DARI LANGIT - 44
SEJaK 1945 ekonomi global mengalami pertumbuhan sa ngat pesat yang belum pernah terjadi dalam sejarah dunia se belum Perang Dunia II. Dari 1950 hingga 1980 saja, GNP dunia berlipat empat kali, dari uS$2 triliun menjadi sekitar uS$8 triliun (Kennedy 1993: 48). apa yang lebih mencolok adalah bahwa selama periode ini, watak ekonomi dunia telah berubah: ia menjadi terglobalkan. Dunia yang kita hidupi sekarang, dalam hal ekonomi, adalah sebuah dunia yang saling terkait satu sama lain, sebuah dunia tanpa batas.

Membuat dan menjual satu produk sekarang merup akan kerja bareng banyak negara. Menjadi semakin umum bah wa sebuah produk, misalnya, dibuat oleh para pekerja Ma lay sia, menggunakan teknologi Korea, ditopang oleh para in ves tor hong Kong, dan dipasarkan di Meksiko oleh sebuah perus ahaan New york. Dengan kata lain, keseluruhan proses pro duksi dan distribusi tersebut menjadi tertransnasionalisasikan.

Dalam keadaan seperti ini, sebagaimana yang dijelaskan oleh Robert Reich, tidak lagi mudah untuk berkata bahwa ada sesuatu yang disebut produk amerika yang dibuat oleh perusahaan amerika, tidak lagi mudah untuk membedakan antara [milik] kita dan mereka (1992: 39).

THE BRAvE NEW WORLD

uang, serta perusahaanperusahaan global, tidak mengenal

negara. Karena komputer dan peralatanperalatan berteknologitinggi lainnya, miliaran dollar bergerak melintasi batasbatas negara 24 jam sehari. Terutama setelah deregulasi finansialdunia yang bermula pada akhir 1970an, sebuah fenomena baru muncul: uang menjadi komoditas, sebuah tujuan pada dirinya sendiri. Pertukaran uang luar negeri (FX) sekarang ini jauh melampaui jumlah yang digunakan untuk pembelian jasa, barang, atau investasi internasional perusahaanperusahaan dunia. uang telah menciptakan, meminjam ungkapan Ohmae, sebuah kekaisaran dirinya sendiri; dengan aturanaturannya sendiri, yang seringkali tidak cocok dengan aturanaturan dan kepentingankepentingan sebuah negara tertentu. Kekaisaran baru yang tak bertanahair ini memadukan perdaganganperdagangan finansial besar di Singapura, Toronto, Stockholm,New york, dan Jakarta dalam satu pasar yang saling terkait.

Ketika perekonomian dunia menjadi semakin terin te grasikan, otoritas dan kemampuan negara berubah. Sekarang ini tidak lagi mungkin bagi sebuah pemerintahan untuk mengelola secara makro perekonomian domestiknya dan mengatur per dagangan luar negerinya tanpa memperhatikan kecenderungankecenderungan dalam, dan sifat dari, perekonomian global. Kemampuan negara untuk memberlakukan kebijakan me nu run.

Jika Bundesbank Jerman, misalnya, mengetatkan pasokan uangnya untuk meredam memanasnya perekonomian, akan ada begitu banyak dana dari luar negeri yang bisa diperoleh oleh suatu perusahaan domestik yang sehat tanpa banyak kesulitan (di Jepang saja, tabungan pribadi dan sektor korporasi menghasilkan surplus modal lebih dari uS$1 miliar setiap hari, yang tentu saja harus diinvestasikan di suatu tempat). Jika Washington memutuskan untuk memberlakukan pajak yang lebih tinggi untuk membayar utangutangnya, yang mem buat biaya relatif operasi di negara tersebut kurang meng u n tungkan, berbagai perusahaan dan modal bisa dengan mudah berpindah ke negara lain. Jika para birokrat Prancis berusaha untuk menghalangi impor mobil Jepang, mereka harus siap unt uk menghadapi perselisihan tajam dengan warga Eropa lain nya, Mr. Major, yang negaranya merakit 80 persen perangkat Nissan Bluebirds.

