, Eropa, dan pribumi. Golongan yang terbanyak tentu saja golongan pribumi, tetapi golongan pribumi pada masa ini lebih tertarik menonton pertunjukan sandiwara daripada film. Untuk menyiasati hal ini, perusahaan film mengangkat cerita yang sudah terkenal di atas panggung tonil atau sandiwara. Tans Film adalah salah satu perusahaan yang mengambil peluang ini. Guna mencapai target penonton pribumi sebanyak-banyaknya, Tans Film menggunakan cerita-cerita dari panggung sandiwara, seperti Njai Dasima, Si Ronda, dan Melati van Agam . Njai Dasima telah beberapa kali dimainkan oleh perkumpulan-perkumpulan sandiwara pada masa bangsawan, stambul, dan opera. Njai Dasima adalah tragedi kisah nyata yang terjadi di Jakarta pada tahun 1813-1820an. Tragedi ini selalu menyedot pengunjung kalau disajikan oleh perkumpulan sandiwara. Resep ini terbukti jitu dan dibanjiri penonton pada pertunjukan perdananya bulan November 1929 di Jakarta. Ini merupakan wujud dari perhubungan film dan sandiwara di Jakarta. Pada masa film bisu, kedudukan hiburan pertunjukan sandiwara masih menarik perhatian penonton pribumi saat itu, maka yang terutama menonton film adalah orang-orang keturunan Tionghoa. Itulah sebabnya film bisu yang paling digemari adalah yang menggunakan cerita Tionghoa, seperti Resia Boroboedoer atau cerita Melayu Tionghoa, seperti Si Tjonat, Si Ronda, atau Setangan Berloemoeran Darah . Untuk menyiasati persaingan dengan film, maka pemimpin perkumpulan sandiwara memasukkan unsur tari-tarian di atas panggung, diselingi dengan nyanyian dari para biduan yang dengan gerak-gerik tubuh dan lirikan matanya dapat menggiurkan hati penonton . Resep yang nakal ini terbukti ampuh untuk meraih publik, sehingga gedung panggung pertunjukan ramai dikunjungi penonton.

Kembali pada masalah hijrahnya pemain sandiwara ke dunia film yang terjadi pascasukses film Terang Boelan tahun 1937. Dominasi orang-orang dari dunia sandiwara sangat terasa pada masa ini, terlihat baik pada struktur cerita maupun cara bermainnya. Di antara bekas anggota perkumpulan sandiwara yang hijrah ke dunia film adalah Dewi Mada, Ferry Kock, Andjar Asmara, Ratna Asmara, Fifi Young, Njoo Cheong Seng, Tan Tjeng Bok, Astaman, Raden Ismail, R. Ariffien, Soeska, dan Inoe Perbatasari . Sebagian besar merupakan mantan anggota Dardanella.

Setelah itu, secara berangsur-angsur kegiatan sandiwara sepi. Akhirnya pelan-pelan mengalami mati suri. Pada 1940-an, di Jakarta saja ada tujuh perusahaan film yang aktif berproduksi hingga menjelang kedatangan Jepang, yaitu Java Industrial Film, Tans Film, Populars Film, Oriental Film, Union Film, Star Film, dan Standard Film . Perusahaan-perusahaan ini mengambil orang-orang dari kalangan dunia sandiwara yang telah berpengalaman dan dikenal masyarakat.

The Teng Chun, pemilik perusahaan Java Industrial Film pada 1940 mengambil Ferry Kock dan istrinya, Dewi Mada, untuk dijadikan bintang dalam film-film produksinya. Keduanya merupakan mantan anggota Dardanella.

Sebelumnya, Andjar Asmara dan Ratna Asmara sudah terlebih dulu masuk ke dalam perusahaan ini. Perusahaan milik The Teng Chun ini kian besar setelah beberapa mantan anggota Dardanella dan Bolero masuk ke dalamnya. Mereka yang masuk ke dalam Java Industrial Film pimpinan The Teng Chun antara lain Astaman, Ali Yugo, M. Rasjid Manggis, dan Tan Tjeng Bok (Dardanella), Inoe Perbatasari (Bolero), serta beberapa pemain seperti Raden Ismail, Ludi Mara, dan Aisyah. Semua mantan pemain sandiwara ini masuk atas imbauan dari Andjar Asmara . Besar kemungkinan, The Teng Chun memakai mantan anggota Dardanella karena perkumpulan ini adalah perkumpulan besar pada dekade 1926-1935 dan pemain-pemainnya sudah dikenal masyarakat, begitu pula aksi-aksi mereka di atas panggung yang telah teruji dengan baik.

