SEMBANG TEPI JALAN - 45
Menyusuri jalan-jalan suram...melewati batas-batas waktu..aku terhukum akan keindahan suria subuh yang memancarkan wajahmu tatkala kau datang menjenguk. Engkaulah bulan yang singgah diam dalam barin ini walau tuk seketika cuma, aku tak tau dimana kau tapi selagi ada angin, api, tanah dan air...engkau akan tetap disini menemani. Engkaulah keindahan, yang tak mampu kunafikan sebagaimana aku menghargai indah dan berharganya alam ini. Menatap keindahan pagi di waning kopi tanpa kelibatmu adalah kesedihan dalaman yang sering kunafikan atas alasan aku ini laki-laki.

Aku menangisi takdirku atas kehilanganmu, kita utnpama di jalan yang luas tebentang dan panjang, ditemani lampu-lampu jalan yang kadang rnalap tak berfungsi dan terkadang cerah, dan engkau tak sanggup untuk melewati saat lampu jalan malap, ada murung, takut dan sangsi di wajahmu. Engkau bukan aku, dan aku bukan kamu. Dan aku bebaskan kau bagai burung, terbanglah ke tempat asalmu, dimana ada kebahagiaan, tempat di mana kau mampu untuk senyum semula sepeti sebiasanya kau yang kukenal dulu.

Dan apabila aku mainkan lagu yang kau suka, dan apabila kau peluk tubuhku seakan tak sanggup untuk kehilangan, dan apabila aku menyanggupi untuk mendakapmu seharian, dan apabila aku seakan enggan melepaskanmu, dan apabila aku karam dalam mainan perasaan yang lantas menghukum batin, dan akhirnya aku tetap di sini, Sebiasaku. Sebiasamu.

Akan kupadamkan kenangan itu, walau tak semudah yang diinginkan.

Kerana aku menyayangimu dan atas dasar itu, kubiarkan kau di sini, berlegar- legar di fikiran, bermain tarik tali di halaman nuraniku. Dan akan aku ketawa sendirian, dan aku akan menangis sendirian.

Ah, Cinta bikin aku GILA,