berdirilah, di tengah-tengah kerumunan itu, aku akan menulis maret 2012 sebagai cara mengingat
hari selamat bakda bandung lautan api
siapa tahu, kita akan bertemu di cuaca yang
menelantarkan
cinta dan berjalan, meski berdesakan
di antara ribuan orang yang bicarakan maut
lalu sepi, sambil belajar menerjemahkan bahasa lumut
tumbuhan perintis di pintu besi, dengan karat-karatkorosi
aku akan sangat gagal bila harus menjadi guru hidup hatiku yang penuh tambal bisa jadi bunga kuncup selamanya
memandangimu saja, mengawasimu saja dari lantai empat puluh, gedung pencakar tuhan kau bebas memilih terus berdiri, duduk atau teruskan pencarian
setiap langkah adalah tamasya, mengunjungi lagi masa lalu, menjelajahi dada ibu: sebuah pintu lain ke surga. sebuah cara lain ke bahagia
lalu menangislah, di bibir pantai. kau akan mulai belajar, menggarami lautan dengan air mata;
ii.
seorang perempuan dengan busur tanduk kerbau tidak mungkin menjadi seorang nabi
tapi kenabian bisa milik kita sendiri, untuk kita sendiri
tuhan yang akan menumbuhkan sepasang sayap dari tulang-tulang belikat seperti dulu tuhan
menciptakan perempuan dari tulang rusuk palsu
kau entah, akan mencari laki-laki yang kehilangan kepalsuannya, dan aku masih terus mengamati
dari lantai empat puluh, gedung pencakar tuhan
sebelum mungkin turun, lewat tangga, lift,
atau melompat, layaknya seorang penerjun
tapi tak ada parasut, tak juga ada maut
di saat itulah, aku yang akan menangis selamanya entah untuk bertanya, kenapa tuhan menciptakan bahagia