Aku Cukup Menulis Puisi, Masihkah Kau Bersedih - 45
menggenggam daun ruku, ingatanmu jatuh pada gedung-gedung yang terbakar itu ikan-ikan yang melarikan diri ke atas bukit batu menyiksa para nelayan di pantai labuhan tak ada lagi sisik segar yang dijajakan di pasar semua kulit menjadi tiada tahan api dan lidah yang biasa menampung kuah kuning panas mendadak lemas, kehilangan seribu kata yang meminta kembali ke dalam kamus tak ada lagi rasa asam yang segar, semua belimbing wuluh telah memakamkan diri dan memilih menjadi humus demi menumbuhkan kota lain
yang masih peduli kemanusiaan
menggenggam daun ruku, setelah menggiling halus bumbu, memasukkan air rendaman asam, mendidihkannya di atas kepalamu...
tak ada ikan yang kembali ke lautan
bulan di langit teramat kesepian;
kau pasti tak akan melupakan 22 januari itu seperti tak dapat pula kau lupakan aku