Perusahaan milik The Teng Chun ini juga memiliki dua anak perusahaan, yaitu Jacatra Film dan Action Film. Java Industrial Film berubah menjadi New Java Industrial Film ketika membentuk anak perusahaan tadi. Antara tahun 1940 sampai akhir 1941, perusahaan ini menghasilkan 15 film, yaitu Rentjong Atjeh, Dasima, Melatie van Agam, Sorga Palsoe, Matoela,

Serigala Item, Matjan Berbisik, Si Gomar, Singa Laoet, Kartinah, Elang Darat, Ratna Moetoe Manikam , Poetri Rimba, Tengkorak Hidoep, dan Noesa Penida .

Dalam perusahaan The Teng Chun ini, orang-orang bekas anggota perkumpulan sandiwara yang ditarik ke perusahaannya hampir seluruhnya mengambil peranan penting. Misalnya saja, Andjar Asmara memegang bagian publikasi untuk film-film produksi perusahaan ini, seperti film Rentjong Atjeh, dan sebagai sutradara dalam film Kartinah dan film Noesa Penida. Rentjong Atjeh adalah hasil karangan dari Ferry Kock. Ferry Kock dan Dewi Mada juga bermain dalam film ini, sekaligus turut ambil bagian untuk menyanyikan beberapa lagu di dalamnya. Selain itu, Ferry Kock dan Dewi Mada juga bermain dalam film Matoela. Inoe Perbatasari dipercaya untuk menangani film-film produksi Jacatra Film, yaitu sebagai sutradara dalam film Elang Darat dan film Poetri Rimba, serta sebagai pemain dalam film Kartinah dan film Ratna Moetoe Manikam. Ali Yugo mengambil tempat sebagai pemain dalam film Kartinah, Elang Darat, Noesa Penida, dan Ratna Moetoe Manikam. Astaman menjadi pemain dalam film Elang Darat, Noesa Penida, dan Ratna Moetoe Manikam. Ratna Asmara membintangi film Kartinah, Noesa Penida, dan Ratna Moetoe Manikam. Tan Tjeng Bok menjadi bintang dalam film Si Gomar, Singa Laoet, Srigala Item, dan Tengkorak Hidoep. M. Rasjid Manggis menjadi pemain dalam film Kartinah . The Teng Chun mengemukakan pendapatnya bahwa masuknya orang-orang panggung ke dunia film memberi banyak pemikiran baru mengenai publikasi, wawasan yang luas, serta pandangan yang maju mengenai segi hiburan, antara lain berkat pengalaman mereka pergi keliling Indonesia sampai ke luar negeri83.

Perusahaan film lain yang memanfaatkan orang-orang panggung untuk menjalankan roda usahanya adalah Oriental Film yang beralamat di Matraman Weg No. 42. Perusahaan yang dipimpin oleh Tan Hock Siong ini memakai Njoo Cheong Seng dan Fifi Young, yang merupakan mantan anggota Miss Riboet Orion, Dardanella, dan Fifis Young Pagoda, sebagai modal untuk mengangkat film hasil produksinya . Njoo Cheong Seng, yang terkenal sebagai penulis naskah lakon saat di Orion dan Dardanella, mempunyai peranan penting dalam membuat cerita-cerita untuk difilmkan pada perusahaan ini. Njoo Cheong Seng mengarang cerita untuk film Kris Mataram, yang pertunjukan perdananya diadakan di Bioskop Rex Jakarta pada 20 Juni 1940, kemudian film Zoebaida dan film Pantjawarna . Seluruh film ini disutradarai oleh dirinya sendiri, sedangkan yang menjadi bintang dalam film-filmnya tersebut adalah Fifi Young. Pada 1941, Njoo Cheong Seng dan istrinya, Fifi Young, meninggalkan Oriental Film dan pindah ke Majestic Film di Malang.