Bersamaan dengan melemahnya kemampuan negara, muncul kekuatan otoritasotoritas subnasional. Karena pem erintah nasional tidak bisa mengontrol perekonomian domestik, dan karena berbagai kemungkinan besar yang dibuka oleh modal global, otoritasotoritas subnasional tersebut (misalnya, Kota London atau Negara Bagian Washington) kini memiliki peran yang semakin besar. the Research triangle di Carolina utara, serta the Route 128 di luar Boston, dan the Silicon Valley di California muncul sebagai aktoraktor penting, yang men cari modal di luar negara tersebut dengan menggunakan daya tarik dan akses bisnis mereka sendiri. 50 negara bagian di ame rika Serikat, seperti yang dikemukakan Pollins, telah mening katkan programprogram mereka demi untuk berpartisipasi secara aktif dalam gelanggang perekonomian inter nasional (1993: 26).

Jadi, dalam perekonomian global kita sekarang, bukan hanya kemampuan negara nasional yang menurun, namun pada saat yang bersamaan juga muncul lebih banyak pemain dari tingkat subnasional yang berusaha menjalankan bisnis dengan cara mereka sendiri. Dengan demikian, apakah kita sekarang ini harus berkata bahwa negara telah menjadi usang apakah negara, yang diambil kontrolnya atas kemampuannya yang per

THE BRAvE NEW WORLD

nah ia miliki, ditakdirkan oleh perekonomian global untuk hanya menjadi pemain kelasdua

tidak ada jawaban yang mudah atas pertanyaanpertanyaan itu. Paul Kennedy, Robert Gilpin, dan Lester thurow misalnya, menjelaskan bahwa negara nasional sebagai kekuatan dominan di dunia tidak akan berubah dalam jangka pendek. Negara, sebagaimana yang dikatakan Kennedy, tetap merupakan lokus utama identitas dari sebagian besar orang: terlepas dari siapa majikan mereka dan apa pekerjaan mereka, individuindividu membayar pajak kepada negara, dan bisa melakukan perjalanan hanya jika mendapatkan paspor darinya (1993: 134). Bagi Gilpin dan thurow, terdapat beberapa persoalan duniamisalnya,stabilitaspertukaranfinansialdunia(Gilpin1987),danpenanganan persoalanpersoalan lingkungan dunia, serta persaingan ekonomi global (thurow1992)yang hanya bisa dipecahkan oleh negara nasional. Jadi, meskipun kemampuannya terkurangi oleh perekonomian global, negara samasekali tidak musnah. Ia masih merupakan pemain kelassatu.

Sulit untuk menyangkal argumen tersebut. Posisi terbaik yang bisa kita ambil mungkin adalah posisi moderat: negara masih merupakan kekuatan yang sangat kuat, namun ia sekarang harus membagi kekuasaannya dengan pemainpemain lain (mi salnya, otoritasotoritas subnasional, kekaisaran FX yang tak bertanahair, perusahaanperusahaan global) yang munc ul selama dua dekade terakhir. Dengan kata lain, dunia yang tak berbatas tersebut adalah sebuah dunia poliarkis di man a ke kuasa an tersebar, meskipun tidak rata, di antara banyak pemain penting. Posisi moderat ini memungkinkan kita untuk melihat beberapa persoalan duniawatak serta kemungkinan peme cahan persoalanpersoalan tersebutsecara lebih jelas. Dari sudut pandang moderat kita, stabilitas hubunganhubungan moneter dunia, misalnya, tidak dapat diteguhkan hanya melalui kerjasama antarnegara. Kepentingan, dan juga reaksi, para aktor nonnegara tersebut juga harus diperhatikan. hal ini ber arti bahwa jika hubungan yendollar hendak distabilkan, tin dakan apapun dari Washington atau tokyo akan tidak ada gu nanya jika hal itu dilakukan tanpa melihat apa yang terjadi, atau akan terjadi, di Wall Street New york atau di pusatpusat perusahaan global di San Francisco, Frankfurt, dan Seoul.