YANG TERUCAP YANG TERTULIS - 42
Membaca tulisan perdana anak pertama saya, Wening, semalam, pikiran saya langsung flashback ke masa lampau. Tidak hanya ketika mengantar dia ke Cikarang masuk pesantren beberapa bulan lalu. Namun lebih jauh lagi, ketika dia masih kecil.

Yah, Wening lahir tahun 1997. Saat itu, adalah masa perjuangan saya. Sering dia saya tinggal, dan rupanya, Allah berkehendak bukan Wening saja. Semua anak-anak saya sampai sekarang harus sering saya tinggal, karena tuntutan pekerjaan.

Pada 1997, saya masih giat-giatnya bekerja dan belajar. Sekarang pun masih. Dijamin itu. Mumpung tenaga masih kuat. Prinsip saya, saya pengin mengubah nasib. Tidak ada jalan lain, kecuali banyak bekerja dan belajar.

Kalau saat itu saya malas, tentu saya tidak jadi seperti sekarang ini. Saat itu, saya gencar belajar Bahasa Inggris. Sempat kursus, namun tidak lama. Selebihnya, belajar sendiri di rumah dari hasil fotokopi faksimili

122

kantor. Saat itu, belum ada email. Saya bekerja di perusahaan milik orang Singapura.

Masya Allah, dapat dua-duanya; bekerja dan belajar. Setiap kali ada faksimili masuk, saya fotokopi dan di rumah, saya coba pahami bermodal kamus. Demikian juga saat ada pembeli (buyer) datang, saya menguping dan mengamati, seperti ini yang diomongkan saat mereka meeting dan negosiasi.

Alhamdulillah. Allah mengaruniai saya tiga anak, semuanya putri. Saya tidak tahu, ketika saya tengah di luar kota meninggalkan mereka, saya begitu mudahnya menangis. Terutama ketika sedang sholat. Kalau sudah seperti itu, doa-doa selalu saya sampaikan kepada yang mengatur alam semesta.

Saya masih ingat pesan guru saya. Salah satu doa yang paling manjur adalah doa orang yang sedang safar, bepergian. Itulah kenapa, sering kalau ada teman yang akan berangkat haji atau umroh, kita menitip doa.

Kembali ke Wening. Masa kecilnya tentu jauh berbeda dengan adikadiknya sekarang ini. Masya Allah, jadi berkaca-kaca ini menulisnya.

Saat itu, kami masih tinggal di rumah kecil, di tengah kampung. Tidak seperti sekarang, di rumah mewah; mepet sawah. Eh, mewah beneran.

Pada 1997, gaji saya Rp150 ribu. Ada 1 motor Honda pinjaman dari kantor, yang pada akhirnya kelak akan jadi milik saya dengan membayar sekian ratus ribu karena perusahaan tutup. Saya sangat bersyukur kalau mengingat masa lalu.

Ketika Wening mulai tumbuh dewasa, saya memang menganjurkan dia untuk mulai belajar Al-Quran, syukur-syukur menghapalnya. Citacita besar saya, dari anak keturunan saya kelak, ada yang menghapal

123

Al-Quran. Sama seperti dulu yang saya lakukan; saya harus jadi gener asi pertama yang bisa berangkat haji. Karena, dari dulu, kakek dan nenek moyang saya belum ada yang pernah berangkat haji.

Alhamdulillah, tahun 2003, saya sudah diberi jalan kemudahan Allah, sehingga bisa pergi haji. Tiga tahun berselang, saya ajak istri dan ibu saya berangkat haji pula. Jadilah sekarang kami keluarga haji. Saya berhusnuzan, kalau orangtuanya sudah pergi haji, pastilah nanti anak dan cucu saya mempunyai motivasi sama untuk bisa pergi haji. Masa anaknya tidak pengin sama, bahkan lebih baik dari orangtuanya

Cita-cita besar itu kini bertambah menjadi keluarga yang hapal Al-Quran. Weninglah yang akan memulai proyek besar itu. Saya sangat bersyukur, di zaman seperti ini, anak saya mau mendengar dan melaksanakan apa yang menjadi cita-cita besar saya tadi. Pastilah saya tidak akan memaksa dia untuk mau.

Untuk itulah saya mulai memberi gambaran, memberi dia motivasi untuk bisa terlaksananya proyek besar ini. Saya beri dia ceramah-ceramah soal penghapal Al-Quran. Saya ajak dia ke Bandung untuk main ke pesatren Aa Gym, Daarut Tauhid.

Saya ajak juga berkunjung ke pesantren Darul Qurannya Ustad Yusuf Mansur di Bandung. Setelah itu, saatnya persiapan untuk membuat keputusan besar memulai generasi penghapal Al-Quran.

14 Januari 2015