Union Film berdiri pada awal tahun 1940. Studionya terletak di Mangga Besar Jakarta. Pemimpin perusahaan ini adalah Tjoa Ma Tjoen, sedangkan pemilik modalnya adalah Ang Hok Liem. Tokoh dari panggung sandiwara yang masuk dalam perusahaan ini adalah R. Ariffien yang pada tahun 1936 ikut dalam Bolero pimpinan Andjar Asmara dan ketika masa pendudukan Jepang menjadi salah satu pemimpin Sekolah Tonil. R. Ariffien menjadi sutradara sekaligus pengarang cerita film Asmara Moerni yang dibintangi oleh Dr. AK. Gani, seorang tokoh pergerakan nasional saat itu. Kemudian R. Ariffien menjadi sutradara film Wanita dan Satria . Setelah menyelesaikan kedua film tersebut, R. Ariffien pindah ke perusahaan Star Film dan menjadi penulis cerita film Tjioeng Wanara yang merupakan film kolosal pertama di Indonesia. Guna meningkatkan kualitas filmnya, Standard Film mengambil Henry L. Duarte, bekas anggota Fifi Youngs Pagoda. Standard Film berkantor di Jati Petamburan, dengan pemiliknya bernama Touw Ting Iem. Henry L. Duarte dipercaya sebagai sutradara dalam perusahaan ini dan menyelesaikan pembuatan film Selendang Delima . Perusahaan ini juga

mengeluarkan film Sitti Noerbaja yang diangkat dari sebuah roman terkenal karangan Marah Roesli.

Di tengah maraknya produksi film, pada 1940 dan 1941, terbit dua buah buku naskah sandiwara, yaitu Pembalasannja karangan Saadah Alim dan Gadis Modern karangan Adlin Affandi. Keduanya terbitan Balai Poestaka . Sayangnya, kegiatan sandiwara pada periode ini tetap mandek, walaupun tercipta beberapa naskah sandiwara dari kaum terpelajar tersebut. Tampaknya orang-orang panggung sudah nyaman berada di layar lebar ketimbang di panggung.

Andjar Asmara sempat melontarkan kekecewaannya terhadap kegiatan sandiwara yang semakin sepi karena perkembangan industri film, sebagai berikut:

... Hampir setiap studio di Batawood terdapat bekas artisten dari Dardanella yang terkenal [...] keadaan pada komidi jang berdiri di bawah pimpinannja Pak Moesa jang dikenal tiap-tiap orang jang berhoeboengan dengan tooneel dan film ini adalah begitoe roepa sehingga dalam waktoe jang achir ini sebagian besar dari pemainpemainnja telah bergadji, boelanan pada berbagai-bagai studio [...] kalau dipandang sepintas laloe keadaan ini loemrah sadja dan tidaklah akan mengherankan, kalau ditilik kemadjoeannja film Indonesia dalam waktoe jang achir ini, dengan bertambahnja djoemlah studio dan selama studio-studio masih memboetoehkan tenagatenaga jang mempoenjai pengalaman ditooneel [...] amat sajang tooneel Indonesia roepa-roepanja terbengkalai hidoepnja...

Jelas sekali, alasan pemain-pemain sandiwara pindah ke film adalah mereka mendapatkan pendapatan yang lebih besar dan tetap dari film, di samping faktor menjamurnya studio film yang muncul di Jakarta.

Dapat disimpulkan bahwa kegiatan sandiwara mengalami mati suri pada akhir masa kolonial ini. Bioskop-bioskop di Jakarta dipenuhi oleh penonton-penonton setia sandiwara, sedangkan panggung sandiwara tidak ada aktivitas sama sekali. Pada masa kolonial, tujuan dari perkumpulanperkumpulan sandiwara yang berdiri dan mengadakan pertunjukan di Jakarta tidak lain untuk meraih keuntungan dan hiburan semata.

Jakarta berhasil dikuasai oleh bala tentara Jepang pada 5 Maret 1942. Pada 8 Maret 1942, Jepang merebut seluruh Hindia Belanda dari Belanda. Peralihan kekuasaan atas Indonesia ini turut membawa pengaruh yang besar pada kegiatan sandiwara di Jakarta. Sandiwara dijadikan salah satu sarana propaganda pemerintah militer Jepang untuk mengobarkan semangat perang dan mendukung cita-cita kehidupan bersama di Asia Timur Raya. Seni sandiwara yang pada masa kolonial berfungsi sebagai hiburan, berubah menjadi sarana propaganda politik.