Aku Cukup Menulis Puisi, Masihkah Kau Bersedih - 41
kau akan menampar lebah yang dikirim munaseli itu

tanpa ketakutan akan kepunahan

tapi telunjukmu yang terantup mendadak tak dapat mengarah

ke dadaku atau ke dadamu sendiri

tak kumengerti kemudian, kenapa aku ikut serta mengawang-awang seperti burung layang-layang

mencari tengkorak abui

perjalanan kita ini tak akan berakhir semenyakitkan pasir

yang selalu ditinggalkan ombak

sebelum kau kembali menampar api

yang kali ini menuju munaseli

sebelum lenyap, menjadi asap

pada itu, aku tak akan memilih di galiau mana aku menetap sambil menanti perang lain yang akan pecah, di bibirku, di mataku...