tanpa ketakutan akan kepunahan
tapi telunjukmu yang terantup mendadak tak dapat mengarah
ke dadaku atau ke dadamu sendiri
tak kumengerti kemudian, kenapa aku ikut serta mengawang-awang seperti burung layang-layang
mencari tengkorak abui
perjalanan kita ini tak akan berakhir semenyakitkan pasir
yang selalu ditinggalkan ombak
sebelum kau kembali menampar api
yang kali ini menuju munaseli
sebelum lenyap, menjadi asap
pada itu, aku tak akan memilih di galiau mana aku menetap sambil menanti perang lain yang akan pecah, di bibirku, di mataku...