Perdebatan lama tersebut mencoba untuk memecahkan persoalanpersoalan seperti: apa watak dasar hubungan antarnegara Siapa aktor utama dalam politik dunia apa yang harus dilakukan negaranegara
Realisme, dalam upayanya untuk menjawab pertanyaanper tanyaan ini, menekankan keutamaan negara dan keamanan nasional (Gilpin, 1987: 42). Kalangan realis, mulai dari thucy dides hingga Pangeran henry de Rohan, mulai dari Matternich hingga henry Kissinger, selalu percaya bahwa sistem in ter nasional itu anarkis, tanpa otoritas menyeluruh yang mem be rikan keamanan dan keteraturan (Zakaria, 1993). Dalam ke adaan anarkis ini, masingmasing negaraaktor utamadengan demikian harus bersandar pada dirinya sendiri untuk bertahan dan berkembang. Kepentingan negara merupakan ses uatu yang utama dan konstan; musuh dan sahabat hanya ber sifat se men tar a. akumul asi kekuasaan adalah kepentingan ob yektif nega ra.
Sebaliknya, idealisme, melihat negara sebagai pengej awantahan idealideal moral. hubungan antarnegara dengan demikian harus mencerminkan idealideal ini. Dunia sangat mungkin disempurnakan. apa yang harus dilakukan negara adalahdalam bahasa Kantianmencari landasan utama yang menjadi tumpuan di mana perdamaian terusmenerus (perpetual peace) bisa diwujudkan. Idealisme percaya bahwa, pada akhirnya, negara hanyalah serangkaian lembaga yang men yediakan mekanismemekanisme yang dibutuhkan manusia untuk mewujudkan kemanusiaan mereka (Fukuyama, 1992). Komunitas dunia dan hukum internasional diyakini oleh kaum idealis mampu mengarahkan jalannya politik dunia.
Dalam perdebatan baru di wilayah ekonomi politik tersebut, kaum merkantilis dan, sampai tingkat tertentu, kaum Marxis, bisa dianggap sebagai kaum realis dalam selubung baru. Memang, merkantilisme, tidak seperti Marxisme dan liberalisme, bukan merupakan suatu kumpulan teori ekonomi dan politik yang koheren dan sistematis. Ia (hanya) serangkaian tema atau sikap (Gilpin, 1987: 31). Meskipun demikian, kita bisa melihat bahwa terdapat beberapa gagasan utama yang pada dasarnya bisa disebut merkantilis. Inti gagasangagasan ini adalah keyakinan bahwa aktivitas ekonomi harus digunakan untuk meningkatkan kekuasaan, kekayaan, dan keamanan negara.
Bagi kaum merkantilis, hubungan internasional hanyalah sebuah tahap di mana berbagai negara atau bangsa bersaing demi mendapatkan sumberdaya untuk bertahan hidup, menjadi kaya, kuat, dan besar. Proteksionisme, misalnya, dilihat sebagai suatu alat yang sah untuk memperkuat negara. Negara harus menjual sebanyak mungkin barang ke dunia luardan pada saat yang sama ia harus mencoba semaksimal mungkin untuk me ngurangi impor. Jelas bahwa seperti kaum realis, negara bagi kaum merkantilis merupakan pemain utama: kelangsungan hidup dan kekayaannya harus menjadi perhatian utama dalam hubungannya dengan negaranegara lain. Karena itu, di sini
ANGGUR LAMA DALAM BOTOL BARU 329
kita dapat melihat bahwa merkantilisme, sebagaimana yang ditulis Gilpin, didasarkan pada doktrin realis tentang hubungan internasional (1987: 42).
Marxisme tentu saja merupakan doktrin yang lebih sistematis dan menyeluruh dibanding merkantilisme. Marxisme adalah sebuah cara pandang, sebuah teori besar, yang memuat suatu posisi filosofis yang jelas tentang hubungan bukan sajaantarnegara, melainkan juga antara manusia dan masyarakat. Selain itu, Marxisme, tidak seperti merkantilisme dan realisme politik, memiliki semacam kesulitan dalam melihat negara sebagai sebuah badan yang otonom dalam sepakterjangnya di kancah internasional. Bagi kaum Marxis, secara teoretis kelas sosial merupakan aktor utama, dan negara hanyalah alat kelas borjuis untuk mengejawantahkan kepentingannya.
Namun, setelah Lenin, Marxisme menambahkan berbagai sarana analitis yang sangat kuat pada tradisi intelektualnya, yakni teori imperialisme dan negara. Di sini perdagangan internasional dilihat hanya sebagai tahap di mana negaranegara kapitalis bersaing untuk memperluas pasar dan me nak lukkan pemainpemain yang kurang kuat (heilbroner, 1986). Perdagang an internasional pada dasarnya merupakan kancah yang penuh tipu muslihat di mana kekuasaan adalah matauang yang sebenarnya. Pertempuran kelas di dalam negeri di ubah menjadi pertempuran internasional di antara berbagai negara demi mendapatkan kekuasaan dan kekayaan: negara (kapitalis), dan bukan nya kelaskelas sosial, telah menjadi pemain utama dan unit analisis. Dengan demikian, di sini kita bisa berkata bahwa kaum MarxisLeninis, seperti kaum mer kantilis, me ne rima doktrin lama kaum realis.
