Aku Cukup Menulis Puisi, Masihkah Kau Bersedih - 42
i

berdirilah, di tengah-tengah kerumunan itu, aku akan menulis maret 2012 sebagai cara mengingat

hari selamat bakda bandung lautan api

siapa tahu, kita akan bertemu di cuaca yang

menelantarkan

cinta dan berjalan, meski berdesakan

di antara ribuan orang yang bicarakan maut

lalu sepi, sambil belajar menerjemahkan bahasa lumut

tumbuhan perintis di pintu besi, dengan karat-karatkorosi

aku akan sangat gagal bila harus menjadi guru hidup hatiku yang penuh tambal bisa jadi bunga kuncup selamanya

memandangimu saja, mengawasimu saja dari lantai empat puluh, gedung pencakar tuhan kau bebas memilih terus berdiri, duduk atau teruskan pencarian

setiap langkah adalah tamasya, mengunjungi lagi masa lalu, menjelajahi dada ibu: sebuah pintu lain ke surga. sebuah cara lain ke bahagia

lalu menangislah, di bibir pantai. kau akan mulai belajar, menggarami lautan dengan air mata;

ii.

seorang perempuan dengan busur tanduk kerbau tidak mungkin menjadi seorang nabi

tapi kenabian bisa milik kita sendiri, untuk kita sendiri

tuhan yang akan menumbuhkan sepasang sayap dari tulang-tulang belikat seperti dulu tuhan

menciptakan perempuan dari tulang rusuk palsu

kau entah, akan mencari laki-laki yang kehilangan kepalsuannya, dan aku masih terus mengamati

dari lantai empat puluh, gedung pencakar tuhan

sebelum mungkin turun, lewat tangga, lift,

atau melompat, layaknya seorang penerjun

tapi tak ada parasut, tak juga ada maut

di saat itulah, aku yang akan menangis selamanya entah untuk bertanya, kenapa tuhan menciptakan bahagia