Aku Cukup Menulis Puisi, Masihkah Kau Bersedih - 40
tak ada yang merasa bersalah meski pasir tak juga pernah mampir

di benakmu

garis pantai yang panjang mengundang matahari terbit lebih cepat lima menit

dari sajak terakhir yang luput dibacakan

aku tak sudi, menapaki jejak seseorang yang tercetak samar

di pecahan karang itu

sambil membaca arah angin yang selalu ingin kembali

ke dalam pelukan

kau, setelah ini, pastilah akan berangkat

menyusulku ke ai loang berkata dengan gamblang, cinta

adalah tentang ingat cara pulang

aku tak yakin, di waktu mana, seperti apa rumah akan menjadi menarik seperti membaca secarik surat pertama itu