Liberalisme, tidak seperti merkantilisme dan Marxisme, datang dari arah yang berbeda. Sebuah sebuah doktrin humanistik, liberalisme percaya bahwa manusia itu rasional: mereka tahu apa yang baik bagi diri mereka sendiri. Sebagai sebuah doktrin ekonomi, ia percaya bahwa pasar, jika dibiarkan bebas, akan menguntungkan semua pihak. Mulai dari Smith, hayek, hingga Friedman, kaum liberal percaya bahwa perdagangan bebas merupakan satusatunya jalan bagi dunia untuk me ningkatkan kekayaannya. Sebagaimana yang dikemukakan hayek (1988: 3845), pasar, melalui mekanisme harga yang rasional, tahu bagaimana mengalokasikan sumberdayasumberdaya yang langkadengancarayangpalingefisien.Negaradilihatsebagaikeburukan yang diperlukan. Negara akan membahayakan kepentingan semua pihak jika ia mencoba untuk mengatur pasar terlalu jauh. Bagi kaum liberal, aktoraktor utama dalam perdagangan internasional bukan negara melainkan para produsen dan konsumen.
Seperti idealisme politik dalam politik internasional, liberalisme didasarkan pada beberapa asumsi moral, yang mengatasi dunia praktis atau riil, dan yang, sebagaimana dikemukkan Gilpin (1987: 27), tidak bisa diverifikasi secara empiris. Bagikaum liberal, rasionalitas manusia mengandaikan bahwa manusia tahu bagaimana memaksimalkan keuntungan mereka, dan bagaimana membuat keputusankeputusan yang baikapa yang diperlukan manusia adalah suatu keadaan yang damai dan masuk akal untuk mengejawantahkan kemampuan alamiah ini. Seperti kaum idealis, kaum liberal juga percaya bahwa lembagalembaga dunia seperti IMF dan Gatt mampu membantu memajukan dunia ke tingkat yang lebih kaya dan sehat.
Jadi, kita telah melihat bahwa, sampai tingkat tertentu, perbedaan antara merkantilisme dan Marxisme di satu sisi, dan liberalisme di sisi lain, mencerminkan perbedaan antara realisme dan idealisme. tampak bahwa asumsiasumsi dasar teoriteori ekonomi politik internasional tidak bergerak terlalu
ANGGUR LAMA DALAM BOTOL BARU 331
jauh dari asumsiasumsi dasar realisme dan idealisme. Dengan demikian, dalam hal ini kita bisa berkata bahwa perdebatan dalam kepustakaan ekonomi politik hanya mengulangi permainan lama pada lapangan permainan baru.
Meskipun demikian, tidak benar jika kita berkata bahwa perdebatan baru di wilayah ekonomi politik tersebut tidak memberi kita banyak pemahaman yang bermanfaat tentang dunia. Kita banyak belajar tentang dunia dari perdebatan yang terusmenerus terjadi di antara berbagai aliran pemikiran di bidang ini. Kaum liberal, misalnya, dalam usaha mereka untuk meyakinkan kita tentang manfaatmanfaat perdagangan bebas, memperlihatkan bagaimana di dunia baru tersebut negara menjadi semakin tidak relevan. Kenichi Ohmae (1990), misalnya, menyatakan bahwa dunia kini menjadi tidak berbatas (dalam hal keuangan dan produksi), dan karena itu sulit untuk tidak percaya bahwa kemampuan negara untuk menjalankan kebijakan telah sangat terkikis.
Di sisi lain, Marxisme memperlihatkan suatu kenyataan yang menarik bahwa, sebagaimana yang dijelaskan Giovanni arrighi (1991), ketika perdagangan internasional menjadi semakin terglobalkan, ketidaksetaraan pendapatan dunia meningkat. Para aktor (swasta) global gagal untuk memperbaiki kehidupan negaranegara miskin. arrighi memperlihatkan pada kita bahwa persoalan keadilan dan kesetaraan menjadi semakin rumit dipahami, apalagi dipecahkan, ketika kompleksitas perdagangan dunia meningkat.
Demikianlah, kita diberi berbagai pemahaman baru tentang bagaimana dunia (baru) berjalan. Perbedaan dalam asumsiasumsi dasar merkantilisme, Marxisme, dan liberalisme tentu saja tetap tidak berubah. Namun dalam usaha mereka untuk menajamkan argumenargumen mereka, kita disodori berbagai fakta, perspektif, dan nuansa baru yang memperkaya pe mahaman dan pandangan kita.