Aku Cukup Menulis Puisi, Masihkah Kau Bersedih - 44
tak ada kalimat di langit itu. kata-kata berlarian

meminta diselamatkan

sebuah negara hancur oleh gerimis

sebuah negara meminta pembaptisan

ada yang menyerah dalam doa panjangnya dan melompat dari gedung tinggi dua kekalahan beruntun di kandang sendiri

menjadi alasan paling baik mendaki surga

siapa pun yang bersedia merangkai kata di langit sore itu

akan ditasbihkan sebagai pahlawan atau nabi

tetapi banyak yang memilih, memeluk ketakutan dan berharap menjadi awam selamanya diam dan menanti, udara tak sempat ledakkan paru aku berharap kau akan mengiris setiap debu yang terbang dan berevolusi sekawanan burung bulbul membawa batu api akan membakar kepercayaan kita

tapi tak juga ada kalimat di langit itu

kata-kata milik seseorang baru dipenggal angin

bibirku terkunci. bibirmu terlipat.