YANG TERUCAP YANG TERTULIS - 43
Rupanya Allah sudah mendesain sedemikan rupa jalan terwujudn ya cita-cita besar itu. Ketika Wening lulus SMP, dia meminta untuk bisa berangkat umroh bareng saya. Saat itu, saya memang ada rencana umroh bersama istri. Rupanya, istri belum siap, karena Ratu, anak bungsu saya, belum bisa ditinggal lama.

Mendengar itu, Wening mengajukan diri untuk menggantikan ibunya, pergi umroh. Masya Allah, tentu saya senang sekali. Saya yakin Wening menikmati umroh pertamanya. Dia bercerita sangat suka dengan suasana Tanah Suci, khususnya Madinah. Mungkin hal itu menjadi salah satu alasannya, bercita-cita ingin kuliah di Madinah, kelak.

Ketika Wening masuk SMA, cita-cita itu sedikit memudar. Baru ketika SMA berjalan hampir setahun, kembali ada titik terang. Penyebabnya, SMA tempat Wening sekolah, porsi pelajaran agama dan sains, njomplang (tidak berimbang).

125

Bahkan ketika itu, Wening pernah mengambil program asrama di sekolah. Hasilnya, jauh dari yang diharapkan. Pelajaran membaca dan menghapal Al-Quran minim, bahkan Tahajud pun bukan program wajib.

Akhirnya, timbullah niat untuk hengkang. Dan sekolah baru yang dituju adalah pesantrennya Ustad Yusuf Mansur khusus putri di Cikarang. Saat itu, kami mendapat info, justru salah satunya dari TV One, ketika ada live event di pesantren tersebut. Pada akhirnya, saya ajak Wening untuk melihat langsung ke lokasi dengan berkunjung ke Cikarang.

Setelah mantap, kami pun akhirnya mendaftar ke sana. Mahal memang harga yang harus dibayar atas keputusan besar ini. Waktu dan biaya. Ketika masuk SMA dan berjalan setahun, sudah banyak uang yang keluar. Belum lagi waktu.

Praktis, Wening akan menempuh pendidikan SMA-nya selama 5 tahun. Saya besarkan hatinya bahwa tidak ada yang sia-sia. Terkait waktu, jika dibandingkan dengan teman-teman seangkatan, pada akhirnya nanti akan bisa bareng finish-nya.

Secara pribadi, saya sudah ada rencana, mau saya arahkan ke mana Wening setelah lulus SMA nanti. Dia akan saya masukkan ke sekolah bisnisnya Ippho Santosa di Jakarta. Rupanya, dia malah sudah ngefans dengan Islamic University di Madinah. Masya Allah, saya sudah pasti mendukungnya. Semoga kelak tercapai. Amin.

Saya bisa merasakan betapa beratnya masa-masa awal Wening di Cikarang. Belum pernah kami berjauhan. Hampir seminggu sekali dia menelepon ke rumah. Dan pasti sambil menangis. Bahkan pada dua bulan pertama, saya dua kali mengunjunginya ke Cikarang.

Oleh para ustazahnya, saya diberi pengertian bahwa apa yang terjadi dengan Wening adalah hal lumrah. Banyak dialami oleh santri-santri yang belum pernah mondok sebelumnya. Jika nantinya sudah menyatu dengan lingkungan dan teman-temannya, semua akan baik-baik saja.

126

Namun, sebagai orangtua, saya pun harus memastikan bahwa Wening enjoy di Cikarang. Pernah ketika menelepon saya tanyakan, Koq masih menangis Kerasan ndak di sana

Dia menjawab, Kerasan.

Benar Lha kenapa kok menangis sambung saya.

Rupanya dia kangen pada semua hal yang ada di rumah. Rupanya benar, selepas dua bulan, Wening bisa menikmati lingkungan barunya di pesantren. Saya tidak mengira, rupanya dia berprestasi bagus di sana. Saya tahunya dari SMS laporan ustazah pembimbingnya yang setiap bulan melaporkan perkembangan Wening. Alhamdulillah.

Sejujurnya, apa yang dirasakan Wening sama dengan yang saya rasakan. Berat. Bagaimana tidak Itu pengalaman pertama kami sekeluarga. Bahkan saya pernah membaca Twitter-nya Ustad Yusuf Mansur, beliau juga merasakan hal yang sama ketika melepas Wirda, anak pertamanya mondok di Cikarang. Padahal, itu pondok milik beliau. Hanya saja, pondok putri ada di Cikarang, dan beliau tinggal di Tangerang.

Tapi Alhamdulillah, banyak hikmah yang saya rasakan dan petik dari semua itu. Khususnya, arti sebuah keikhlasan. Baru berpisah antara Solo dan Cikarang. Solo ke Cikarang bisa saya tempuh hanya dalam hitungan sekitar 3-4 jam saja. Bagaimana jika kelak di Madinah Lebih jauh dan mahal jika dibandingkan ke Cikarang.

Pemahaman ini saya bawa lebih jauh lagi. Bagaimana jika kelak, tidak ada yang tahu, jika Allah berkehendak memisahkan kami untuk selamalamanya Apakah juga akan berat bahkan tidak bisa menerima kenyataan itu Bukankah kita semua milik Allah dan pasti Dia akan memanggil kita semua untuk pulang

16 Januari 2015