maka di jantungmu ingin kutancapkan
secarik badik. Agar puisimu tetap menjadi
api yang menghanguskan. Lalu aku akan
berdiam dan mengitarinya dalam samadi
bersama doa yang paling agung.
Menyusuri bait-bait dalam puisimu,
kususupi abjad demi abjad. Jantungmu
terus mendenyutkan roh pada setiap larik.
Liang di jantungmu meneteskan darah:
darahmu, puisi yang mengentalkan merah.
Berapa kali lagi harus kutancapkan badik
Detakmu terus menggemuruh dalam doaku,
sebab badik yang kutancap adalah harapan.
Seharum rekah pelangi dari sela hujan,
puisimu semerbak hingga paru-paruku.
Maka terimalah setangkai puisi ini, Penyair,
sebagai pengantar doaku yang telah mengalir!
(Naimata, Desember 2009)