Kisah seorang pemuda bernama Abdullah di zaman khalifah Umar bin Khathab. Abdullah seorang miskin, dan tinggal bersama ibunya yang telah menjanda. Pekerjaan Abdullah adalah menggembala domba dan unta milik majikannya. Pada awal dia bekerja, Abdullah memperlihatkan kinerja yang bagus, sehingga majikannya pun merasa senang.
Namun, rupanya, lama-kelamaan Abdullah teledor juga. Dia tertidur. Sementara gembalaannya lari memakan tanaman yang merupakan satu-satunya penghidupan dari seorang petani pemilik tanaman tersebut.
Sore itu, petani pemilik tanaman datang ke ladang untuk melihat tanamannya. Betapa terkejutnya dia. Tanaman yang dia punya nyaris
116
habis dimakan domba dan unta. Petani itu pun menjadi marah. Diambilnya pedang dan ditebasnya unta dan domba tersebut hingga mati.
Pada waktu sama, setelah nyenyak tidurnya, Abdullah pun bangun. Dia yakin hewan gembalaannya telah kenyang. Tetapi, betapa terkejutnya ketika dia mendapati gembalaannya mati dengan darah membanjir. Dia bingung bagaimana mempertanggungjawabkannya kepada majikan.
Tak jauh dari sana, Abdullah melihat seorang petani dan ditanyailah dia, Pak, tahukah siapa yang telah membunuh unta dan domba saya
Petani tersebut menjawab, Oh, rupanya engkau pemilik hewan-hewan ini Kebetulan, saya minta tanggung jawabnya karena tanaman saya habis dimakannya.
Akhirnya mereka berkelahi dan petani itu pun tewas di tangan Abdullah.
Tak berselang lama, dua laki-laki anak petani pun datang. Sungguh terkejut karena mereka mendapati ayahnya telah tewas di tangan Abdullah. Seketika si anak yang muda menempeleng Abdullah dan terjadilah perkelahian. Namun, sang kakak berhasil melerainya. Dia mengajaknya untuk membawa persoalan itu kepada pemimpin mereka.
Akhirnya mereka mengadukan hal itu kepada Khalifah Umar. Saat itu, Umar mempunyai menteri yang sangat bijak, yakni Abdurrahman bin Auf. Singkat cerita, dalam persidangan, Abdullah dinyatakan bersalah dan diganjar dengan hukuman gantung.
Abdullah ikhlas menerima hukuman tersebut. Dia pun bersiap digantung. Namun, ketika hendak digantung, kakak beradik anak petani berunding.
Kata sang kakak, Dik, ayah kita sudah meninggal. Kalau pun orang ini digantung, itu tidak akan mengubah keadaan. Ayah kita tidak akan hidup kembali. Bagaimana kalau orang ini kita maafkan saja
Ibadah Itu Gampang
Ajakan sang kakak ini rupanya disambut baik oleh sang adiknya.
Akhirnya Umar mengumumkan kalau gugatan untuk Abdullah sudah dicabut dan kakak beradik anak petani tersebut sudah memaafkan Abdullah. Ketiganya pun berpelukan dengan penuh rasa haru.
117
Memaafkan merupakan perbuatan yang sangat mulia. Memaafkan memamg tidak mengubah masa lalu namun akan mempermudah masa depan.
Kini saatnya untuk saling memaafkan setelah sebulan penuh berpuasa.
Inilah saatnya menyambung kembali tali silaturahmi yang lebih baik.
Selamat menyambut Hari Raya Idul Fitri 1435 H. Mohon maaf lahir dan batin.
26 Juli 2014