Rupanya, Wening berprestasi baik. Dia jadi santri de ngan
nilai tertinggi Bulan September dan November.
Ketika saya menjemputnya untuk liburan pada 2 Januari lalu, nama Wening dan nama saya pun terpampang besar di sebuah MMT di halaman pesantren. Alhamdulillah, kerja kerasnya selama ini membuah kan hasil.
Selama dua minggu liburan, Wening banyak saya beri nasihat untuk terus berjuang keras. Tidak banyak anak yang seberuntung dia. Punya orangtua yang mendukung penuh pencapaian cita-citanya.
Banyak anak yang mempunyai cita-cita seperti kamu, tapi karena keadaan ekonomi dan lainnya, sehingga tidak bisa terlaksana. Tugasmu hanya belajar dan belajar. Tidak ada yang lainnya. Lain zaman seperti bapak dulu. Sejak SMP, bapak sudah harus bekerja membantu orangtua.
128
Bapak ingin kamu jadi contoh yang baik untuk adik-adikmu, Ning. Kalau kamu berhasil, bapak yakin besok Imah dan Ratu akan mengikutimu. Karena sudah ada contohnya, bukan orang yang jauh. Tetapi, kakaknya sendiri.
Rupanya Wening sudah semakin paham apa yang harus dilakukannya. Selama liburan, dia terus menambah hapalannya. Khususnya, sehabis Sholat Subuh. Dari sekolah pun ada tugas untuk setoran hapalan ke orangtuanya. Pernah suatu sore sehabis Magrib, dia meminta saya menyimak hapalannya, Surat Ar-Rahman. Ya Allah, dia lancar dan enak bacaannya. Dia sekarang sedang menghapal Juz 3. Sebelumnya, dia mampu menuntaskan hapalan Juz 29, 30, 1, dan 2.
Seminggu berjalan di rumah, Wening saya beri nasihat untuk mulai belajar menulis.
Pernah terbayang ndak Ning untuk menulis buku Bapak sudah cek, belum banyak buku yang mengisahkan perjalanan seseorang yang sedang berjuang untuk jadi seorang hafizah. Coba kamu baca tulisan Mbak Fitri di webnya bapak. Coba kamu tulis seperti itu. Tulis apa saja yang kamu rasakan selama 4 bulan di pesantren. Dibuat bersambung. Setiap artikel kira-kira hanya selembar kuarto saja. Siapa tahu kamu besok keluar dari Daqu dan bersamaan itu juga, bukumu terbit. Masya
Allah itu.
Jadilah dia menulis dua artikel seperti yang terpampang di web saya. Rupanya, dua artikel tulisan Wening banyak mendapat tanggapan positif dari pembaca. Banyak teman yang mengirim komentarnya ke saya. Tulisannya polos, tapi menyentuh. Banyak yang memberikan doa, semoga perjuangan Wening akan berhasil nantinya. Amin.
Tugas dari saya untuk terus menulis rupanya terkendala, jika itu dikerjakan di pesantren. Masalahnya, di sana tidak disediakan komputer dan memang belum diperbolehkan. Tahun pertama, materi yang harus dikejar
129
adalah hapalan Al-Quran dan pidato dalam 3 bahasa (Indonesia, Arab, dan Inggris). Saya motivasi dia untuk tetap mencoba menulis dalam buku. Jika pas saya menengok ke Cikarang, tulisan itu bisa saya ambil dan saya salin di komputer.
Akhir pekan lalu, Wening harus kembali ke pesantrennya. Cepat sekali rasanya dua minggu di rumah. Dengan naik kereta, saya antar kembali dia ke Cikarang.
Ya Allah, jaga dan bimbing Wening. Mudahkan dia mewujudkan citacita besarnya. Amin.
19 Januari 2015