Aku Cukup Menulis Puisi, Masihkah Kau Bersedih - 43
I.

kami akan belajar menangis, tetapi tidak di dalam puisi.

II.

ia hanyalah seorang penggembira, ia berpikir pertunjukan kemanusiaan telah akan berakhir. tetapi tidak malam itu, langit masih berwarna merah. pasir-pasir beterbangan, menyerbu setiap bola mata yang masih dapat melihat. ia tidak dapat melihat apa pun kemudian, kecuali masa lalu dari dalam hatinya sendiri.

yang ia rasakan bukanlah keputusasaan. pasti akan ada hari esok. pasti akan ada hari ia kembali menari di moncong senjata, merasakan dinginnya peluru di tubuhnya. tetapi malam itu tidak dingin, seakanakan api berlahiran dari dalam manusia kecuali tubuhnya yang berkeringat dan keringat-keringat itu mengucur deras, membentuk sungai kecil menuju nil.

bisakah tidak ada peperangan. bisakah tidak ada kematian. tetapi orang-orang menyambut peperangan dan kematian dengan tertawa terbahakbahak. ia tidak dapat menahan sesak di dadanya. oh.

III. tidakkah sejarah itu ditulis dengan darah

tetapi ia hanya belajar menulis dengan tinta, menangis dengan air mata.