MEMORIA - 40
Jika kata adalah nadi yang mendengung,

maka di jantungmu ingin kutancapkan

secarik badik. Agar puisimu tetap menjadi

api yang menghanguskan. Lalu aku akan

berdiam dan mengitarinya dalam samadi

bersama doa yang paling agung.

Menyusuri bait-bait dalam puisimu,

kususupi abjad demi abjad. Jantungmu

terus mendenyutkan roh pada setiap larik.

Liang di jantungmu meneteskan darah:

darahmu, puisi yang mengentalkan merah.

Berapa kali lagi harus kutancapkan badik

Detakmu terus menggemuruh dalam doaku,

sebab badik yang kutancap adalah harapan.

Seharum rekah pelangi dari sela hujan,

puisimu semerbak hingga paru-paruku.

Maka terimalah setangkai puisi ini, Penyair,

sebagai pengantar doaku yang telah mengalir!

(Naimata, Desember 2009)